29 Oktober 2012

dialektika rasa


mungkin kita sudah dilelahkan waktu untuk saling merindukan. ya, waktu. entah bagaimana, tapi kita bagai domba-domba yang digiringnya mendahului masa depan dan mendulukan kenangan. hingga pada masanya nanti jika kita bertemu aku dan kamu hanyalah sebatas situasi deja vu yang biasa. kamu hanya akan berkata "hai" dan aku hanya akan membalas "hei" lalu mata kita akan bertaut sepanjang aksara h dan i yang sama pada hai-hei yang sejenak.

Pict. from here

suatu ketika saat Richard Clayderman memainkan simfoni Mariage D'amour di dalam kamarku, nada-nadanya menemukan dirimu di sudut kepalaku yang paling dulu lalu menangis lewat telingaku. maka setelahnya kita adalah sepasang kekasih yang disatukan oleh kesedihan. sungguh pahit. kepahitan yang lebih terkecap dibanding saat kita memutuskan untuk memilih kebersamaan yang bukan antara kamu dan aku. suatu kebersamaan yang membuat kata "kita" menjadi sesuatu yang maknanya tidak spesial lagi. kita-kita yang lain.

***


sepertinya kamu juga sudah menemukan dirimu yang dulu secepat kamu kehilangan bebanmu. entah bagaimana menyebutnya. bagiku mungkin itu adalah kerelaan yang miris. atau ironi yang progresif persisten. aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama terhadapku. kamu mengironikan kecupan malam yang tidak jadi kamu miliki dan memiriskan pelukan yang lupa meninggalkan kepastian. maaf.

ternyata rasanya begini, memiliki hati yang setengah terisi. setengah sisanya hanya kata-kata yang menguap bersama ketika yang lalu. aku jadi pelit membagi cerita. merasa terlalu naif untuk meninggalkan. aku menjadi raga yang dilepaskan masa. elektron yang dilepasakan dari revolusinya. Beast yang dilepaskan dari The Beauty dan sepaket dongengnya.

jadi disini lah kita. di ujung jalan masing masing. menunggu - atau lebih tepatnya berharap pada - suatu ketika yang nanti kita tiba di simpang yang sama untuk kemudian melanjutkan kekitaan yang sebelumnya dilelahkan waktu.

***
 
suatu masa yang dulu,
ketika wajah dunia masih karib dengan waktu,

kita adalah ilusi dalam kebimbangan yang sunyi,
mengeja rindu,
menguji cinta

suatu kini yang baru,
saat waktu dan dunia memisahkan wajah,
kamu dan aku masih menembangkan sepi,
mengejar rindu,
mengajar gulana.
Read More

31 Agustus 2012

surat rindu pertama

Pict from here
1 September 2012

lagi
lagu dari radio telah membawa kamu
beserta aroma rambutmu
melayang melewati lembayung
hingga menenggelamkan aku bersama sesuatu yang dulu
kita ciptakan

kita menyebutnya kenangan

dear Kila,

entah bagaimana aku memulainya. apa kabar menjadi terlalu klise bahkan canggung untuk kita yang telah bersama selama duapuluh kemarau. tapi tetap saja aku hampir mati untuk mengetahui kabarmu. apa kabar, sayang?
seperti yang kau tahu, ini surat pertama yang aku tulis -- dan pastinya surat pertama yang kau terima jika kau sudah membacanya -- semenjak jarak benar-benar menjauhkan aku darimu, semenjak waktu menjadi terlalu naif pada saat-saat kerinduanku, mungkin juga kerinduanmu. ya, aku merindukanmu, Kila. lebih dari aku merindukan hujan yang katanya tak pernah lagi mengunjungi ladang kita. lebih dari aku merindukan atap beranda rumah kita yang bocor lalu saat hujan turun kau akan menadah ember seraya menggerutu padaku untuk segera memperbaikinya. ah, kau nampak selalu manis, bahkan saat menggerutu. tapi aku lebih merindukan dirimu daripada kenangan tentangmu.
Kila, apa kau merindukanku juga?


aku telah membungkus kota
kutitipkan bersama kata
yang kutuliskan dengan tinta kita

kau dan aku menyebutnya rindu

Kila,
apa kabarnya rumah kita? apa masih seperti dirimu? karena senyata apapun rumah kita, tetap saja tempat pulang yang aku rindukan itu adalah dirimu. rumah di sini penuh kesedihan. aromanya malang saat siang dan rona-ronanya kelam saat malam. ada begitu banyak keegoan yang  mengambang keluar dari jendela-jendelanya. kau jangan datang ke sini, ya! rumah di sini menjadi tempat yang terlalu sempit. cinta kita tidak akan muat di dalamnya. sementara, biarkan saja cinta itu terikat pada benang merah yang masing-masing ujungnya menyimpul di jari kelingking kita. tak habis pikir aku membayangkan panjangnya untaian cinta kita, melewati pekarangan kita, melewati hutan, melewati bahari, hingga ke kotaku.

eh? apa kabarnya pohon Kenanga yang kau tanam di pekarangan kita? aku rindu juga padanya. kau biasanya akan menyiraminya dengan kenangan. maka ia tumbuh menjadi masa lalu yang selalu bisa kau dan aku pandangi sambil menikmati semangkuk es serut. mesranya. di kota ini tak ada pekarangan, Kila. wajahmu akan langsung menatap keriuhan, kekeruhan, atau bahkan kerusuhan yang menggembel di tengah jalan. tak ada kehangatan mentari yang rela mengunjungi pagi di kota ini, maka pagi hanya akan menjadi subuh-subuh yang tertunda dimana pria akan lupa mengecup kekasihnya demi pekerjaan. dirumah yang aku tempati ini hanya ada sebuah pot tembikar dengan tanah kering yang cuma bisa kutanami fotomu. berharap-kalau-kalau ia bisa tumbuh menjadi sekuncup senyummu yang bisa ku kecup setiap hari.

lalu, apa kabarnya senyummu? masihkah ia menyimpul simetris seperti ketika aku menjadi alasannya? senyumanku adalah satu-satunya yang bisa kusisakan untukmu, Kila. kota ini telah mengambil semuanya. bahkan sekecup perpisahanmu di pipiku juga sepeluk perpisahan yang ku celengkan di laci lemari. ah, aku rindu mempertemukan senyum kita.

Makila Aristiana,
ah, betapa nikmatnya mengeja namamu. hal paling nikmat yang bisa kulakukan saat dahaga dijejalkan dalam pekerjaanku. sabar ya. aku pasti akan pulang. tapi mungkin tidak dalam waktu dekat.
semoga bintang-bintang selalu menjagamu.

salam sayang,
kekasihmu,

Wikara

PS: balaslah segera.
PPS: dengan ini kutitipkan sebuah lagu dalam kaset yang dinyanyikan band kesukaanku. judulnya "bertahan disana". bertahanlah, Kila.
PPPS: kirimkan aku lagi fotomu...
Read More

24 Agustus 2012

Dongeng Permohonan dari Alam Mimpi

  • Pict from here

    Kepada Gula.
    kudengar dirimu sedang sakit. sebuah hal yang biasa terjadi pada kita, manusia. namun dibalik hal yang biasa, aku tahu kau punya kebiasaan yang tidak biasa. kebiasaan itu, yang percaya atau tidak sepertinya membuatmu tidak enak badan. Bila malam bahkan telah menjadi terlalu buta, kau masih belum mau memejamkan mata. Maka setenang apapun diriku, aku tak bisa memendam kekhawatiran akan kebiasaanmu. Jangan lakukan itu, manis. Kau sedang sakit. orang sakit butuh istirahat, butuh tidur. akitvitas bukanlah pilihan yang bijak untuk siapa pun yang sedang terkulai sepertimu.

    Gula, tahukah kau apa yang terjadi pada mereka yang keras kepala dan menjadi lupa pada kewajiban mereka saat malam menggantung? lupa tidur.
    Akan kuceritakan – kudongengkan tepatnya – padamu.

    Ini adalah cerita sahabatku yang baik hati. Namanya Tuan Pengelana Mimpi. Penjaga Alam Mimpi yang diciptakan oleh Oneiroi, dewa-dewa Alam Mimpi. wujudnya seperti anak lima belas tahun dengan baju berwarna hijau bermotif Cypress yang selalu tersenyum pada manusia yang melompat ke portal Alam Mimpi. seperti sosok di film yang dulu pernah kau tonton, Peter-pan mungkin, hanya sedikit lebih besar. Ia ditugaskan untuk menemani kita, para pemimpi selama berada di Taman Bunga Matahari Cebol, sebuah taman bunga matahari setinggi lutut orang dewasa yang terhampar luas. Serupa langganan, entah bagaimana, ia akan mengingat kita satu-satu. lalu, ia akan mereka-reka kapan biasanya kita akan melompat ke portal. Dan setelah mendengar Induk Pagi berkokok ia akan menebar Serbuk Vanisha di kepala kita. supaya kita menjadi lupa dan tidak bosan untuk datang ke taman dan bermain bersamanya. itulah mengapa kita tidak ingat apa yang kita mimpikan saat malam dan menggantinya dengan proyeksi memori-memori masa lalu kita.

    Selain baik hati dan murah senyum, Tuan Pengelana Mimpi sebenarnya sedikit egois. Ada hal lain yang tak pernah lepas dari ingatan Tuan Pengelana Mimpi ketika ia menemukan orang-orang yang masih terjaga hingga jarang menemuinya dalam Taman Bunga Matahari Cebol. Kau misalnya. Kau tahu, ia seolah mencari-cari cara agar kau mau menikmati alam mimpi bersama lebih lama dari biasanya. Maka ia membuatmu lemah, agar kau tak pernah jauh-jauh dari portal penghubung antara kau dan dia. Di dunia kita biasa menyebut kelemahan itu sebagai Sakit, dan portal itu disebut Tidur. Setiap kali Tuan Pengelana Mimpi tak mendapatimu di portal itu lebih awal, ia akan kecewa. Kekecewaan yang menumpuk membuatnya menjemputmu melewati portal, membawa Serbuk Sari Bunga Kaktus Mimpi dan menyebarkannya di atas kepalamu agar darah dikepalamu berdenyut deras dan kau merasakan kehangatan yang berlebih. Sekarang kau tahu kan kenapa kau merasa demam? Serbuk Sari Bunga Kaktus Mimpi itu nantinya akan tumbuh menjadi bitik-bintik merah di tubuhmu hingga kau akan terlihat seperti kaktus yang dicabuti duri-durinya. setelahnya ia akan menumpahkan air Ingazu yang kental yang diambilnya dari telaga di alam mimpi ke dalam hidungmu. kau juga tahu kan apa yang kau lakukan saat hidungmu penuh dengan cairan itu? kau akan butuh tissue yang sangat banyak. Ya, begitulah cara Tuan Pengelana Mimpi membawamu kembali padanya. Dan itu akan sangat lama sebagai ganti waktumu bersamanya yang kau alpakan.

    Kau mungkin tahu aku tak bisa menyembunyikan kekhawatiranku pada apa yang terjadi. Ya, itu terlalu tak terlihat sebagai sesuatu yang wajar. Maka aku menunggu alasan-alasan untuk mendatangimu, alasan yang semoga tak membuat seseorang sepertimu merasa risih. Kadang aku berpikir bahwa aku memang seorang yang bodoh yang mengharap pada khayal-khayal yang diceritakan Tuan Pengelana Mimpi, tapi menjadi bodoh bukan salah satu alasan untuk berhenti melihat senyum dari balik selimutmu. Sebenarnya, ia banyak bercerita padaku. Setiap ia mengunjungi portalku, ia selalu menyempatkan diri menenggak sedikit teh yang kuseduh. Setelah mengecap sisa teh di lidahnya, ia mulai mengeluh tentang kau yang melupakannya. Betapa ia selalu menantikanmu dan kau baru terpejam ketika terpaksa ia menyewa Dewi-Dewi Kantuk untuk duduk di pelupuk matamu – akan kuceritakan tentang dewi-dewi itu lain kali jika kau penasaran. Tapi kini , kepercayaan Oneiroi padanya mulai menipis sehingga ia dilarang menjemput manusia melewati portal. Maka untuk membawamu ke portal, ia harus diam-diam melanggar Undang-Undang Ketertiban Tidur tentang Batas Wilayah Alam Mimpi. Kau pasti begitu menawan hingga seorang Pengelana Mimpi rela berbuat begitu. Ya, sepertinya kau memang.

    Begitulah kisahnya. sstt! jangan cerita pada orang lain ya, nanti alam mimpi menjadi tidak menarik lagi.

    Yang ingin kukatakan adalah, tolong! Jangan memaksa dirimu berlebihan. Jangan membuat seorang Pengelana Mimpi melakukan cara lain untuk membuatmu menemuinya. Kau tak menganggap dirimu begitu? Dari mana aku tahu? Oh ya. Tentu saja Pengelana itu yang memberi tahuku. Kau ingat kan, setelah mengecap sisa teh dilidahnya, ia mulai mengeluh tentang kau yang melupakannya. Katanya kau terlalu sibuk. Kau begitu giat di dunia yang kita hidupi. Yang kuminta, tolong, jangan membuatku khawatir lagi, kumohon.


    Begitukah menurutmu? Aku terlalu Khawatir?


    OK, baiklah. Kekhawatiranku adalah salahku, aku menyadarinya. Sesaat kemudian aku berpikit aku tak peduli jika kau tak menghawtirkan kekhawatiranku, tapi dunia ini penuh dengan orang yang peduli padamu dan sepatutnya kau peduli pada kekhawatiran mereka. Ikutilah kemana Tuan Pengelana Mimpi mengajakmu berkelana di dalam Padang Bunga Matahari Cebol. Jika kau sudah bertemu dengannya, sampaikan salam dan terima kasihku padanya.


    Semoga cepat sembuh, Gula.
Read More

11 Agustus 2012

Borea


16 Juni 2011

mulai malam ini aku akan pura-pura pernah khilaf terjerembab dalam melankoli/menemani kesadaranmu yang berkabut tentang sudut bibir yang menyimpul melewati piguranya/ hingga aku benar-benar menjadi lupa pada potongan-potongan hari dimana keindahan dirimu tersimpan/lalu kita akan menua bersama keterasingan/ke-masing-masing-an/dalam sisa-sisa sajak yang akhirnya aus oleh angin dingin utara/angin borea.

dear Diza,
sejak sedepa demi sedepa jarak antara kita melebar, sejak telah ada masa jeda yang terlalu lama dalam momen pertemuan, aku telah mulai kehilangan harapan pada akhir kebersamaan jejak kita, atau jika aku tidak ingin merasa tersakiti, aku akan merasa sengaja memendam harap. lalu di waktu-waktu berikutnya aku akan sudi berkawan dengan dengan lupa, dengan kecewa, dan dengan semua negatifisme yang kuyakini. namun sekuat apapun aku mencoba, aku akan selalu mengenang. karena untuk menjadi lupa pada sesuatu kita harus mengenangnya, mengingat bahwa sesuatu itu harus dilupakan. "aku harus melupakan dirimu," pikirku. maka secara spontan aku akan mencari-cari riak dirimu di kenanganku yang paling keruh sekali pun untuk kulupakan. jadi, menurutku, tak ada orang yang secara sadar akan mampu menjadi lupa pada kenangannya. yang ia lakukan hanyalan menimpa atau menutupi kenangan itu dengan kenangan yang baru. maka jika aku belum mampu mencari "gambar lain" untuk mengaburkanmu, kau akan selalu ada dengan bekas-bekas harapan yang seumpama bekas luka. dan itu sangat menyiksa. sungguh.

apa yang kau yakini tentang sebuah harapan?
saat yang telah lama dulu, pernah kudengar seseorang ditanyai tentang bagaimana ia mengartikan sebuah harapan. katanya, "harapan adalah masa depan." namun, saat masa depan telah mengambil kekasihnya, maka masa depannya menjadi masa depan yang paling tidak ia harapkan. masa depan yang paling mengecewakan. katanya kemudian, "harapan adalah keinginan untuk melanjutkan masa depan."

harapan selalu tentang keinginan. ya. keinginan-keinginan yang begitu membuncah akan menjelma menjadi harapan, Za. apa yang kau harapkan tergantung pada apa yang akan kau lakukan dengan harapan itu. itulah sebabnya ia selalu ditempatkan pada masa depan. agar kau bisa mempersiapkan dirimu menggapai apa yang kau harapkan. untuk apa? untuk menemukan kebahagiaan. jika seseorang berharap menjadi kaya maka ia harus mulai berusaha sejak sekarang.

tapi apa selalu begitu? apa selalu keberadaan harapan yang menentukan besar usaha? "Harapanlah satu-satunya santapan bagi mereka yang sedang ditimpa kemalangan," kata Thomas Jefferson. ia mungkin benar, mungkin juga tidak. seseorang dengan penyakit yang ganas mengandalkan harapan untuk mendorongnya berobat dan sembuh agar ia bisa menggapai masa tuanya. ia akan berusaha. lalu ketika keletihan menjadi batas antara diri dan usahanya, secara perlahan mungkin ia akan kehilangan harapan. ia akan menjadi orang yang paling menyedihkan menurutnya. mungkin juga tidak. kau mungkin tak tahu, ada orang-orang yang pantang menyerah meski ia tahu tak ada harapan yang tersisa untuknya.

Diza,
Tidak peduli betapa berbahagiannya seorang wanita yang sudah menikah, dia selalu senang mengetahui bahwa ada seorang pria yang baik yang berharap dia belum menikah. tapi sang pria tak melakukan apa pun. ia hanya berharap. seperti halnya orang-orang lain yang meyakini ke-tidak-berkuasa-an mereka hingga pada akhirnya mereka hanya bisa berkata, "kami hanya mengharapkan yang terbaik untukmu." harapan yang terdengar begitu lirih. harapan yang lebih pantas disebut sebagai angan. pada akhirnya, harapan juga tak lepas dari percabangan baik dan buruk.

Harapan dapat menjadi sebuah kekuatan supaya kita terus berpegang pada sesuatu yang seharusnya sudah kita lepaskan, ketika intuisi kita juga mendukung supaya kita melepaskan hal itu. Harapan dapat menjadi penjara. Harapan dapat membuat kita percaya bahwa tidak ada satu halpun yang bisa kita lakukan sehingga kita harus duduk diam dan mengharapkan yang terbaik.

yang sebenarnya ingin kukatakan, Za, segala macam harapan itu tak pernah memiliki makna yang senada dengan sekedar keinginan biasa, yang sepintas terlontar dan lewat begitu saja dalam setiap percakapan kita. namun seperti kebahagiaan, ia memilik makna yang khas. yang tak perlu pengungkapan untuk menyatakannya. yang ia butuhkan hanya sebuah awal untuk memulai dan sebuah titik tuju di masa depan sana.

bagiku, sebuah harapan adalah sesimpul senyum yang kau untaikan untukku. titik tujuku ada pada dahaga rindu yang terhapus saat pertemuan kita. harapanku ada pada kenyataan dimana kau akan bahagia disampingku seperti aku bahagia disampingmu.

bagiku, harapan masa depanku hanya tertaut pada kebahagiaanmu. pada anganku. sejujurnya, bagiku, Diza, harapanku terletak pada betapa indahnya dirimu saat kau masih bertahan memandangi malam yang membosankan bersamaku, dulu. harapan terbesarku terletak pada masa lalu dimana suara paraumu mengucap "terimakasih." di momen-momen seperti itu, entah bagaimana, kurasa harapanku adalah kau.

Pict. from here
maka biarlah angin borea menerbangkan harap yang tergerus menjadi butir-butir angan/meletakkan kita pada setapak yang bercabang/sampai pada saat kita berhenti untuk saling memandang/ maka biarkan ia berhembus/ dan memecah kita menjadi hanya kau dan hanya aku...
Read More

18 Juli 2012

Puisi Senjakala

Seperti Layang-Layang Api yang meramaikan sandiakala, Aku masih berharap kau masih sudi meramaikan kesenduanku.



17 Juli 2010

Aku ingin warna hijau di soreku.
bukan cokelat.

Dizastri,
andai saja kau mampu bertahan tanpa pertanyaan, maka aku akan berhenti bertanya. karena kau tahu, aku tak ingin percakapan kita berakhir, meletakkan kita pada titik nadir, berkata "ini semua adalah takdir," dan berlalu dibelakang angin yang berhembus getir.


tanpa seucap salam pun.
akhir-akhir ini selalu begitu.
aku akan tersenyum karenanya. kecut.

hari ini aku melihat Layang-Layang Api saling menyambar, beterbangan dibawah senja yang jingganya membakar di ujung yang satu dan gelap mulai mengiris di ujung yang lain. meski November belum tiba, mereka sudah disana, menjadi iring-iringan gerimis yang menangisi malam. tahu kah kau Diza, mereka mengingatkanku pada percakapan terakhir kita dibawah hujan yang mengguyur, menghabiskan sore yang sama dalam guratan langit yang benar-benar berbeda. mengingatkan aku juga kepada tawamu yang kini masih kusimpan dalam sekotak biskuit, yang kubuka setiap kali aku bercokol bersama sepi setengah tidur.

aku bertanya, kau menjawab,
aku bertanya lagi, kau diam,
lama, lama sekali.

bagiku, cinta adalah keakuan dan kekamuan yang mengkita. lalu didalam kekitaan kita ada seutas keterikatan yang mengkait. maka pernah suatu senja, kau seperti tengah mengendurkan kait dengan keheningan. terlebih ketika angin senjakala mendukungmu. ikut diam dan menjadi benci pada api lilin yang menari. seketika kita dipisahkan oleh alunan instrumental dan malam yang tak lagi romantis. aku tak suka itu. ya, mungkin sejak saat itu aku jadi tidak suka pada keheningan malam.


Diza,
seseorang pernah bicara mengenai ketakutan padaku. katanya, setiap orang akan menjadi pengecut terhadap sesuatu. dan tahu kah kau, aku merasa sesuatuku adalah kau, matamu yang empat, dan senyummu yang muram. ketakutanku adalah saat kau beralih pada transparansi fisik, memudar, menjadi siluet. kepengecutanku adalah kau dengan segala pesonamu namun dengan pandangan yang kontralateral. ya, tidak spesifik, tapi aku tahu.



mungkin perahu kita hanya menunggu siluetmu
atau mungkin hanya aku yang malas mengangkat sauh
menyaksikan dermaga menahan peluh
merasa ragu meninggalkanmu jauh
meski sangat jelas tanganmu meraih Layang-layang Api. 

tidak pernah ada yang tahu satuan jarak yang memisahkan keterikatan, Diza. aku juga tidak ingin tahu. yang jelas, diammu juga jawabanmu yang seadanya meletakkan kita pada jarak yang sangat jauh. jadi, ketakutanku adalah sebuah logika sederhana yang masuk akal. karena diujung semua logika ciptaan yang waras, aku tidak ingin kehilangan dirimu.

salam rindu lagi,
aku, Toples Gula.
Read More

17 Juli 2012

Hal yang Tak Lepas Ketika Malam Menerbangkan Sadar dari Mataku yang Terjaga Sembari Menunggui Hari Menemui Awalnya

Pict. from here
Pagi buta menusuk kulitku, menyisakan lebam kasat mata diantara iga-iga tak bertuan. dingin yang maya membangunkan beberapa butir airmata tatkala wajah kelabu yang selalu nampak dalam temaramnya dunia bunga tak pernah mengukir keindahan nyata seperti selama ini mengisi beberapa kekosongan batin. tak kutemukan rasa sayang disetiap bait melankolisnya yang mengalun jenuh penuh peluh tanpa keluh. bayangnya tak kunjung melayang atau memudar meski gelengan kepalaku merasa enggan mengajukan tanya. pagi buta mengacaukanya.

cahaya belum kunjung berberkas, malam masih mengantuk, dan aku tengah berada di antaranya, terjaga dengan otot yang kelu, layu, tidak kaku bersama angin yang juga masih diam membisu. kudapati suaramu memecah hening, menanyakan keadaanku dan apa yang kulakukan. kau mendapatiku masih lekat bersama kebisuanku yang menerawang kegelisahan bayangnya dan kau pun berlalu.

aku tersandar di bingkai jendela, menatap lurus padamu yang memunggungiku dengan bantalmu, seolah marah, atau ngambek kata mereka. aku geli menyaksikan langit malam yang untuk pertama kalinya marah. bukan kah telah ku ceritakan kesahku padamu. Tentang matanya yang saat ini menyendu, soal rambutnya yang masih terus ia sisir rapi. atau mengenai tawanya yang mulai mengabur. bukankah?

temaram mencipta siluet di ufuk-ufuk fajar, mencakar bentuk-bentuk emas diantara kanfas hitam yang membiru, membunuh malam. Induk-induk bintang mulai menidurkan anak-anaknya sebelum mereka sendiri. lagu pengantar hari pun sedari tadi telah menggema, menyentakkan kita menjauhi amarah, membawa kita ke ujung ngarai untuk mandi bersama menenangkan batin sembari menunggui angin kering kembali membawa surat darinya. tentang matanya, soal rambutnya, atau mengenai tawanya. masihkah sama.
Read More

11 Juli 2012

Takeaway

It's Takeaway.
awalnya cuma iseng-iseng, pas dah jadi, eh, kepengen di upload.
sebuah header

saya pilih dominan warna pink, karena dari post dan rona blognya mba' Ninda kebanyakan nuansa feminim.
trus saya liat foto avatar blognya, dari sketsa sih keliatan pakai jilbab, so saya gambar saja (dengan spidol) orang yang pakai jilbab yang sedang tersenyum. orangya lagi nulis karena berhubung itu website yg isinya banyak tulisan, dan karena pastinya mba Ninda suka nulis. terakhir sesuai nama website-nya: listeninda, saya menambahkan pot bunga berisi "tanaman musik" dimana sebagian bunga musiknya diterbangkan angin dan melebur bersama udara menjadi alunan musik yang asyik untuk didengar...
dan setelah di edit,

Listeninda.com ver I


Listeninda.com ver. II
Listeninda.com ver III
TADAA...

sederhana saja sih, ngga bagus-bagus amit. hehe
tapi silakan dipilih.

warnanya bisa diganti koq kalau mau...

hope you like it. :))))
Read More

06 Juli 2012

ada "dan" ditengah kamu dan aku.

Pict from Here
apa yang terjadi pada kita? apa yang terjadi pada sekata yang bercerai menjadi kamu dan aku? lalu mengapa tiba-tiba saja ada "dan" yang menjedakan kamu dan aku?


kita dulunya adalah pedendang senandung di beranda, menikmati pagi dan air mata Tuhan yang singgah di ketiak daun. kita adalah apa yang selalu dikicaukan pipit dan di tidurkan malam. itu sebelum waktu menjadi pencemburu.


jadi aku mulai bertanya-tanya tentang siapa yang lebih dulu bosan meninggali rumah kita hingga memutuskan untuk meninggalkan. kamukah? atau waktukah? pelan-pelan dari dalam rumah aku melihat lintasan yang menjejak lantai, menapak meja, lalu keluar lewat pintu ruang tamu. ada kamu di ujungnya, memunggungiku sedang membuang remah-remah pagi yang disebut kenangan. lantas aku membaca aura. mencerna keadaan dan menjelajah kejadian hingga aku tiba pada sebuah kesimpulan bahwa ada jarak antara kamu dan aku.


maka aku berlari ke kamar, membuka lemari, mengaduk laci, mencoba menemukan kita yang tersisa. tak ada. tak ada kita yang kamu sisakan. mungkin sudah kamu terbangkan. mungkin terselip di lipatan remah pagi yang kamu mubazirkan. atau mungkin jika tidak cukup tega kamu akan membawanya pergi bersamamu. yang jelas tidak ada lagi kita sehingga aku dan kamu kini menjadi kesatuan yang masing-masing. berdiri sendiri. saling menghitung satuan yang men-jarak-kan kamu dan aku. kamu hanya akan menjadi kamu. tapi aku tidak akan bisa menjadi aku lagi. kamu telah membawa aku bersamamu.


maka siapakah aku yang melihatmu menciptakan jarak?

tak bisakah kamu dan aku menjadi hanya kamuaku? tanpa dan, tanpa spasi?
tak bisakah kamu dan aku melebur lagi saja menjadi kita?


Salam untuk waktu,
Falra,
Tujuh Juli DuaRibuDuaBelas.
Read More

28 Juni 2012

Memori Khira

Kay, kau ingat, saat kau ngambek sore-sore di beranda sambil memandangi layang-layang api yang berkejaran di udara. kau diam. lamaaa sekali. dan ketika para layang-layang api itu lelah, kau bilang, "maaf atas air mukaku. aku jutek ya?" aku hanya menggeleng sambil tersenyum. hampir saja aku meleleh dari beranda. kau tahu, saat itu aku sadar, Kay, aku menyukai pipimu yang cembung, suaramu yang ranum. aku menyukaimu.
Masih kukenang jawabanmu saat aku mencoba menyatakan kesadaran hatiku. "Sebaiknya jangan, Khira. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Aku telah tertambat di hati yang lain." Aku sudah menduga, hingga setelahnya tak ada gunung yang runtuh atau gemuruh petir dengan angin badai. aku tak pernah ragu pada kebenaran pepatah sepatah cinta dan kepemilikannya, Kayla. aku tahu keniscayaan rasa sakit yang salah mengartikan kau sebagai bahasa kalbu. perih.
Kayla, kau tahu lagi, semenjak masa itu, secara idiopatik, aku makin menyukaimu. maka maafkan lah aku yang akan selalu menghantuimu...
Read More

24 Juni 2012

Terik


Hari ini matahari sedang datang bulan
Ia lalu adalah kau yang menjelma
Menjadi terlalu sensitif pada keadaan
Selalu terlalu pagi untuk panas kegerahan
Ceracaumu juga pedas yang tertahan
Sementara tak ada senyum yang mengawan
Atau sayang yang menghujan.
Read More

12 Juni 2012

sketsa

aku ingin mengenalmu seperti gurat, segaris segaris
yang biasa kau kenalkan pada kertas
memindai biografismu bergores-gores
ke dalam otakku yang paling dalam. hippokampus
terus. tanpa putus

aku ingin menemuimu di dalam sketsa
seperti gores-goresnya yang saling menemukan.
membentuk. mewujud.
tak perlu lama, namun penuh wacana, makna.
lalu biarkan naluri yang mencukupkannya

aku ingin mendekatimu bersama arsir
yang seperti aku hasratkan dekat dengan realisme
seperti karbon pensil yang kau dekatkan dengan kapas
tidak ragu, tanpa penghapus
merajakan abu-abu yang serius
dan biarkan tawa yang menjadikannya berwarna.



Pict from here
Read More

08 Juni 2012

Air

kataku adalah air pendatang
masih menghujan sesenggukan, belum mengalir.
mendarat pada daun. menggantung.
sebelum ditiupkan udara lalu mengenal tanah
mengngarai.
sudikah ia diizinkan mengalir?
Read More

rimanolog

Bagaimana
jika waktu itu kita bersitatap lebih lama
Lebih lama.
Lalu kujabat aroma sore. Mega.
Ah, pandangan pertama...

katakan
kapan kau mau membawakan temu
Memungut satu-satu huruf namamu
Membingkiskan sekotak huruf namaku
Membiarkan kenal merambati kita malu-malu

hai, kamu.
Seperti yang biasa kau inisialkan.
Pada pagi, pada langit, pada asin, pada ikan.
Pada mata yang sewarna intan
Kilau.
Pada bagimana senyum yang menyimpul pelan

Bagaimana jika di suatu waktu lain di ujung siang
Atau di tengah-tengah petang yang matang
Kita mengatur waktu untuk menghilang. Berlanglang
Kemudian menjenguk rinduku nan meradang
Setelah itu kau kuantar pulang

Yah, mau bagaimana lagi,
Imajiku tak habis mem-bagaimana-kan angan
Sejak angan berubah menjadi sepasang mata mungil
Yang padanya aku menandai sore menjadi lebih lama
Lebih lama
Bagai nama.
Read More

01 Juni 2012

(K/S)esal

ada penyesalan yang tergores tepat di awal tengah tahun ini. rasanya lebih sakit daripada diputusin cewek. lebih perih. saya di Tuming (turun minggu; adalah hukuman yang diberikan dengan menambah 1 minggu stase pada satu subdivisi medis di rumah sakit.) oleh seorang supervisor di tempat saya bertugas sebagai Coass (dokter muda; red) karena alasan peraturan yang dibuatnya sendiri. peraturan yang katanya sudah menjadi turun-temurun di bagian ini. sebuah aturan yang menurut saya tidak masuk akal. menghafal seluruh pasiennya dengan lengkap dan terperinci, lalu ketika ia berkunjung, ia akan menanyai kami para coass semua tentang pasiennya. sebuah hal yang bahkan ia sendiri tidak sanggup melakukannya.

lalu, hari ini ia membentak. bertanya siapa yang tidak bisa menghafal? aku kalah. tidak yakin pada hafalanku sendiri. lalu disanalah penyesalan itu mulai membumbung. mengisi seluruh dadaku hingga sesak.

namun penyesalan yang timbul itu bukan karena saya tidak sanggup menghafalnya, karena sudah hampir satu minggu di stase ini kerjaan saya dan beberapa teman-teman yang lain hanya menghafal sesuatu yang sebenarnya tidak layak untuk dijadikan prioritas bagi seorang Coass. yang saya sesalkan adalah, bahwa itu hanya Tes Mental. Ia tidak benar-benar bertanya. aargh... betapa kesalnya saya...

aargh... Damn.

satu minggu yang sia-sia. minggu depan akan menjadi deja-vu yang paling mnejengkelkan...
Read More

31 Mei 2012

DIA

Akhirnya hari itu kudapati Dia sedang bercengkrerama dengan senyum tipisnya sendiri dan matanya yang mungil-mungil. Menertawai senja yang belum juga mampir untuk menitip rona. Tak ada renda, tak ada motif, tak juga warni, hanya seragam biru yang menyeru. Lalu bulir peluh. Mengkilat dijilat surya.

Akhirnya hari itu kulihat Dia. tersenyum lagi. Aku membalas. Senyum kami mengait. satu detik, dua detik, Ah aku kalah. Senyumnya makin lebar, merayakana kemenangan. Aku menyebut nama, "Rara?" Dia mengangguk sekali. Kemudian, bayangannya mengajak pulang, memburu waktu, mengejar malam.

Hari itu Dia menjatuhkan senyumnya...
Read More

07 Mei 2012

Perhentian Imaji

Di halte ini lagi, sekali waktu aku duduk di sudut. Mencari makna yang lalai digadaikan kalender tentang betapa kita telah jauh tenggelam dalam dunia yang terpisah nan sarat. Kita mencoba tersesat dengan mengambil rute yang berbeda dan melupakan tujuan kita menggulirkan roda-roda pelangi. Kita hanya membawa satu bekal. Kau dengan kenangmu, aku bersama imajiku. Entah untuk berapa lama, aku akan menyantapnya sambil rela menadah jalan kosong mengalasi antara. Kau juga mungkin akan lupa bertanya kapan kita akan menemukan kursi bersisian di bus yang sama. Perhentian pertama...
Read More

13 April 2012

Sejumput Kerinduan yang Dimakan Waktu


Pict. from here
Sudah sepuluh kemarau sejak kau tak lagi terlihat di tebing Padangkawi, memandangi lautan yang selalu bungkam setelah mencuri kekasihmu. Sambil berdiri, kau dulu selalu bertanya pada angin laut tentang kabar kekasihmu itu setiap Minggu sore, mengacuhkan para camar yang menertawaimu. Saat lelah berdiri, kau mulai mencari ranting pohon lalu duduk sambil mengukir nama kekasihmu itu di tanah. Kau tak tahu, aku hampir selalu mendapati airmatamu merembes di tebing pipimu yang halus sebelum meloncat ke sela  huruf-huruf yang kau tulis.
Pertama kali aku melihatmu di sana, kau begitu ceria dengan baju putih dan rok bercorak bunga Alamanda. Masih bisa kuintip sesimpul senyum yang kau gantungkan. Kala itu kau tengah melambai pada kapal kayu yang melintasi garis cakrawala. Hingga senja tertidur kau masih disana, dengan senyum yang tak mengendur.
Read More

25 Maret 2012

perihal yang tak mau hilang

entah kenapa, meski rinai-rinai gerimis tak lagi terasa mesra, atau meski hari kemarin yang dicuri pangeranmu sudah aku relakan, atau meski tak ada lagi irama-menyengat-bahagia pada setiap senandungmu, masih ada kilasan momentum mengekor di ujung-ujung lamunanku.

seperti anak ayam yang baru menetas, mencuap-cuap dan mengikuti induknya kemana saja, masih ada sesuatu yang tak mau lekang dari benakku. sebuah keriangan. sejumput kesejukan. sekaligus sebentuk sayatan.
senyumanmu.

Ori. Pict. From Here

Read More

07 Maret 2012

Confusychosis

Dear Lana,

Suatu ketika aku bertanya pada diriku sendiri, apakah mencintai itu akan membuatmu menjadi gila? Apakah kecintaan seseorang pada sesuatu adalah kegilaan? Dan mengapa seseorang yang begitu mencintai lantas juga bisa tergila-gila? Sesungguhnya, gila itu apa? Milik siapa?

Ah, maaf Lana. Aku mungkin membuatmu bingung. Aku hanya heran dengan kata ‘gila’ itu kini sering disebut-sebut. Dimana-mana. Dirumah, kantor, teve, pasar. Maka siapakah yang sepantasnya kita katakan gila?

Waktu aku SD pernah ada seorang wanita kumal yang selalu berdiri di balik pagar batu rumahnya, tengah meracau dengan liur yang selalu tumpah dari mulutnya. Ya, kata orang, dia ‘gila’. Katanya, kekasihnya pergi meninggalkannya, maka ia menunggu disana. Dan ya juga, ia dikerjai. Wanita itu melakukan apapun perintah usil dari luar pagar yang dimengertinya. Benarkah Lana? ‘gila’kah ia? Siapakah yang ‘gila’? Wanita itu atau yang mengerjainya?

Di waktu yang dulu pula, seorang pria hitam tak berumah, berbaju loreng sering datang di taman sekolah, duduk penuh antusias diantara siswa SD meracaukan kisah-kisah perang melawan penjajah, lengkap dengan bunyi senapan dan granat yang meledak. Para siswa pun tak kalah antusias mendengar dengan imajinasi penuh. Lagi, katanya dia ‘gila’ setelah keluarganya menjadi korban penjajahan dulu. Benarkah?

Lana,

Mungkin gila adalah objektivitas. Mungkin status itu bergantung pada seberapa banyak, atau seberapa sering  ‘katanya’ dituduhkan. Maka penantian di tengah mereka yang tidak menanti adalah kegilaan. Kehilangan di tengah kelompok yang tak pernah kehilangan adalah kegilaan. Mungkin saja dalam pikiran mereka kitalah yang gila, dan mereka yang waras, hanya saja suara mereka tak cukup banyak. Ah, tapi benarkah begitu? Jika memang begitu, lalu mengapa di suatu ketika yang lain saat ada banyak individu yang dikatai gila terpenjarakan, mereka malah saling mengolokkan kegilaan disekitarnya alih-alih memperjuangkan kewarasannya masing-masing? Bukankah mereka sama-sama gila? Mengapa bukan sang sipir, atau bukan aku yang mereka katai gila?

Mungkinkah kegilaan adalah keterpenjaraan yang lebih sempit dari jeruji besi tempat mereka tinggal? Mungkin iya. Mungkin kegilaan perlahan menjadi kurungan masing-masing individu oleh raganya terhadap lingkungan. Sehingga interaksi yang paling waras untuk dilakukan adalah berbicara dengan dinding-dinding raganya itu. Dengan dirinya sendiri. Mungkin pula kegilaan adalah keterhempasan dari masa lampau. Waktu mengempas mereka di masa kini dan bersamaan memaksa meninggalkan jiwa mereka di masa lampau. Mereka, hanya tidak berada pada waktu yang tepat. Tapi siapakah yang akan mengerti? Keterhempasan mungkin membuat mereka menjadi terasing, menjadi sendiri, menjadi kesepian. Siapa yang tahan menjadi sendiri? Tidak ada. Tidak juga orang ‘gila’. Maka mungkin mereka bicara, menyanyi, bergumam sendiri. Menciptakan seseorang yang meski khayalan untuk menggantikan jiwa mereka yang tertinggal. Kalau memang begitu, siapa yang bisa meyakinkan kita bahwa kita, aku juga kamu Lana, tidak gila jika interaksi yang paling waras untuk kita lakukan adalah dengan diri kita sendiri? Toh, kita juga terjebak dengan memori kita masing-masing.

Lana,

Setiap orang bisa berbahagia dengan berbagai alasan, namun kebanyakan dari kita bersedih karena lasan yang sama: kehilangan. Kata dokter, kehilangan adalah pemicu depresi, dan depresi bisa membawamu ke arah kelainan kejiwaan. Tapi aku tidak depresi, sepanjang sepengetahuanku. Tapi sepengetahuanku tak bisa membuktikan apapun.
Aku mungkin sedang berada di penjara ketidakwarasan namun aku tak tahu apa aku ini gila atau tidak, sama seperti aku tak tahu aku telah jatuh cinta padamu atau tidak. Aku sedang diambang kebingungan. Para pencinta menyebutnya kegalauan. Jika gila adalah sebutan bagi ketidakwarasan karena kehilangan, lalu harus kusebut apakah ketidakwarasan karena kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah dimiliki? Dan ironisnya, Lana, ketidakwarasan ini menyamankan…

Ketidakwarasan padaku membuat bayangmu slalu ada,
menentramkan malamku, mendamaikan tidurku
Aku mulai nyaman berbicara pada dinding kamar,
aku takkan tenang saat sehatku datang.

Ketidakwarasan padaku, selimut tebal hati rapuhku
Aku takkan sadari bahwa kau tak lagi disini.*SO7:Ketidakwarasan Padaku
Read More

12 Februari 2012

malas-malaman

malam selalu terlalu bersemangat menemaniku, sementara siang selalu saja meninabobokan.
dalam seminggu aku menjadi manusia setengah kelelawar yang kehilangan minat mencari makan di tengah malam. akau lebih memilih meringkuk didepan televisi. nonton. entah siapa yang menonton siapa. lalu dunia malam yang menjemukan itu mulai merasuk di sekujur badanku ini. aku menjadi ikut-ikutan jemu. malas tepatnya. ya, lemas-lemas yang kurasakan akhir-akhir ini menemukan bentuk komplitnya sebagai sebuah pekerjaan yang tidak melakukan apa-apa. (bahkan ngetik ini saja aku malas.)

ini adalah penyakit. ini adalah musibah. entah mungkin sudah menjadi wabah. tapi yang jelas ini tak bisa dibiarkan. ini harus dilawan. tapi bagaimana? aku terlalu malas untuk melawan. aku terlampau lemas untuk berpikir. Keadaan ini adalah dosa yang nyata dan celakanya aku terjebak didalamnya.

ah, mungkin aku memang perlu begini sesekali. mungkin semangatku tercecer disuatu tempat. biarlah aku begini sambil mencari bongkahan juang yang menyala membara yang aku hilangkan. gampang kan? hanya tingga mengikuti remah-remah yang kemarin tertinggal.

pict from here
masalahnya sekarang, keadaan ini akan berlangsung sampai kapan?
Read More

31 Januari 2012

siklus penugguan

Sekali setahun, dibulan Januari, aku akan duduk di kaki lembayung. menyaksikan alang-alang yang tegar menantang alam bertanya untuk kesempatan bertegur sapa lagi dengan jemari mungilmu. mereka rindu pada gadis yang dulu berkejaran bersama angin menangkap kelopak bunga atau kupu-kupu nakal. kubilang pada mereka, kau sedang menyulam malam agar padang berhenti kedinginan jika gelap menguap. tapi kubilang pada aku, aku rindu saat kau kelelahan mengitari alang-alang lalu menghampiriku, terduduk menatap lembayung sambil mengulum senyum.

sekali setahun, dibulan Maret, aku akan berusaha tak lelah menanti ucapanmu yang tak pernah datang. mengingat-ingat lagi kata-kata lembutmu sesaat setelah malam menggulirkan hari. jika harus jujur, tahun lalu menjadi kalimat indah terakhirmu untukku. lalu kau mengambil waktu untuk berkelana bersama bulan itu.

sekali setahun dibulan Juni, ada sebuah hari dimana aku harus mengakui bahwa akan ada jarak dalam setiap kedekatan, selalu ada akhir dari semua hari yang kita sebut mula, dan pasti ada jalan untuk perpisahan dalam segala jenis perjumpaan. kau tak mengucap sekata. aku tak mengucap sekata. sebuah perpisahan yang tak pantas disebut perpisahan, karena yang kita lakukan berada dalam jaring-jaring pengabaian selama bulan-bulan berikutnya. bulan Juni, kau berubah. mengambil jarak selangkah setiap harinya, hingga tak mampu kuhitung depa demi depa.

sekali setahun dibulan November, pertengahan musim dingin, aku memikirkanmu. mencari kata yang tepat untuk menghilangkan kecanggungan. mungkin, ketika badai mulai reda, kita bisa menghabiskan waktu saling menghangatkan jemari kita, setelah sekian lama. tapi aku urung. kenapa? karena "mungkin" adalah tentang ketidakpastian yang selalu terbenam dalam dua sisi yang berlawanan. bagai pisau bermata dua. jadi kubiarkan saja jalan jalan sepi dengan lamunannya.

Pict from here


Setiap tahun dibulan Desember, aku akan hilang akal.
Read More

13 Januari 2012

Kenangan

Kay, kau ingat, saat kau ngambek sore-sore di beranda sambil memandangi layang-layang api yang berkejaran di udara. kau diam. lamaaa sekali. dan ketika para layang-layang api itu lelah, kau bilang, "maaf atas air mukaku. aku jutek ya?" aku hanya menggeleng sambil tersenyum. hampir saja aku meleleh dari beranda. kau tahu, saat itu aku sadar, Kay, aku menyukai pipimu yang cembung, suaramu yang ranum. aku menyukaimu.


masih kukenang jawabanmu saat aku mencoba menyatakan kesadaran hatiku. "Sebaiknya jangan, Khira. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Aku telah tertambat di hati yang lain." Aku sudah menduga, hingga setelahnya tak ada gunung yang runtuh atau gemuruh petir dengan angin badai. aku tak pernah ragu pada kebenaaran pepatah sepatah cinta dan kepemilikannya, Kayla. aku tahu keniscayaan rasa sakit yang salah mengartikan kau sebagai bahasa kalbu. kasih.



Kay, kau tahu lagi, semenjak masa itu, secara idiopatik*, aku makin menyukaimu. maka maafkanlah aku yang akan selalu menghantuimu...

*unknown
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.