Tampilkan postingan dengan label non-imaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label non-imaji. Tampilkan semua postingan

12 April 2015

Bagaimana Seekor Katak Menemukan Keberanian dan Keluar dari Tempurungnya

“No man ever steps the same river twice, for it’s not the same river and he’s not the same man.” ~ Heraclitus, Filsuf.

Jalan Panjang Menuju Puncak Kelimutu

Dunia itu luas, meski orang-orang asing yang ditakdirkan bertemu lebih dari sekali sering mengatakan sebaliknya. Ada begitu banyak perihal yang tidak kita ketahui meski orang-orang picik tidak berpikir demikian.

Dengan dua kalimat itu, saya kemudian memutuskan untuk bertualang dan menuliskan kisah lain dalam hidup saya untuk diri saya sendiri yang di masa depan. Saya ingin mengingatkan diri saya yang nanti tentang perihal-perihal baik yang mungkin terjadi dalam perjalanan ini, agar setiap kali menerima kesedihan ia akan percaya selalu ada lebih banyak kebahagiaan dalam dunia ini. Saya tak perlu terlalu kuatir tentang kesedihan yang ada dalam tualang itu atau bagaimana perjalanan itu akan berlangsung. Saya hanya perlu tahu bahwa ujung jalan itu akan mengubah diri saya menjadi seseorang yang lain (dan semoga lebih baik).

Saya sendiri bersama beberapa teman, pada suatu pertemuan akhirnya sepakat berpetualang dengan cara backpacking. Menenteng keril lalu menantang alam, menapak jejak sembari menepuk dompet, mengecup tempat-tempat baru dan mengecap pengalaman baru. Melakukan perjalanan dengan cara backpacking adalah kegiatan yang tidak asing lagi di zaman sekarang. Orang-orang bisa melakukan tualang ke mana pun dan kapan pun mereka inginkan –dengan batasan-batasan tertentu– tanpa perlu mengeluarkan banyak uang. Setiap orang-orang itu tentu saja mempunyai alasan yang dan pandangan yang berbeda mengenai langkah-langkah menuju ‘kehidupan lain’ yang mereka lakukan. Ada yang melakukannya karena kesenangan semata, refreshing, lari dari ‘kenyataan’, ilmu pengetahuan, perjalanan religi, gaya hidup, hobby, atau juga gabungan dari perihal tersebut.

Mungkin tidak jauh berbeda dengan mereka yang telah menempuh kembara sebelumnya. Hanya saja, dalam perjalanan kami ada sesuatu yang mungkin tak setiap perjalanan memilikinya. Jika pada umumnya orang mengunjungi malaysia atau singapura atau luar negeri lebih jauh yang menggiurkan mata untuk backpacking, kami lebih memilih Nusa Tenggara sebagai tujuan. Selain karena kami punya beberapa kenalan di beberapa bagian tempat,  ada sejumlah alasan filosofis mengapa kami memilih NusaTenggara.

Pertama, sebagai orang Indonesia yang meskipun hidup di bagian tengah – saya dari Makassar – tetapi saya bersama teman-teman perlu melihat sendiri bagaimana kehidupan saudara setanah air kita di bagian timur. Kami ingin membuktikan bagaimana tindakan pemerintah kita terhadap kesenjangan pembangunan negara. Terdengar seperti pejabat yang blusukan? Tidak. Saya sama sekali tak tertarik tentang politik. Yang ingin saya bersama teman-teman munculkan pada diri kami sendiri adalah rasa peka dan kepedulian sosial yang diperlukan sebagai dokter sehingga perjalanan ini bukan jalan-jalan biasa. Maka hanya dengan cara backpacking-lah saya bersama teman-teman bisa berkomunikasi lebih dekat dengan masyarakat.

Kedua, dalam penjelajahan Nusa Tenggara ini kami ingin melintasi perbatasan Timor Leste setelah melihat bagaimana orang-orang  di sana mempertahankan jiwa nasionalisme mereka. Kata teman seperjalanan saya, “Nasionalisme itu tidak hanya dipelajari di bangku-bangku sekolah, tetapi perlu dengan pengalaman nyata.”

Tinggal di perbatasan mungkin bisa dianalogikan dengan kebimbangan hidup seseorang terhadap agama – meski tidak sakral tentunya. Namun kemampuan seseorang untuk mempertahankan hidup yang layak tentu bisa mempengaruhi jiwa nasionalisme. Inilah hal yang sebenarnya perlu diperhatikan pemerintah terhadap saudara-saudara kita yang tinggal di wilayah perbatasan.

Lalu ketika menjadi wisatawan asing di Timor Leste (yay! akhirnya ke luar negeri juga) kami ingin mencoba melihat bagaimana negara kecil ini membangun dirinya setelah kemerdekaan. Bagaimana sejarah dituturkan dari mulut-mulut orang lokal. Karena ingin jalan-jalan, tentu kami mempertanyakan bagaimana tempat wisatanya.

Ketiga, kami percaya bahwa eksotisme Nusa Tenggara tak kalah indah dibanding tempat wisata di daerah lain atau di negara lain. Indonesia punya banyak tempat yang perlu dijelajahi dan dikuak keindahannya untuk diperkenalkan dengan lebih layak ke wajah dunia, terutama di Nusa tenggara ini.
Keempat, latar kami yang bergelut di dunia kesehatan sebagai dokter semakin membuat perjalanan ini bukan ekspedisi biasa. Di perbatasan, seorang dokter TNI yang satu almamater dengan kami mengajak untuk melakukan bakti sosial berupa pengobatan dan sunatan massal. Maka lengkap sudah tualang kami. Ada manfaat timbal balik yang kami dan masyarakat sekitar dapatkan. Setidaknya perjalanan ini buka langkah yang sia-sia.

Agama di wilayah Nusa Tenggara Timur mayoritas kristiani (katolik). Kami datang kebetulan bertepatan dengan hari-hari paskah. Saya melihat orang-orang di tempat ini begitu religiuis beribadah ke gereja dan pada sebagian besar wilayah, amat sulit mendapatkan masjid. Tanpa saya sadari tantangan terbesar saya dalam perjalanan ini sebagai umat muslim, adalah bagimana menjaga keistiqomahan saya beribadah dengan tak adanya masjid dan air serta godaan pikiran sendiri. Ini tanpa secara kebetulan menjadi alasan kelima mengapa perjalanan ini menjadi menarik. Di tempat yang jauh dari rumahNya, saya merasa sangat menikmati perjuangan sebagai hamba yang (berusaha) taat. :’)

Seperti katak dalam tempurung yang baru menemukan keberaniannya dan melompat keluar untuk melihat dunia, sudah beberapa kali saya bersama teman-teman merencanakan perjalanan, namun baru kali ini kami menemukan kesempatan dan keberanian untuk keluar dari  balik meja kerja. Kami tahu perjalanan ini tak bisa selalu baik-baik saja, dan kami harus menyiapkan keberanian untuk itu. Pada akhirnya apa yang kita lakukan akan membentuk diri kita sendiri di masa depan, dan saya melakukan perjalanan ini dengan harapan dapat memperbaiki cara pandang saya tentang cara kerja dunia dan menambah sudut pandang saya tentang kehidupan.

Orang bijak selalu berkata, “bukan tujuan yang penting, tetapi perjalanannya.” Dan saya sepenuhnya sepakat, walaupun bagi saya, tujuan yang sesungguhnya dari petualangan adalah perjalanan itu sendiri. ~ Falra

PS: Detik dan detil petualangan akan saya bagikan di postongan berikutnya.
Read More

14 Maret 2015

Mengapa Tuhan Tidak Menciptakan Mesin Waktu

Pict. from here

Pada tengah malam yang buta, saya tiba-tiba terbangun dan tak hendak terpejam lah untuk beberapa lama. Waktu-waktu yang enggan dilalui mata saya dengan bermimpi diluangkan untuk iseng membuka lini kala di twitter dan akhirnya terjerembab di salah satu postingan blog seorang teman yang malam itu ia cuitkan. Anehnya, teman ini membuat saya bisa menulis lagi di blog ini setelah sekian lama. (terima kasih, kak. :) )

Saya tak begitu mengerti apa yang dituliskannya - terbangun tengah malam tentu membuat kepala sulit diajak fokus, apalagi dipaksa - tetapi saya bisa menangkap keresahan-keresahan yang dibentuk oleh sekumpulan kalimatnya: penyesalan.

Ada banyak alasan yang membuat orang merasakan sesal, tetapi hanya perlu satu komponen untuk membuat orang-orang itu menyadari penyesalannya. Kita menyebut komponen itu sebagai waktu. Pepatah "penyesalan selalu datang belakangan" sudah ada sejak entah dan manusia tak pernah bisa menyadari artinya sampai mereka merasakannya sendiri.

Berangkat dari penyesalan, kita kemudian mulai belajar mereka-reka masa lalu yang secara harfiah hanyalah setumpuk ingatan getir. Kita (atau sebut saja mereka, jika kau keberatan dan pikiranmu mulai mengoceh, "kita? loe aja kali.") mulai berandai-andai terhadap berbagai kemungkinan yang seharusnya dilakukan ketimbang apa yang sebenarnya telah terjadi. Mengubah masa lalu adalah alasan paling mudah dan mungkin satu-satunya yang bisa dipikirkan para ilmuwan untuk menciptakan mesin waktu.

Sampai saat ini, dengan berandai-andai, kepalamu adalah mesin waktu paling ekonomis sekaligus realistis yang tidak pernah diciptakan manusia. Masa lalu - dalam kepalamu, hanya dalam kepalamu - dapat berubah sesuai keinginanmu. (Ah! saya pernah menulis cerpen tentang ini.)

Saya tak tahu tentangmu, tetapi agama saya (ya, agama) tidak terlalu bersahabat dengan istilah berandai-andai. kebanyakan berandai-andai membuat kita lupa bersyukur pada apa adanya kita kini. Penyesalan membuat kita menjadi lebih teliti pada kesalahan-kesalahan lampau dan mengubahnya menjadi rayap yang memakan keteguhan hidup kita sendiri. Kita menjadi rapuh dan mudah diserang rasa bersalah. Padahal, bahkan jika kita berhasil mengubah satu momen penyesalan menjadi seperti yang kita inginkan tak pernah ada jaminan kekinian kita akan berakhir lebih baik. Masa depan selalu menyediakan ketidakpastian.

Tak sepenuhnya buruk, berandai-andai tentang masa lalu diperbolehkan untuk diambil sebagai pelajaran, bukan penyesalan. Bahkan tanpa perlu dikhayalkan, penyesalan sesungguhnya membuat kita memahami arti kesalahan sebagai sesuatu yang pantas diterima. Itu artinya kita telah sampai pada fase memaafkan diri sendiri dan belajar darinya. Adapun kata-kata atau sikap orang lain terhadap kesalahan kita semestinya tak menjadi alasan kita ikut membenci diri sendiri. Bukankah kesalahan yang menjadikan kita manusiawi?



Dengan semua kesalahan yang terjadi, bisakah kita tidak menyesal? Tentu saja bisa. Tidak segala kesalahan membutuhkan kekecewaan. Saya gagal melanjutkan hubungan dengan seseorang, dan saya tak menyesali waktu-waktu saya yang terbuang bersamanya. kesedihan dan kekecewaan adalah dua hal yang bertalian meski tak selalu harus hadir bersamaan. Bukan hidup namanya jika jalan kita hanya berpapasan dengan yang baik-baik saja atau yang indah-indah saja.

"Sebanyak-banyaknya penyesalan, saya berpikir, kita punya lebih banyak perihal yang patut disyukuri" ~ falra.


Jika kamu masih belum mengerti, kamu perlu menonton film di atas, atau jika sudah, tontonlah lagi. saya mengingat film itu sesering saya menyesali sesuatu. Ada banyak film tentang mesin waktu, dan pesannya relatif sama. Namun saya lebih suka film "The Time Machine" (2002) ini.

PS: Tolong jangan menganggap saya orang bijak karena tulisan ini (nanti saya Ge-er). Saya hanya orang yang menganggap masa lalu layaknya keindahan alam. Tak perlu diusik, biar saja seperti adanya. Jika kau tak percaya, baca saja judul blog ini.



Read More

10 September 2014

Merelakan Kehilangan





Seringkali orang-orang mengalah pada perasaannya dan mengabaikan kemampuannya untuk merelakan. ~ falra




Saya pernah mencintai seseorang begitu dalam. Sangat dalam sampai-sampai ketika dia pergi sebelum sempat mengetahui apa yang saya rasakan, saya menjadi orang yang sulit menerima. Saya berpikir, betapa tidak adilnya kehidupan ketika kita diberikan perasaan cinta yang pada akhirnya tidak pernah kita miliki. Saat itu saya belum belajar, bahwa apa-apa yang tidak sempat kita miliki bukanlah sesuatu yang perlu ditangisi terlalu lama.

Tak ada gunanya mempertahankan ego dan berdebat dengan diri sendiri tentang ketidakmampuan kamu mendapatkan sesuatu. Toh, seberapa besar pun kamu bertahan pada keinginanmu, tak ada yang bisa kamu lakukan untuk memaksa hati orang lain untuk kembali, karena menyayangi tidak pernah bersifat memaksa. Ada beberapa kehilangan yang seberapa pun kuatnya kita mencari, tetap tidak bisa kita temukan kembali. Pada akhirnya, segala hal yang telah hilang dan tak ditemukan -- cepat atau lambat -- hanya bisa direlakan.

Begitulah hidup. Pada segala sesuatu yang bermula, Selalu akan ada akhir. Pada setiap penemuan akan selalu ada kesempatan untuk kehilangan. Kita terkadang terlalu  takut menanggapi datangnya kesempatan itu. Hal itu kemudian membuat kita menjaga terlalu ketat, menggenggap terlampau erat. Padahal tanpa kita sadari, hal itulah yang membuat kita kehilangan. Tidak adilkah? Tentu tidak jika sesuatu yang kita jaga itu serupa harta atau benda berharga. Namun menjaga seseorang dari kehilangan tidak begitu. Menyayangi sepenuhnya dan percaya seutuhnya, begitulah cara menjaga yang baik menurut saya.

Saya berpikir, jika pada akhirnya dengan penjagaan yang sebaik itu saya tetap kehilangan, mungkin saya patut bersyukur. Tuhan tidak membuat saya menyia-nyiakan waktu lebih banyak dengan orang yang salah.

Sudah baca atau nonton film The Fault in Our Stars? film yang belum lama tayang di bioskop tentang seorang remaja perempuan bernama Hazel Grace yang menderita kanker kelenjar tiroid yang saling jatuh cinta dengan Augustus Waters yang mengidap kanker tulang.

Ada momen di sepertiga akhir film ketika Hazel Grace menceritakan saat-saat ia masuk ke ruang Gawat Darurat Rumah Sakit. Waktu itu Hazel Grace sedang merasakan sakit yang sangat hebat di dadanya. Perawat biasanya akan bertanya skala nyerinya dari nol hingga sepuluh agar bisa menentukan obat apa yang akan diberikan. Ketika ditanya, Hazel Grace mengangkat sembilan jari. Setelah diberi obat dan nyerinya berkurang, perawat itu datang lagi dan bilang kalau Hazel Grace adalah gadis yang kuat, karena perawat itu tahu, nyeri seperti yang dirasakan Hazel Grace seharusnya bernilai sepuluh.

Bagi Hazel Grace itu tidak sepenuhnya benar, karena sebenarnya ia telah menyimpan skala rasa sakitnya yang paling dalam saat kehilangan Augustus. Berlebihan? Tidak, koq. Kehilangan memang menyakitkan. seolah-olah setiap tarikan nafas kita mengandung racun yang kemudian menetap di bagian dada yang paling dalam, dan tak ada cara tercepat untuk melegakannya, tidak juga dengan hembusan nafas panjang. Namun memaksakan kehendak tidak akan membuat segalanya menjadi lebih baik. Saya tidak ingin membiarkan diri saya lebih luka dengan mempertahankan apa-apa yang tidak seharusnya saya miliki.

Merelakan bukan tanda kelemahan, tetapi sebagian orang berpikir begitu. Sebaliknya, melepaskan sesuatu yang telah menjadi bagian dari ingatan kita itu butuh kekuatan yang besar. Lalu, hidup dengan ingatan tentang seseorang yang tak lagi ada itu butuh kekuatan yang lebih besar. Ada banyak orang yang tidak cukup kuat untuk bertahan hidup setelah kehilangan. Kenapa? mungkin karena kita belajar ikhlas dari keimanan, dan keimanan seharusnya lebih tinggi tempatnya dibanding kecintaan. Orang-orang yang meletakkan cintanya lebih tinggi akan sulit melepaskan, dan begitulah mereka sulit menjadi lebih kuat setelah kehilangan.

Merelakan kehilangan berarti membuat kesepakatan dengan diri sendiri untuk membuang beban dari setiap kenangan yang tinggal. Dengan begitu kita tidak akan melukai siapa pun, bahkan diri kita sendiri.


***


Falra. :))



Read More

31 Desember 2013

Surat Akhir Tahun

Biarkan seberapa panjang hidupmu menjadi rahasia tuhan. Yang perlu kamu cari tahu, seberapa cukupkah kamu memaknainya. ~ Falra.


Dear Falra, sahabatku.

Seperti yang kamu lihat disekitarmu sekarang, tahun masehi 2013 akan berakhir beberapa jam lagi. Orang-orang tengah sibuk mengepak masa lalu masing-masing dan memindahkannya di tahun yang baru. Mereka sedang khidmat menghitung atau menganalisa harapan yang mereka capai atau tidak dicapai sampai akhir tahun ini, juga mendesain harapan-harapan yang  baru untuk ditempelkan di dinding kamar mereka sepanjang dua belas bulan ke depan. Walaupun tak sungguh-sungguh, kamu juga melakukannya. Ya, kamu tak pernah sungguh-sungguh membuat atau merefleksikan harapan-harapanmu setiap akhir tahun. Que sera sera, begitu selalu katamu.

Harapan, fal, tidak ditentukan oleh banyak atau baiknya ia dituliskan, tapi oleh usaha dan konsistensimu untuk mewujudkannya. Lalu usaha dan konsistensi itu akan terjaga hanya ketika kamu benar-benar menginginkan harapan itu terwujud. Maka, ketika kamu tidak sungguh-sungguh membuatnya, kamu pun akan lebih banyak menemui kegagalan yang membuatmu menjadi tidak sungguh-sungguh membahasnya ketika waktu setahun itu usai. Maksudku, buatlah sesuatu yang betul-betul kamu inginkan. Dan lakukan dengan penuh perenungan. Masuklah ke dalam hatimu dan temukan sesuatu yang sesungguhnya ingin kamu wujudkan.

Kamu tahu, harapan atau keinginan atau mimpi atau apapun namanya, bukan itu dan pewujudannya yang esensial. Lebih dari sekedar mewujudkan impian, kehidupan itu tentang seberapa cukup kamu memaknainya. Dengan impian-impian yang ingin kamu wujudkan, kamu akan tahu seberapa berartinya hidupmu, setidaknya bagi dirimu sendiri. Agar pada akhirnya nanti, kamu tidak mati dengan kesia-siaan. Maka dari itu kamu perlu membuat sebuah impian yang betul-betul kau inginkan, fal. Kamu juga harus berhenti membuatnya secara situasional. Itu akan membuatmu tidak konsisten. Kamu tak akan tahu, apa kamu betul-betul masih menginginkannya disuatu saat yang nanti.


Fal,

Akhir tahun memang bukan satu-satunya waktu untuk menentukan resolusi. Ia hanyalah penanda waktu mulai dan deadline bagi harapan-harapanmu itu. kamu bisa memulainya dari mana saja sepanjang kamu menentukan batas waktunya. Tetapi sekali lagi, bukan itu yang utama. A matter of fact, itu hanyalah cara agar kamu bisa berubah menjadi lebih baik. Dengan membuat sesuatu yang kamu impikan dan mewujudkannya, kamu seharusnya menjadi seseorang yang tak lagi sama dengan dirimu di awal tahun.

Tepat ketika kamu menjadi seseorang yang lebih baik karena tercapainya impian, kamu seharusnya menjadi lebih dekat dengan tujuan hidupmu. Bahkan, kamu seharusny bisa lebih dekat dengan Tuhan-mu.

Bahkan jika apa-apa yang kamu impikan tidak menjadi nyata, kamu seharusnya bisa belajar dari seberapa keras kamu berusaha mewujudkannya.

Tidak, fal. Saya tidak sedang menyuruhmu untuk mulai mencatat perihal harapan-harapan yang ingin kau wjujudkan tahun depan. Lebih dari itu, sebenarnya saya hanya ingin kamu, kita, maksudku, kamu dan aku, bisa belajar untuk menjadi lebih baik dari diri kita yang sekarang. belajar melihat dunia lebih luas. Seperti menaiki tangga yang tinggi lalu melihat seberapa mengagumkannya perjalanan yang kita tempuh. Belajar menyisipkan esensi dari setiap impian-impian kita, agar pada akhirnya nanti, ketika tiba saatnya kita mengevaluasi, kita tidak hanya membubuhkan tanda check pada setiap impian itu lalu beralih pada impian-impian baru, tetapi  juga menjadi semakin dekat dengan sebentuk kedamaian yang dicari setiap orang: kesempurnaan.


Salam sayang dari sisi dirimu yang lain.


Falra.
Read More

23 Maret 2013

perihal kematian, penyesalan dan kenangan

pict. from here
beberapa hari yang lalu saya terpaksa harus melihat kematian lagi. saya mulai sadar tak bisa lagi menghitung jumlah kematian yang saya lihat sejak menjadi mahasiswa klinik fakultas kedokteran. melihat sesuatu yang awalnya terasa begitu mengerikan berulang kali akan membuatmu terbiasa. begitu juga dengan kematian, (jujur itu bukan suatu hal yang patut untuk dibanggakan). tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah. selalu ada kesedihan yang memilukan. salah satu yang paling memilukan. seberapa pun seringnya melihat kematian, bagi orang yang masih memiliki nurani - bahkan jika kamu buka keluarganya -, selalu ada kepedihan didalam urangan itu yang ikut menangis dan memeluk para sanak yang ditinggalkan satu persatu.

siapa yang bisa menolak kematian? siapa yang siap menerima kematian? pertanyaan itu yang sering kali terbesit di benak saya setiap kali harus dengan terpaksa mengatakan perihal kematian pasien pada keluarganya. pertanyaan yang sebenarnya saya tanyakan pada diri saya sendiri. bagaimana jika suatu saat saya yang ada di tepi tempat tidur pasien, mencoba membacakan syahadat sambil sesekali terisak. siapkah saya? siapkah kita? karena suatu saat, siap ataupun tidak "ia" akan datang.

saya tidak sedang mencoba menakut-nakuti, atau sok menggurui. toh, kita memang sudah tahu perihal tentang kematian. saya hanya berpikir, saat waktu itu datang pada orang yang paling kita sayangi justru kita baru menemukan kenyataan bahwa itu adalah saat terakhir kita melihatnya, dan detik berikutnya beberapa dari kita akan menyadari betapa sedikitnya waktu yang kita luangkan untuk orang-orang yang tidak bisa kita lihat lagi senyumnya.

*

merasa terpisah itu sakit. bahkan meski hanya sebentar. keterpisahan yang lama justru awalnya akan membuatmu lupa. lalu lupa akan membuatmu abai. maka beruntunglah mereka yang tetap setia menjaga kenangan. karena bagi mereka yang telahdipisahkan oleh jarak dan waktu, bahkan dimensi, akan selalu hidup dalam kenangan.

ada banyak hal yang kita lupakan dari orang-orang kesanyangan kita yang telah meninggal. lucunya, kita baru mengingat-ingatnya setelah mereka pergi. saya juga begitu. saya selalu menyesal punya memori yang buruk. ketika saya berumur empat tahun, tante saya meninggal dan saya menyesal tidak punya cukup kenangan  tentang dirinya. saya bahkan sudah lupa wajahnya. yang paling saya ingat justru pada momen menjelang pemakamannya. saya masih ingat bagaimana nenek saya disela-sela tangisnya meminta saya untuk memijit-mijit kaki tante saya. katanya, tante saya sedang lelah. tak bisa berjalan. tiga tahun lalu, om saya juga meninggal. saya selalu lupa minta diajarkan karate. saya ingat rasa sakit saat ia memelintir tangan saya - tentunya hanya main-main - tapi saya selalu lupa cara ia melakukannya.

setahun kemudian kakek saya meninggal. dan saya bersyukur punya banyak kenangan tentang beliau. bagaimana tawanya, bagaimana kikuknya, bagaimana ia menuntun sepedanya ke masjid setiap kali adzan berkumandang, atau bagaimana ia selalu tersenyum. selalu. bahkan saat marah. mungkin saya masih mengingatnya karena ia pergi belum lama. yang saya sesalkan adalah saya sebagai mahluk yang agaknya mengerti kesehatan tidak peka untuk menyadari penyakitnya. dan itu adalah ironi paling menyakitkan dalam hidup saya. maka yang kemudian tertinggal di ingatan saya adalah tentang telpon bahwa kakek muntah darah. sepanjang hidup berikutnya saya berharap tidak melakukan kesalahan yang sama pada siapa pun.

terus mengenang itu tidak mudah. kita harus terus memutarnya berulang kali. seperti film. tapi kita tidak butuh VCD atau file video. yang kita butuhkan hanya benda kenangan. saya seringkali membayangkan bagaimana saya akan bercerita pada anak-anak saya tentang sosok buyut yang tidak pernah mereka kenal melalui sepedanya. saya membayangkan mereka akan bertanya "pa, kakek buyut itu seperti apa?" lalu saya akan mulai bercerita. pada saat yang bersamaan, saya bisa tetap menjaga kenangan saya tentang kakek saya.

*

siapa bilang "jangan menengok ke masa lalu" itu selalu benar? butuh keberanian dan ketegaran untuk mengingat masa lalu supaya tetap sadar darimana kita berasal dan kemana kita akan melangkah serta sudah sejauh mana perjalanan hidup kita. mengenang bukan suatu pekerjaan yang sia-sia. ada pelajaran di balik kenangan. lalu, dari kenangan seseorang bisa hidup lebih lama daripada umurnya. tapi lebih dari itu, karena kenangan, kita tetap bisa menjadi manusia. mahluk yang memiliki akal dan pikiran.

jadi seberapa banyak kenanganmu dengan ayahmu? dengan ibumu? dengan anakmu? dengan kekasihmu? karena saat mereka pergi tak ada lagi yang bisa menemanimu selain kenangan mereka. seberapa sering kamu menatap wajah mereka? karena suatu saat nanti ada masa dimana kamu akan lupa pada wajah mereka, pada senyum mereka, pada tawa mereka, kecuali kamu masih memiliki kenangan.

saya percaya, mereka yang mau mengenang adalah orang-orang yang menghargai masa lalu sebagai sesuatu yang masih layak untuk dipeluk.
~Falra
Read More

01 Juni 2012

(K/S)esal

ada penyesalan yang tergores tepat di awal tengah tahun ini. rasanya lebih sakit daripada diputusin cewek. lebih perih. saya di Tuming (turun minggu; adalah hukuman yang diberikan dengan menambah 1 minggu stase pada satu subdivisi medis di rumah sakit.) oleh seorang supervisor di tempat saya bertugas sebagai Coass (dokter muda; red) karena alasan peraturan yang dibuatnya sendiri. peraturan yang katanya sudah menjadi turun-temurun di bagian ini. sebuah aturan yang menurut saya tidak masuk akal. menghafal seluruh pasiennya dengan lengkap dan terperinci, lalu ketika ia berkunjung, ia akan menanyai kami para coass semua tentang pasiennya. sebuah hal yang bahkan ia sendiri tidak sanggup melakukannya.

lalu, hari ini ia membentak. bertanya siapa yang tidak bisa menghafal? aku kalah. tidak yakin pada hafalanku sendiri. lalu disanalah penyesalan itu mulai membumbung. mengisi seluruh dadaku hingga sesak.

namun penyesalan yang timbul itu bukan karena saya tidak sanggup menghafalnya, karena sudah hampir satu minggu di stase ini kerjaan saya dan beberapa teman-teman yang lain hanya menghafal sesuatu yang sebenarnya tidak layak untuk dijadikan prioritas bagi seorang Coass. yang saya sesalkan adalah, bahwa itu hanya Tes Mental. Ia tidak benar-benar bertanya. aargh... betapa kesalnya saya...

aargh... Damn.

satu minggu yang sia-sia. minggu depan akan menjadi deja-vu yang paling mnejengkelkan...
Read More

31 Desember 2011

Homework again.


Sebelumnya sy minta maaf sama neng Mevi, karena seperti entri terbaru anda Writer's block, sy juga sempat kehilangan semangat menulis karena kesibukan yang menggunung sampai PR yang eneng berikan harus terjeda sebulan lamanya.*Gomennasai...

OK, kita mulai saja PRnya. Silakan bertanya. 


Mev: Tokoh panutan dalam hidupmu siapa? Sebutkan alasannya yang dapat menggugah air mata!
Saya: ada banyak sih yang tokoh yang sy jadikan panutan, salah satunya tokoh buku#Lha? hehe. ngga ding. Tokoh yang paling sy panuti ya tentu saja, Nabi saya. Muhammad SAW. dan saya kira alasannya jelas... 

Mev: Paling males kalo disuruh ngerjain apa? Kenapa?
Saya: Paling males kalo disuruh ngerjain sesuatu yang sebenarnya bisa dikerjakan sendiri sama si pesuruh. gimana g malas coba? seharusnya bisa dikerjakan sendiri tapi dia malah......*2 jam kemudian*....harusnya tidak begitu. hah..hah...fiuh!.
 
Mev: Pernah marah ga? Kalo pernah karena apa?
Saya: bohong kalo seseorang ditanya seperti itu dan dijawab belum meski sebetulnya saya orang yang jarang marah (bohong!). karena dimarahin sama orang yang suka marah-marah, padahal sebenarnyan ngasi tahunya ngga perlu pake marah. bingung kan?
Mev: Sebutkan alasan kenapa?
Saya: kamu tanya Kenapa? kenapa adalah buah dengan pohon yang tinggi dan airnya enak diminum dan dijadikan es kenapa muda... :) 

Mev: Kalo bisa nambahin cabang olahraga untuk ditambahkan di kompetisi Sea Games kemarin, apa yang paling cocok? Harus mewakili apresiasi bangsa dan negara ya!
Saya: ada. cabang Atletik bagus ditambahin olahraga mengejar koruptor...  

Mev: Sebutkan hal yang belum pernah kamu bisa dapetin sampai sekarang!
Saya: pacar, ujung  perjalanan backpacking saya dan gelar insinyur arsitek. yang pertama kalo ada yg mau daftar silakan. (hehee, cengar-cengir). yang kedua, boro-boro, mulai aja belum. yang ketiga, ya iyalah. gue mahasiswa kedokteran.#ngakak.


Mev: Makanan apa yang menurutmu paling aneh didunia dan pengen kamu cobain? Makanannya harus beneran ada dan bisa di cari di mbah google ya kalo ada yang mau tau bentuknya :D
Saya: Sate belalang... kalo belalangya dibakar, apanya yang mau dimakan? sy jadi berpikir tu sate dulunya yang makan orang cadel. maksudnya berarang....



Mev: Sebutkan 7 keajaiban dunia menurut versimu. 
Saya: 1. Manarola (Italia). 2. 83-42  (Greenland). 3. Raja Ampat (Indonesia). 4. Great Barrier Reef (Australia). 5. Mount Roraima (Venezuela). 6. Socotra (Rep. of Yemen). 7. Manusia.

Mev: Sebutkan mimpi teraneh yang pernah kamu alami.
Saya: Sebenarnya mimpi yang aneh itu banyak, hanya saja sbagian besar mimpi ditakdirkan untuk dilupakan sasaat setelah bangun. sy pernah mimpi sekolah di Hogwarts bareng Harry Potter dkk trus ditengah tahun ajaran sy terlibat intrik bersama Hobbit Frodo Baggins sambil menunggangi Saphira, Naganya Eragon... akibat kebanyakan baca tu novel kyknya.
 
Mev: Kalo ada kesempatan untuk main film Hollywood, kamu mau main film  bareng siapa?
Saya: Sama Abigail Breslin. anak yg cute...


Mev: Andai kamu presiden Amerika, apa yang akan kamu lakukan untuk menjaga hubungan baik terhadap semua Negara-negara di dunia, terutama dengan predikat Negara adi kuasa. Jawaban harus serius dan berbobot.
Saya: wah, dari td prtanyaannya berat-berat. sy belum makan Mev, g da tenaga... hyung...
Gini, kalo jadi presiden amerika, ya jalin sj hub. bilateral yang mutualisme. yang jelas tidak dengan cara invasi dengan presumsi dan asumsi yang tidak jelas setidak jelas jawaban ini... hehe...



nah, itu jawaban dari saya. sekali lagi, maaf telat kumpul PRnya.... but, for sure, thanks 4 choosing me.
Read More

27 November 2011

Homework

pict. from here
yah, (semoga) untuk kali ini (saja) sy akan menuliskan sesuatu yang bukan imajinasi saya. sesuatu yang menuntut kenyataan meski pada kenyataannya, mungkin kalian yang membaca tidak sepenuhnya percaya apa yang saya tulis ini nyata. ini PR dari neng Ayu "The Hiker". hmmm, ini lebih mirip penyakit yang (dengan sengaja) ditularkan daripada PR. hahahhaa.

yah,mungkin beruntung dan sial secara relatif memiliki sekat yang tipis... Lets do the homework.

I. Sebutkan 11 hal tentang diri saya? (knapa pertanyaannya jadi rancu begini ya?)

1. Saya Introvert. jadi ketika dapet PR ini, agak malu-malu meong juga nulisnya...
2. suka Cappuccino. alternatif kedua kopi. saya yakin, kalo diadakan penelitian tentang penikmat kopi paling banyak, salah satunya adalah blogger... mungkin dengan menelusuri PR ini, bisa diketahui. (mungkin lho ya!)
3. meski ngga suka, tapi keseringan lupa. amat pelupa, apalagi nama orang.
4. suka berhayal n melamun. kalo ada penelitiannya juga, pasti blogger juga banyak.
5. suka sketching, ngomik.
6. suka nyanyi sendiri sambil metik gitar.
7. suka cewek berkacamata-kemeja lengan panjang dilipat-jeans yg easy going. ne mulai ngayal lagi..
8. like to chewing gum.
9. baru-baru ini suka fotografi.
10. unfortunately, terlalu mudah tertidur. wherever, whenever.
11. pengen backpacking sambil menerapkan ilmu kedokteran ke masyarakt yang saya temui selama perjalanan nantinya.

Huft! selesai 1 nomer.

II. Jawablah Pertanyaan Ayu dibawah ini! (yaah, soal essay. susah nulis pertanyaannya neh, ngga bisa kopas. hehe) 

Ayu: kapan pertama kali kamu bikin sakit hati orang?
Saya: waah, pertannyaan pertamanya ja dah susah neh, Yu. saya kan ngga bisa tahu kalo orang lain menyembunykan Ill feel-nya sama sikap atau ucapan saya. tapi yang saya tau, mungkin 5 tahun yang lalu. ketika itu... (panjang tuh ceritanya!)

Ayu: kalo kamu nyakitin orang, apa sih yang ada di pikiran kamu?
Saya: honestly, I never mean it. and I'm really sorry for that. saya hanya berusaha menyampaikan kenyataan. toh terkadang kenyataan memang menyakitkan, bukan?

Ayu: suka hujan atau senja?
Saya: hmm, pilihan yang sulit. yang jelas hujan di senja hari bukan hal yang indah menurut saya.

Ayu: apa yang ada di pikiranmu saat ini?
Saya: sebenarnya saya lagi nulis apa sih?

Ayu: pilih naik KOPAJA atau Kowantas Bima?
Saya: hahaha, pertanyaan macam apa ini? yang mana aja deh asal lu yang bayar, Yu!

Ayu: Kapan terakhir kali kamu tidur dikelonin mama/papa?
Saya: hah? OK, seriously, pertanyan macam apa ini?

Ayu: kapan terakhir kali kamu disuapin orang tua?
Saya: kalo ngga salah, kelas 1 SMP. masih wajar ngga tuh?

Ayu: kapan terakhir kali kamu ngompol?
Saya: kapan ya? waktu saya terakhir ganti celana karena ngompol. *Ya iya laaah...

Ayu: gimana kalo kamu punya teman deket yang sejenis sam kamu, dan ternyata gay?
Saya: *bergidik. iiiii....

Ayu: Suka naik gunung?
Saya: Banget. tapi saya terjerat aktivitas, jadi belum pernah. #booooooo!!
eh, tapi kalo bukit dulu sering. orang anak kampung...

Ayu: gunung mana yang paling pengen kamu daki saat ini sampai ke puncak?
Saya: Semeru. tapi ngga ada duit, dan belum dapat kesempatan...


yeah! selesai.... B)
Thats it Yu, Puass? puass?? puasss?? hehehe
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.