Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

21 Maret 2015

Kecupan, Rumah dan Buku-buku (Puisi)

Curhat Sepotong Kecupan

Selagi tubuhku belum melayang, mendarat dan menghilang dengan sempurna
Aku ingin dibesarkan bersama kehidupan dan kenangan yang tak pernah padam.
Bila tiba saatnya aku menghempas, letakkanlah keikhlasan di setiap jejak bibirmu.
Agar kelak bertunaslah harapan, dan bertumbuhlah angan-angan
serta agar kebahagiaan memulai paginya dari sana.

Sematkanlah kerinduan pada setiap selamat tinggal dan selamat datang
Di kening dan jemari orang-orang yang telah atau akan ditinggalkan
Ucapkanlah doa-doa tentang kepulangan masa lalu setelah menjauh,
tentang keselamatan masa depan sebelum kembali,
juga tentang masa-masa kepergian yang acap kali misteri.

Aku ingin tinggal di kening istri-istri yang menjaga dirinya,
di pipi kekasih yang memeluk kerinduannya,
di punggung tangan orang tua yang merelakan anaknya berangkat sekolah,
juga di mata jendela yang menunggu cahaya pagi.

aku ingin mati dari bibir orang-orang penyayang,
dari ingatan-ingatan yang tak sudi kehilangan,
dari nafas-nafas pecinta yang saling melupakan.

 Biarkan maut menemukanku di tempat yang lebih bermakna.



Rumah dan Sajak-sajak tertidur

Aku sungguh-sungguh sedang menantikan malam datang bertandang
Di tengah padang gelap aku merasa bisa merakit rumah  dengan ketenangan
Saat itu, orang-orang terlalu sibuk membangun mimpi dan enggan mengotori jalan
Angin akan mengantuk dan dedaunan adalah tangan-tangan yang berdoa.
Waktu juga kegelisahan bernafas tanpa nyanyian mesin-mesin panas.

Aku ingin tinggal di atap yang lengang dari kesedihan
Setiap malam, kita akan membacakan sajak atau menanam kenangan
di kening anak-anak kita sebelum mereka tertidur.
Sambil terus berharap ketika esok tiba,masa lalu berubah menjadi tawa,
Begitu kebahagiaan mendekap wajah mereka dan mendekam di sana.

Rumah kita tak butuh neon atau mesin pendingin udara
Kata-kata dan irama adalah kesejukan yang alami
Bila malam tiba aku akan menyalakan ruang tamu dengan puisi,
Agar kesenduan bisa melihat wajahnya sendiri

Di kamar, Aku selalu berharap bisa tidur di atas sajak,
Jangan pernah takut kedinginan,
Pelukan tak pernah gagal menjadi selimut terhangat
Lengan-lengan kita terus merambat erat mengikat
Mereka tumbuh sebagai sesuatu yang tak bisa ditebang
Juga api yang tak sejahat nyala puntung rokok.



Buku tertawa

setelah wanita itu pergi ke sebuah pulau yang tidak pernah dikenalnya, kau sering membunuh kesendirian dan menghidupkan kesepian di perpustakaan.
Kau hendak tinggal bersama buku-buku yang kerap berharap bertahan pandai selamanya.
kau menghamparkan mereka di atas meja layaknya semesta kata-kata atau peti yang mengandung rahasia.
Kemudian kesedihan yang tak bersudah membuat semua buku itu membuka sangat lebar. Bahasa, kata, dan aksara keluar dari lembar halamannya masing-masing. Tiba-tiba saja setiap huruf dan angka menguap, berkembang dan mengambang menjadi suara tawa.

Buku-buku itu membuka-katupkan dirinya seperti bibir yang sedang terbahak.
Kau merasa sedang berada di dalam pertunjukan lawak dengan penonton yang sakit perut karena banyak tergelak.
Buku-buku renta yang berbaris di raknya juga tertawa sangat keras dan lepas.
Suara tawa buku-buku itu membanjiri perpustakaan yang pengunjungnya hanya dan selalu sedikit. Kau lalu membayangkan buku-buku itu basah dan mengapung bagai perahu di atas suara tawanya sendiri. Kau dan pengunjung lain hanya penumpang yang ikut berlayar.

Kini segenap buku di dalam perpustakaan sempurna tertawa. Tak ada lelah atau jeda yang sudi menghentikan suara tawanya.
Semua buku itu terus saja tertawa, mengabaikan peringatan dilarang berisik yang digantung di dinding perpustakaan.
Kaulah satu-satunya yang tidak berhasil menerka guyonan itu. petaka, celaka dan semua duka kepergian lelaki itu membuat kau lupa cara menikmati lelucon.

Buku dan perpustakaan adalah dua hal yang kau sukai, sedangkan tawa dan kepergian seorang lelaki di hari yang sama adalah dua hal yang tidak bisa kau mengerti. Kau tak tahu buku-buku itu rupanya sedang menertawakan diri mereka sendiri. Hidup lebih sebagai pajangan membuat kalimat dan gambarnya melepaskan diri ke udara. Entah sebagai tawa atau air mata. Begitulah buku-buku membaca dirimu dan mengajarkan bahwa tawa adalah cara yang tepat untuk menikmati kesedihan. 
Read More

29 Januari 2014

Tiga Permintaan Terakhirku Sebelum (Kau) Mati


sebelum kau mati, aku ingin tidur di pangkuanmu.
sehingga kehangatan akan bertunas di kepalaku
seperti setiap kali kau menyisirnya dengan jemari
lalu kerinduan akan berdiam di hari esok
dan aku akan tetap percaya kau masih hidup di sana.


sebelum kau mati dan ragamu menjadi basi, aku ingin tidur bersamamu.
sehingga setiap pelukan akan membelenggumu lebih erat
dan ruhmu mengenal rumah tempat ia bisa selalu pulang.


sebelum kau mati, kekasih, aku ingin kau membunuhku
sehingga kematian menggenapkan dirinya
dan menidurkan kita di dalam keabadian.
Read More

07 Juli 2013

beberapa alasan kenapa aku tak mau memimpikanmu

aku tak mau pulang bertemu mimpi
satu-satunya yang nyata di sana hanyalah ketidakpastian
di dunia itu, kaki-kaki kita tak pernah benar-benar berpijak
di negeri itu, kamu tak sungguh-sunggu menyimpan cinta.


aku tak mau kembali memeluk mimpi
di balik bantal takdir dan rahasia merahasiakan dirinya sendiri
lalu dibiarkannya langit menghujankan pertanyaan kepada pagi
aku kemudian menemui kenyataan dan kamu yang tidak sama lagi
kita menjadi ikatan yang tanpa arti


katamu, langit menggantungkan rahasia-rahasia.
kenapa ia disebut rahasia jika semua orang dapat melihatnya 
hanya dengan cahaya dan sedikit tengadah?
bukankah langit begitu lapang?
seperti penerimaan rasa seorang kekasih yang tengah patah hati
aku ingin tetap hidup jauh di luar sana,
 di antara mimpi yang digantungkan langit.

aku tak mau hidup dalam mimpi
di sana hanya ada cinta yang tak pernah sakit
pelukan yang tak mampu diiris luka
karena setiap kali terbangun,
aku akan mengenal sakit dan luka
lebih nyata daripada sebelumnya.


#7sketsalog
Read More

08 Juni 2013

Suatu Sore di Hari Minggu

1
Suatu sore di hari minggu aku menemukan permulaan
Ia sedang duduk di atas rumput dengan matahari memeluk punggungnya
Matahari mengecup pipiku
Matanya menemukan mataku
Mataku menemukan senyumnya
Lalu matahari memeluk aku dan permulaan
Suatu sore di hari minggu aku menemukan kita.

2
Sore di hari minggu selalu menceritakan dirimu
yang tak bisa lepas dari dekapan kertas dan genggaman pena
kau duduk di atas rumput sambil menuliskan sajak yang tak mampu dibahasakan tinta.
Wajahmu dalam kepalaku sepakat menyebutmu sebagai rahasia
lalu rahasia dalam ingatanku menetap sampai senja luput dimakan usia
kau, rahasia dan ingatan dalam kepalaku pelan-pelan
menjelma menjadi cita-cita yang tenggelam dalam sebuah cerita

3
Suatu hari minggu, sore tidak jadi datang
Katanya, Ia terhalang oleh siang yang tak mau pulang
aku memeluk lututku sendiri sambil membaca sajak yang tak bisa didengarkan semesta
tentang sore-sore yang menghijau bersama jumput rerumputan.
tentang kamu yang selalu datang bersama permulaan
dan mata-mata yang kecil dan senyum-senyum yang mungil.
Kau tidak perlu datang. Hari ini aku sudah duduk bersama dirimu yang seminggu lalu.

you know a cat always have a secret even you don't look into it's eyes
4
Suatu siang di hari minggu, aku menunggu permulaan.

Malam menunggu lembayung. Lalu kenangan menunggu untuk dirindukan.

#7sketsalog
Read More

31 Agustus 2012

surat rindu pertama

Pict from here
1 September 2012

lagi
lagu dari radio telah membawa kamu
beserta aroma rambutmu
melayang melewati lembayung
hingga menenggelamkan aku bersama sesuatu yang dulu
kita ciptakan

kita menyebutnya kenangan

dear Kila,

entah bagaimana aku memulainya. apa kabar menjadi terlalu klise bahkan canggung untuk kita yang telah bersama selama duapuluh kemarau. tapi tetap saja aku hampir mati untuk mengetahui kabarmu. apa kabar, sayang?
seperti yang kau tahu, ini surat pertama yang aku tulis -- dan pastinya surat pertama yang kau terima jika kau sudah membacanya -- semenjak jarak benar-benar menjauhkan aku darimu, semenjak waktu menjadi terlalu naif pada saat-saat kerinduanku, mungkin juga kerinduanmu. ya, aku merindukanmu, Kila. lebih dari aku merindukan hujan yang katanya tak pernah lagi mengunjungi ladang kita. lebih dari aku merindukan atap beranda rumah kita yang bocor lalu saat hujan turun kau akan menadah ember seraya menggerutu padaku untuk segera memperbaikinya. ah, kau nampak selalu manis, bahkan saat menggerutu. tapi aku lebih merindukan dirimu daripada kenangan tentangmu.
Kila, apa kau merindukanku juga?


aku telah membungkus kota
kutitipkan bersama kata
yang kutuliskan dengan tinta kita

kau dan aku menyebutnya rindu

Kila,
apa kabarnya rumah kita? apa masih seperti dirimu? karena senyata apapun rumah kita, tetap saja tempat pulang yang aku rindukan itu adalah dirimu. rumah di sini penuh kesedihan. aromanya malang saat siang dan rona-ronanya kelam saat malam. ada begitu banyak keegoan yang  mengambang keluar dari jendela-jendelanya. kau jangan datang ke sini, ya! rumah di sini menjadi tempat yang terlalu sempit. cinta kita tidak akan muat di dalamnya. sementara, biarkan saja cinta itu terikat pada benang merah yang masing-masing ujungnya menyimpul di jari kelingking kita. tak habis pikir aku membayangkan panjangnya untaian cinta kita, melewati pekarangan kita, melewati hutan, melewati bahari, hingga ke kotaku.

eh? apa kabarnya pohon Kenanga yang kau tanam di pekarangan kita? aku rindu juga padanya. kau biasanya akan menyiraminya dengan kenangan. maka ia tumbuh menjadi masa lalu yang selalu bisa kau dan aku pandangi sambil menikmati semangkuk es serut. mesranya. di kota ini tak ada pekarangan, Kila. wajahmu akan langsung menatap keriuhan, kekeruhan, atau bahkan kerusuhan yang menggembel di tengah jalan. tak ada kehangatan mentari yang rela mengunjungi pagi di kota ini, maka pagi hanya akan menjadi subuh-subuh yang tertunda dimana pria akan lupa mengecup kekasihnya demi pekerjaan. dirumah yang aku tempati ini hanya ada sebuah pot tembikar dengan tanah kering yang cuma bisa kutanami fotomu. berharap-kalau-kalau ia bisa tumbuh menjadi sekuncup senyummu yang bisa ku kecup setiap hari.

lalu, apa kabarnya senyummu? masihkah ia menyimpul simetris seperti ketika aku menjadi alasannya? senyumanku adalah satu-satunya yang bisa kusisakan untukmu, Kila. kota ini telah mengambil semuanya. bahkan sekecup perpisahanmu di pipiku juga sepeluk perpisahan yang ku celengkan di laci lemari. ah, aku rindu mempertemukan senyum kita.

Makila Aristiana,
ah, betapa nikmatnya mengeja namamu. hal paling nikmat yang bisa kulakukan saat dahaga dijejalkan dalam pekerjaanku. sabar ya. aku pasti akan pulang. tapi mungkin tidak dalam waktu dekat.
semoga bintang-bintang selalu menjagamu.

salam sayang,
kekasihmu,

Wikara

PS: balaslah segera.
PPS: dengan ini kutitipkan sebuah lagu dalam kaset yang dinyanyikan band kesukaanku. judulnya "bertahan disana". bertahanlah, Kila.
PPPS: kirimkan aku lagi fotomu...
Read More

18 Juli 2012

Puisi Senjakala

Seperti Layang-Layang Api yang meramaikan sandiakala, Aku masih berharap kau masih sudi meramaikan kesenduanku.



17 Juli 2010

Aku ingin warna hijau di soreku.
bukan cokelat.

Dizastri,
andai saja kau mampu bertahan tanpa pertanyaan, maka aku akan berhenti bertanya. karena kau tahu, aku tak ingin percakapan kita berakhir, meletakkan kita pada titik nadir, berkata "ini semua adalah takdir," dan berlalu dibelakang angin yang berhembus getir.


tanpa seucap salam pun.
akhir-akhir ini selalu begitu.
aku akan tersenyum karenanya. kecut.

hari ini aku melihat Layang-Layang Api saling menyambar, beterbangan dibawah senja yang jingganya membakar di ujung yang satu dan gelap mulai mengiris di ujung yang lain. meski November belum tiba, mereka sudah disana, menjadi iring-iringan gerimis yang menangisi malam. tahu kah kau Diza, mereka mengingatkanku pada percakapan terakhir kita dibawah hujan yang mengguyur, menghabiskan sore yang sama dalam guratan langit yang benar-benar berbeda. mengingatkan aku juga kepada tawamu yang kini masih kusimpan dalam sekotak biskuit, yang kubuka setiap kali aku bercokol bersama sepi setengah tidur.

aku bertanya, kau menjawab,
aku bertanya lagi, kau diam,
lama, lama sekali.

bagiku, cinta adalah keakuan dan kekamuan yang mengkita. lalu didalam kekitaan kita ada seutas keterikatan yang mengkait. maka pernah suatu senja, kau seperti tengah mengendurkan kait dengan keheningan. terlebih ketika angin senjakala mendukungmu. ikut diam dan menjadi benci pada api lilin yang menari. seketika kita dipisahkan oleh alunan instrumental dan malam yang tak lagi romantis. aku tak suka itu. ya, mungkin sejak saat itu aku jadi tidak suka pada keheningan malam.


Diza,
seseorang pernah bicara mengenai ketakutan padaku. katanya, setiap orang akan menjadi pengecut terhadap sesuatu. dan tahu kah kau, aku merasa sesuatuku adalah kau, matamu yang empat, dan senyummu yang muram. ketakutanku adalah saat kau beralih pada transparansi fisik, memudar, menjadi siluet. kepengecutanku adalah kau dengan segala pesonamu namun dengan pandangan yang kontralateral. ya, tidak spesifik, tapi aku tahu.



mungkin perahu kita hanya menunggu siluetmu
atau mungkin hanya aku yang malas mengangkat sauh
menyaksikan dermaga menahan peluh
merasa ragu meninggalkanmu jauh
meski sangat jelas tanganmu meraih Layang-layang Api. 

tidak pernah ada yang tahu satuan jarak yang memisahkan keterikatan, Diza. aku juga tidak ingin tahu. yang jelas, diammu juga jawabanmu yang seadanya meletakkan kita pada jarak yang sangat jauh. jadi, ketakutanku adalah sebuah logika sederhana yang masuk akal. karena diujung semua logika ciptaan yang waras, aku tidak ingin kehilangan dirimu.

salam rindu lagi,
aku, Toples Gula.
Read More

24 Juni 2012

Terik


Hari ini matahari sedang datang bulan
Ia lalu adalah kau yang menjelma
Menjadi terlalu sensitif pada keadaan
Selalu terlalu pagi untuk panas kegerahan
Ceracaumu juga pedas yang tertahan
Sementara tak ada senyum yang mengawan
Atau sayang yang menghujan.
Read More

12 Juni 2012

sketsa

aku ingin mengenalmu seperti gurat, segaris segaris
yang biasa kau kenalkan pada kertas
memindai biografismu bergores-gores
ke dalam otakku yang paling dalam. hippokampus
terus. tanpa putus

aku ingin menemuimu di dalam sketsa
seperti gores-goresnya yang saling menemukan.
membentuk. mewujud.
tak perlu lama, namun penuh wacana, makna.
lalu biarkan naluri yang mencukupkannya

aku ingin mendekatimu bersama arsir
yang seperti aku hasratkan dekat dengan realisme
seperti karbon pensil yang kau dekatkan dengan kapas
tidak ragu, tanpa penghapus
merajakan abu-abu yang serius
dan biarkan tawa yang menjadikannya berwarna.



Pict from here
Read More

08 Juni 2012

Air

kataku adalah air pendatang
masih menghujan sesenggukan, belum mengalir.
mendarat pada daun. menggantung.
sebelum ditiupkan udara lalu mengenal tanah
mengngarai.
sudikah ia diizinkan mengalir?
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.