01 Juni 2012

(K/S)esal

ada penyesalan yang tergores tepat di awal tengah tahun ini. rasanya lebih sakit daripada diputusin cewek. lebih perih. saya di Tuming (turun minggu; adalah hukuman yang diberikan dengan menambah 1 minggu stase pada satu subdivisi medis di rumah sakit.) oleh seorang supervisor di tempat saya bertugas sebagai Coass (dokter muda; red) karena alasan peraturan yang dibuatnya sendiri. peraturan yang katanya sudah menjadi turun-temurun di bagian ini. sebuah aturan yang menurut saya tidak masuk akal. menghafal seluruh pasiennya dengan lengkap dan terperinci, lalu ketika ia berkunjung, ia akan menanyai kami para coass semua tentang pasiennya. sebuah hal yang bahkan ia sendiri tidak sanggup melakukannya.

lalu, hari ini ia membentak. bertanya siapa yang tidak bisa menghafal? aku kalah. tidak yakin pada hafalanku sendiri. lalu disanalah penyesalan itu mulai membumbung. mengisi seluruh dadaku hingga sesak.

namun penyesalan yang timbul itu bukan karena saya tidak sanggup menghafalnya, karena sudah hampir satu minggu di stase ini kerjaan saya dan beberapa teman-teman yang lain hanya menghafal sesuatu yang sebenarnya tidak layak untuk dijadikan prioritas bagi seorang Coass. yang saya sesalkan adalah, bahwa itu hanya Tes Mental. Ia tidak benar-benar bertanya. aargh... betapa kesalnya saya...

aargh... Damn.

satu minggu yang sia-sia. minggu depan akan menjadi deja-vu yang paling mnejengkelkan...
Read More

31 Mei 2012

DIA

Akhirnya hari itu kudapati Dia sedang bercengkrerama dengan senyum tipisnya sendiri dan matanya yang mungil-mungil. Menertawai senja yang belum juga mampir untuk menitip rona. Tak ada renda, tak ada motif, tak juga warni, hanya seragam biru yang menyeru. Lalu bulir peluh. Mengkilat dijilat surya.

Akhirnya hari itu kulihat Dia. tersenyum lagi. Aku membalas. Senyum kami mengait. satu detik, dua detik, Ah aku kalah. Senyumnya makin lebar, merayakana kemenangan. Aku menyebut nama, "Rara?" Dia mengangguk sekali. Kemudian, bayangannya mengajak pulang, memburu waktu, mengejar malam.

Hari itu Dia menjatuhkan senyumnya...
Read More

07 Mei 2012

Perhentian Imaji

Di halte ini lagi, sekali waktu aku duduk di sudut. Mencari makna yang lalai digadaikan kalender tentang betapa kita telah jauh tenggelam dalam dunia yang terpisah nan sarat. Kita mencoba tersesat dengan mengambil rute yang berbeda dan melupakan tujuan kita menggulirkan roda-roda pelangi. Kita hanya membawa satu bekal. Kau dengan kenangmu, aku bersama imajiku. Entah untuk berapa lama, aku akan menyantapnya sambil rela menadah jalan kosong mengalasi antara. Kau juga mungkin akan lupa bertanya kapan kita akan menemukan kursi bersisian di bus yang sama. Perhentian pertama...
Read More

13 April 2012

Sejumput Kerinduan yang Dimakan Waktu


Pict. from here
Sudah sepuluh kemarau sejak kau tak lagi terlihat di tebing Padangkawi, memandangi lautan yang selalu bungkam setelah mencuri kekasihmu. Sambil berdiri, kau dulu selalu bertanya pada angin laut tentang kabar kekasihmu itu setiap Minggu sore, mengacuhkan para camar yang menertawaimu. Saat lelah berdiri, kau mulai mencari ranting pohon lalu duduk sambil mengukir nama kekasihmu itu di tanah. Kau tak tahu, aku hampir selalu mendapati airmatamu merembes di tebing pipimu yang halus sebelum meloncat ke sela  huruf-huruf yang kau tulis.
Pertama kali aku melihatmu di sana, kau begitu ceria dengan baju putih dan rok bercorak bunga Alamanda. Masih bisa kuintip sesimpul senyum yang kau gantungkan. Kala itu kau tengah melambai pada kapal kayu yang melintasi garis cakrawala. Hingga senja tertidur kau masih disana, dengan senyum yang tak mengendur.
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.