Tampilkan postingan dengan label imajinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imajinasi. Tampilkan semua postingan

29 Januari 2014

Tiga Permintaan Terakhirku Sebelum (Kau) Mati


sebelum kau mati, aku ingin tidur di pangkuanmu.
sehingga kehangatan akan bertunas di kepalaku
seperti setiap kali kau menyisirnya dengan jemari
lalu kerinduan akan berdiam di hari esok
dan aku akan tetap percaya kau masih hidup di sana.


sebelum kau mati dan ragamu menjadi basi, aku ingin tidur bersamamu.
sehingga setiap pelukan akan membelenggumu lebih erat
dan ruhmu mengenal rumah tempat ia bisa selalu pulang.


sebelum kau mati, kekasih, aku ingin kau membunuhku
sehingga kematian menggenapkan dirinya
dan menidurkan kita di dalam keabadian.
Read More

08 Juni 2013

Suatu Sore di Hari Minggu

1
Suatu sore di hari minggu aku menemukan permulaan
Ia sedang duduk di atas rumput dengan matahari memeluk punggungnya
Matahari mengecup pipiku
Matanya menemukan mataku
Mataku menemukan senyumnya
Lalu matahari memeluk aku dan permulaan
Suatu sore di hari minggu aku menemukan kita.

2
Sore di hari minggu selalu menceritakan dirimu
yang tak bisa lepas dari dekapan kertas dan genggaman pena
kau duduk di atas rumput sambil menuliskan sajak yang tak mampu dibahasakan tinta.
Wajahmu dalam kepalaku sepakat menyebutmu sebagai rahasia
lalu rahasia dalam ingatanku menetap sampai senja luput dimakan usia
kau, rahasia dan ingatan dalam kepalaku pelan-pelan
menjelma menjadi cita-cita yang tenggelam dalam sebuah cerita

3
Suatu hari minggu, sore tidak jadi datang
Katanya, Ia terhalang oleh siang yang tak mau pulang
aku memeluk lututku sendiri sambil membaca sajak yang tak bisa didengarkan semesta
tentang sore-sore yang menghijau bersama jumput rerumputan.
tentang kamu yang selalu datang bersama permulaan
dan mata-mata yang kecil dan senyum-senyum yang mungil.
Kau tidak perlu datang. Hari ini aku sudah duduk bersama dirimu yang seminggu lalu.

you know a cat always have a secret even you don't look into it's eyes
4
Suatu siang di hari minggu, aku menunggu permulaan.

Malam menunggu lembayung. Lalu kenangan menunggu untuk dirindukan.

#7sketsalog
Read More

31 Agustus 2012

surat rindu pertama

Pict from here
1 September 2012

lagi
lagu dari radio telah membawa kamu
beserta aroma rambutmu
melayang melewati lembayung
hingga menenggelamkan aku bersama sesuatu yang dulu
kita ciptakan

kita menyebutnya kenangan

dear Kila,

entah bagaimana aku memulainya. apa kabar menjadi terlalu klise bahkan canggung untuk kita yang telah bersama selama duapuluh kemarau. tapi tetap saja aku hampir mati untuk mengetahui kabarmu. apa kabar, sayang?
seperti yang kau tahu, ini surat pertama yang aku tulis -- dan pastinya surat pertama yang kau terima jika kau sudah membacanya -- semenjak jarak benar-benar menjauhkan aku darimu, semenjak waktu menjadi terlalu naif pada saat-saat kerinduanku, mungkin juga kerinduanmu. ya, aku merindukanmu, Kila. lebih dari aku merindukan hujan yang katanya tak pernah lagi mengunjungi ladang kita. lebih dari aku merindukan atap beranda rumah kita yang bocor lalu saat hujan turun kau akan menadah ember seraya menggerutu padaku untuk segera memperbaikinya. ah, kau nampak selalu manis, bahkan saat menggerutu. tapi aku lebih merindukan dirimu daripada kenangan tentangmu.
Kila, apa kau merindukanku juga?


aku telah membungkus kota
kutitipkan bersama kata
yang kutuliskan dengan tinta kita

kau dan aku menyebutnya rindu

Kila,
apa kabarnya rumah kita? apa masih seperti dirimu? karena senyata apapun rumah kita, tetap saja tempat pulang yang aku rindukan itu adalah dirimu. rumah di sini penuh kesedihan. aromanya malang saat siang dan rona-ronanya kelam saat malam. ada begitu banyak keegoan yang  mengambang keluar dari jendela-jendelanya. kau jangan datang ke sini, ya! rumah di sini menjadi tempat yang terlalu sempit. cinta kita tidak akan muat di dalamnya. sementara, biarkan saja cinta itu terikat pada benang merah yang masing-masing ujungnya menyimpul di jari kelingking kita. tak habis pikir aku membayangkan panjangnya untaian cinta kita, melewati pekarangan kita, melewati hutan, melewati bahari, hingga ke kotaku.

eh? apa kabarnya pohon Kenanga yang kau tanam di pekarangan kita? aku rindu juga padanya. kau biasanya akan menyiraminya dengan kenangan. maka ia tumbuh menjadi masa lalu yang selalu bisa kau dan aku pandangi sambil menikmati semangkuk es serut. mesranya. di kota ini tak ada pekarangan, Kila. wajahmu akan langsung menatap keriuhan, kekeruhan, atau bahkan kerusuhan yang menggembel di tengah jalan. tak ada kehangatan mentari yang rela mengunjungi pagi di kota ini, maka pagi hanya akan menjadi subuh-subuh yang tertunda dimana pria akan lupa mengecup kekasihnya demi pekerjaan. dirumah yang aku tempati ini hanya ada sebuah pot tembikar dengan tanah kering yang cuma bisa kutanami fotomu. berharap-kalau-kalau ia bisa tumbuh menjadi sekuncup senyummu yang bisa ku kecup setiap hari.

lalu, apa kabarnya senyummu? masihkah ia menyimpul simetris seperti ketika aku menjadi alasannya? senyumanku adalah satu-satunya yang bisa kusisakan untukmu, Kila. kota ini telah mengambil semuanya. bahkan sekecup perpisahanmu di pipiku juga sepeluk perpisahan yang ku celengkan di laci lemari. ah, aku rindu mempertemukan senyum kita.

Makila Aristiana,
ah, betapa nikmatnya mengeja namamu. hal paling nikmat yang bisa kulakukan saat dahaga dijejalkan dalam pekerjaanku. sabar ya. aku pasti akan pulang. tapi mungkin tidak dalam waktu dekat.
semoga bintang-bintang selalu menjagamu.

salam sayang,
kekasihmu,

Wikara

PS: balaslah segera.
PPS: dengan ini kutitipkan sebuah lagu dalam kaset yang dinyanyikan band kesukaanku. judulnya "bertahan disana". bertahanlah, Kila.
PPPS: kirimkan aku lagi fotomu...
Read More

24 Agustus 2012

Dongeng Permohonan dari Alam Mimpi

  • Pict from here

    Kepada Gula.
    kudengar dirimu sedang sakit. sebuah hal yang biasa terjadi pada kita, manusia. namun dibalik hal yang biasa, aku tahu kau punya kebiasaan yang tidak biasa. kebiasaan itu, yang percaya atau tidak sepertinya membuatmu tidak enak badan. Bila malam bahkan telah menjadi terlalu buta, kau masih belum mau memejamkan mata. Maka setenang apapun diriku, aku tak bisa memendam kekhawatiran akan kebiasaanmu. Jangan lakukan itu, manis. Kau sedang sakit. orang sakit butuh istirahat, butuh tidur. akitvitas bukanlah pilihan yang bijak untuk siapa pun yang sedang terkulai sepertimu.

    Gula, tahukah kau apa yang terjadi pada mereka yang keras kepala dan menjadi lupa pada kewajiban mereka saat malam menggantung? lupa tidur.
    Akan kuceritakan – kudongengkan tepatnya – padamu.

    Ini adalah cerita sahabatku yang baik hati. Namanya Tuan Pengelana Mimpi. Penjaga Alam Mimpi yang diciptakan oleh Oneiroi, dewa-dewa Alam Mimpi. wujudnya seperti anak lima belas tahun dengan baju berwarna hijau bermotif Cypress yang selalu tersenyum pada manusia yang melompat ke portal Alam Mimpi. seperti sosok di film yang dulu pernah kau tonton, Peter-pan mungkin, hanya sedikit lebih besar. Ia ditugaskan untuk menemani kita, para pemimpi selama berada di Taman Bunga Matahari Cebol, sebuah taman bunga matahari setinggi lutut orang dewasa yang terhampar luas. Serupa langganan, entah bagaimana, ia akan mengingat kita satu-satu. lalu, ia akan mereka-reka kapan biasanya kita akan melompat ke portal. Dan setelah mendengar Induk Pagi berkokok ia akan menebar Serbuk Vanisha di kepala kita. supaya kita menjadi lupa dan tidak bosan untuk datang ke taman dan bermain bersamanya. itulah mengapa kita tidak ingat apa yang kita mimpikan saat malam dan menggantinya dengan proyeksi memori-memori masa lalu kita.

    Selain baik hati dan murah senyum, Tuan Pengelana Mimpi sebenarnya sedikit egois. Ada hal lain yang tak pernah lepas dari ingatan Tuan Pengelana Mimpi ketika ia menemukan orang-orang yang masih terjaga hingga jarang menemuinya dalam Taman Bunga Matahari Cebol. Kau misalnya. Kau tahu, ia seolah mencari-cari cara agar kau mau menikmati alam mimpi bersama lebih lama dari biasanya. Maka ia membuatmu lemah, agar kau tak pernah jauh-jauh dari portal penghubung antara kau dan dia. Di dunia kita biasa menyebut kelemahan itu sebagai Sakit, dan portal itu disebut Tidur. Setiap kali Tuan Pengelana Mimpi tak mendapatimu di portal itu lebih awal, ia akan kecewa. Kekecewaan yang menumpuk membuatnya menjemputmu melewati portal, membawa Serbuk Sari Bunga Kaktus Mimpi dan menyebarkannya di atas kepalamu agar darah dikepalamu berdenyut deras dan kau merasakan kehangatan yang berlebih. Sekarang kau tahu kan kenapa kau merasa demam? Serbuk Sari Bunga Kaktus Mimpi itu nantinya akan tumbuh menjadi bitik-bintik merah di tubuhmu hingga kau akan terlihat seperti kaktus yang dicabuti duri-durinya. setelahnya ia akan menumpahkan air Ingazu yang kental yang diambilnya dari telaga di alam mimpi ke dalam hidungmu. kau juga tahu kan apa yang kau lakukan saat hidungmu penuh dengan cairan itu? kau akan butuh tissue yang sangat banyak. Ya, begitulah cara Tuan Pengelana Mimpi membawamu kembali padanya. Dan itu akan sangat lama sebagai ganti waktumu bersamanya yang kau alpakan.

    Kau mungkin tahu aku tak bisa menyembunyikan kekhawatiranku pada apa yang terjadi. Ya, itu terlalu tak terlihat sebagai sesuatu yang wajar. Maka aku menunggu alasan-alasan untuk mendatangimu, alasan yang semoga tak membuat seseorang sepertimu merasa risih. Kadang aku berpikir bahwa aku memang seorang yang bodoh yang mengharap pada khayal-khayal yang diceritakan Tuan Pengelana Mimpi, tapi menjadi bodoh bukan salah satu alasan untuk berhenti melihat senyum dari balik selimutmu. Sebenarnya, ia banyak bercerita padaku. Setiap ia mengunjungi portalku, ia selalu menyempatkan diri menenggak sedikit teh yang kuseduh. Setelah mengecap sisa teh di lidahnya, ia mulai mengeluh tentang kau yang melupakannya. Betapa ia selalu menantikanmu dan kau baru terpejam ketika terpaksa ia menyewa Dewi-Dewi Kantuk untuk duduk di pelupuk matamu – akan kuceritakan tentang dewi-dewi itu lain kali jika kau penasaran. Tapi kini , kepercayaan Oneiroi padanya mulai menipis sehingga ia dilarang menjemput manusia melewati portal. Maka untuk membawamu ke portal, ia harus diam-diam melanggar Undang-Undang Ketertiban Tidur tentang Batas Wilayah Alam Mimpi. Kau pasti begitu menawan hingga seorang Pengelana Mimpi rela berbuat begitu. Ya, sepertinya kau memang.

    Begitulah kisahnya. sstt! jangan cerita pada orang lain ya, nanti alam mimpi menjadi tidak menarik lagi.

    Yang ingin kukatakan adalah, tolong! Jangan memaksa dirimu berlebihan. Jangan membuat seorang Pengelana Mimpi melakukan cara lain untuk membuatmu menemuinya. Kau tak menganggap dirimu begitu? Dari mana aku tahu? Oh ya. Tentu saja Pengelana itu yang memberi tahuku. Kau ingat kan, setelah mengecap sisa teh dilidahnya, ia mulai mengeluh tentang kau yang melupakannya. Katanya kau terlalu sibuk. Kau begitu giat di dunia yang kita hidupi. Yang kuminta, tolong, jangan membuatku khawatir lagi, kumohon.


    Begitukah menurutmu? Aku terlalu Khawatir?


    OK, baiklah. Kekhawatiranku adalah salahku, aku menyadarinya. Sesaat kemudian aku berpikit aku tak peduli jika kau tak menghawtirkan kekhawatiranku, tapi dunia ini penuh dengan orang yang peduli padamu dan sepatutnya kau peduli pada kekhawatiran mereka. Ikutilah kemana Tuan Pengelana Mimpi mengajakmu berkelana di dalam Padang Bunga Matahari Cebol. Jika kau sudah bertemu dengannya, sampaikan salam dan terima kasihku padanya.


    Semoga cepat sembuh, Gula.
Read More

11 Agustus 2012

Borea


16 Juni 2011

mulai malam ini aku akan pura-pura pernah khilaf terjerembab dalam melankoli/menemani kesadaranmu yang berkabut tentang sudut bibir yang menyimpul melewati piguranya/ hingga aku benar-benar menjadi lupa pada potongan-potongan hari dimana keindahan dirimu tersimpan/lalu kita akan menua bersama keterasingan/ke-masing-masing-an/dalam sisa-sisa sajak yang akhirnya aus oleh angin dingin utara/angin borea.

dear Diza,
sejak sedepa demi sedepa jarak antara kita melebar, sejak telah ada masa jeda yang terlalu lama dalam momen pertemuan, aku telah mulai kehilangan harapan pada akhir kebersamaan jejak kita, atau jika aku tidak ingin merasa tersakiti, aku akan merasa sengaja memendam harap. lalu di waktu-waktu berikutnya aku akan sudi berkawan dengan dengan lupa, dengan kecewa, dan dengan semua negatifisme yang kuyakini. namun sekuat apapun aku mencoba, aku akan selalu mengenang. karena untuk menjadi lupa pada sesuatu kita harus mengenangnya, mengingat bahwa sesuatu itu harus dilupakan. "aku harus melupakan dirimu," pikirku. maka secara spontan aku akan mencari-cari riak dirimu di kenanganku yang paling keruh sekali pun untuk kulupakan. jadi, menurutku, tak ada orang yang secara sadar akan mampu menjadi lupa pada kenangannya. yang ia lakukan hanyalan menimpa atau menutupi kenangan itu dengan kenangan yang baru. maka jika aku belum mampu mencari "gambar lain" untuk mengaburkanmu, kau akan selalu ada dengan bekas-bekas harapan yang seumpama bekas luka. dan itu sangat menyiksa. sungguh.

apa yang kau yakini tentang sebuah harapan?
saat yang telah lama dulu, pernah kudengar seseorang ditanyai tentang bagaimana ia mengartikan sebuah harapan. katanya, "harapan adalah masa depan." namun, saat masa depan telah mengambil kekasihnya, maka masa depannya menjadi masa depan yang paling tidak ia harapkan. masa depan yang paling mengecewakan. katanya kemudian, "harapan adalah keinginan untuk melanjutkan masa depan."

harapan selalu tentang keinginan. ya. keinginan-keinginan yang begitu membuncah akan menjelma menjadi harapan, Za. apa yang kau harapkan tergantung pada apa yang akan kau lakukan dengan harapan itu. itulah sebabnya ia selalu ditempatkan pada masa depan. agar kau bisa mempersiapkan dirimu menggapai apa yang kau harapkan. untuk apa? untuk menemukan kebahagiaan. jika seseorang berharap menjadi kaya maka ia harus mulai berusaha sejak sekarang.

tapi apa selalu begitu? apa selalu keberadaan harapan yang menentukan besar usaha? "Harapanlah satu-satunya santapan bagi mereka yang sedang ditimpa kemalangan," kata Thomas Jefferson. ia mungkin benar, mungkin juga tidak. seseorang dengan penyakit yang ganas mengandalkan harapan untuk mendorongnya berobat dan sembuh agar ia bisa menggapai masa tuanya. ia akan berusaha. lalu ketika keletihan menjadi batas antara diri dan usahanya, secara perlahan mungkin ia akan kehilangan harapan. ia akan menjadi orang yang paling menyedihkan menurutnya. mungkin juga tidak. kau mungkin tak tahu, ada orang-orang yang pantang menyerah meski ia tahu tak ada harapan yang tersisa untuknya.

Diza,
Tidak peduli betapa berbahagiannya seorang wanita yang sudah menikah, dia selalu senang mengetahui bahwa ada seorang pria yang baik yang berharap dia belum menikah. tapi sang pria tak melakukan apa pun. ia hanya berharap. seperti halnya orang-orang lain yang meyakini ke-tidak-berkuasa-an mereka hingga pada akhirnya mereka hanya bisa berkata, "kami hanya mengharapkan yang terbaik untukmu." harapan yang terdengar begitu lirih. harapan yang lebih pantas disebut sebagai angan. pada akhirnya, harapan juga tak lepas dari percabangan baik dan buruk.

Harapan dapat menjadi sebuah kekuatan supaya kita terus berpegang pada sesuatu yang seharusnya sudah kita lepaskan, ketika intuisi kita juga mendukung supaya kita melepaskan hal itu. Harapan dapat menjadi penjara. Harapan dapat membuat kita percaya bahwa tidak ada satu halpun yang bisa kita lakukan sehingga kita harus duduk diam dan mengharapkan yang terbaik.

yang sebenarnya ingin kukatakan, Za, segala macam harapan itu tak pernah memiliki makna yang senada dengan sekedar keinginan biasa, yang sepintas terlontar dan lewat begitu saja dalam setiap percakapan kita. namun seperti kebahagiaan, ia memilik makna yang khas. yang tak perlu pengungkapan untuk menyatakannya. yang ia butuhkan hanya sebuah awal untuk memulai dan sebuah titik tuju di masa depan sana.

bagiku, sebuah harapan adalah sesimpul senyum yang kau untaikan untukku. titik tujuku ada pada dahaga rindu yang terhapus saat pertemuan kita. harapanku ada pada kenyataan dimana kau akan bahagia disampingku seperti aku bahagia disampingmu.

bagiku, harapan masa depanku hanya tertaut pada kebahagiaanmu. pada anganku. sejujurnya, bagiku, Diza, harapanku terletak pada betapa indahnya dirimu saat kau masih bertahan memandangi malam yang membosankan bersamaku, dulu. harapan terbesarku terletak pada masa lalu dimana suara paraumu mengucap "terimakasih." di momen-momen seperti itu, entah bagaimana, kurasa harapanku adalah kau.

Pict. from here
maka biarlah angin borea menerbangkan harap yang tergerus menjadi butir-butir angan/meletakkan kita pada setapak yang bercabang/sampai pada saat kita berhenti untuk saling memandang/ maka biarkan ia berhembus/ dan memecah kita menjadi hanya kau dan hanya aku...
Read More

18 Juli 2012

Puisi Senjakala

Seperti Layang-Layang Api yang meramaikan sandiakala, Aku masih berharap kau masih sudi meramaikan kesenduanku.



17 Juli 2010

Aku ingin warna hijau di soreku.
bukan cokelat.

Dizastri,
andai saja kau mampu bertahan tanpa pertanyaan, maka aku akan berhenti bertanya. karena kau tahu, aku tak ingin percakapan kita berakhir, meletakkan kita pada titik nadir, berkata "ini semua adalah takdir," dan berlalu dibelakang angin yang berhembus getir.


tanpa seucap salam pun.
akhir-akhir ini selalu begitu.
aku akan tersenyum karenanya. kecut.

hari ini aku melihat Layang-Layang Api saling menyambar, beterbangan dibawah senja yang jingganya membakar di ujung yang satu dan gelap mulai mengiris di ujung yang lain. meski November belum tiba, mereka sudah disana, menjadi iring-iringan gerimis yang menangisi malam. tahu kah kau Diza, mereka mengingatkanku pada percakapan terakhir kita dibawah hujan yang mengguyur, menghabiskan sore yang sama dalam guratan langit yang benar-benar berbeda. mengingatkan aku juga kepada tawamu yang kini masih kusimpan dalam sekotak biskuit, yang kubuka setiap kali aku bercokol bersama sepi setengah tidur.

aku bertanya, kau menjawab,
aku bertanya lagi, kau diam,
lama, lama sekali.

bagiku, cinta adalah keakuan dan kekamuan yang mengkita. lalu didalam kekitaan kita ada seutas keterikatan yang mengkait. maka pernah suatu senja, kau seperti tengah mengendurkan kait dengan keheningan. terlebih ketika angin senjakala mendukungmu. ikut diam dan menjadi benci pada api lilin yang menari. seketika kita dipisahkan oleh alunan instrumental dan malam yang tak lagi romantis. aku tak suka itu. ya, mungkin sejak saat itu aku jadi tidak suka pada keheningan malam.


Diza,
seseorang pernah bicara mengenai ketakutan padaku. katanya, setiap orang akan menjadi pengecut terhadap sesuatu. dan tahu kah kau, aku merasa sesuatuku adalah kau, matamu yang empat, dan senyummu yang muram. ketakutanku adalah saat kau beralih pada transparansi fisik, memudar, menjadi siluet. kepengecutanku adalah kau dengan segala pesonamu namun dengan pandangan yang kontralateral. ya, tidak spesifik, tapi aku tahu.



mungkin perahu kita hanya menunggu siluetmu
atau mungkin hanya aku yang malas mengangkat sauh
menyaksikan dermaga menahan peluh
merasa ragu meninggalkanmu jauh
meski sangat jelas tanganmu meraih Layang-layang Api. 

tidak pernah ada yang tahu satuan jarak yang memisahkan keterikatan, Diza. aku juga tidak ingin tahu. yang jelas, diammu juga jawabanmu yang seadanya meletakkan kita pada jarak yang sangat jauh. jadi, ketakutanku adalah sebuah logika sederhana yang masuk akal. karena diujung semua logika ciptaan yang waras, aku tidak ingin kehilangan dirimu.

salam rindu lagi,
aku, Toples Gula.
Read More

17 Juli 2012

Hal yang Tak Lepas Ketika Malam Menerbangkan Sadar dari Mataku yang Terjaga Sembari Menunggui Hari Menemui Awalnya

Pict. from here
Pagi buta menusuk kulitku, menyisakan lebam kasat mata diantara iga-iga tak bertuan. dingin yang maya membangunkan beberapa butir airmata tatkala wajah kelabu yang selalu nampak dalam temaramnya dunia bunga tak pernah mengukir keindahan nyata seperti selama ini mengisi beberapa kekosongan batin. tak kutemukan rasa sayang disetiap bait melankolisnya yang mengalun jenuh penuh peluh tanpa keluh. bayangnya tak kunjung melayang atau memudar meski gelengan kepalaku merasa enggan mengajukan tanya. pagi buta mengacaukanya.

cahaya belum kunjung berberkas, malam masih mengantuk, dan aku tengah berada di antaranya, terjaga dengan otot yang kelu, layu, tidak kaku bersama angin yang juga masih diam membisu. kudapati suaramu memecah hening, menanyakan keadaanku dan apa yang kulakukan. kau mendapatiku masih lekat bersama kebisuanku yang menerawang kegelisahan bayangnya dan kau pun berlalu.

aku tersandar di bingkai jendela, menatap lurus padamu yang memunggungiku dengan bantalmu, seolah marah, atau ngambek kata mereka. aku geli menyaksikan langit malam yang untuk pertama kalinya marah. bukan kah telah ku ceritakan kesahku padamu. Tentang matanya yang saat ini menyendu, soal rambutnya yang masih terus ia sisir rapi. atau mengenai tawanya yang mulai mengabur. bukankah?

temaram mencipta siluet di ufuk-ufuk fajar, mencakar bentuk-bentuk emas diantara kanfas hitam yang membiru, membunuh malam. Induk-induk bintang mulai menidurkan anak-anaknya sebelum mereka sendiri. lagu pengantar hari pun sedari tadi telah menggema, menyentakkan kita menjauhi amarah, membawa kita ke ujung ngarai untuk mandi bersama menenangkan batin sembari menunggui angin kering kembali membawa surat darinya. tentang matanya, soal rambutnya, atau mengenai tawanya. masihkah sama.
Read More

06 Juli 2012

ada "dan" ditengah kamu dan aku.

Pict from Here
apa yang terjadi pada kita? apa yang terjadi pada sekata yang bercerai menjadi kamu dan aku? lalu mengapa tiba-tiba saja ada "dan" yang menjedakan kamu dan aku?


kita dulunya adalah pedendang senandung di beranda, menikmati pagi dan air mata Tuhan yang singgah di ketiak daun. kita adalah apa yang selalu dikicaukan pipit dan di tidurkan malam. itu sebelum waktu menjadi pencemburu.


jadi aku mulai bertanya-tanya tentang siapa yang lebih dulu bosan meninggali rumah kita hingga memutuskan untuk meninggalkan. kamukah? atau waktukah? pelan-pelan dari dalam rumah aku melihat lintasan yang menjejak lantai, menapak meja, lalu keluar lewat pintu ruang tamu. ada kamu di ujungnya, memunggungiku sedang membuang remah-remah pagi yang disebut kenangan. lantas aku membaca aura. mencerna keadaan dan menjelajah kejadian hingga aku tiba pada sebuah kesimpulan bahwa ada jarak antara kamu dan aku.


maka aku berlari ke kamar, membuka lemari, mengaduk laci, mencoba menemukan kita yang tersisa. tak ada. tak ada kita yang kamu sisakan. mungkin sudah kamu terbangkan. mungkin terselip di lipatan remah pagi yang kamu mubazirkan. atau mungkin jika tidak cukup tega kamu akan membawanya pergi bersamamu. yang jelas tidak ada lagi kita sehingga aku dan kamu kini menjadi kesatuan yang masing-masing. berdiri sendiri. saling menghitung satuan yang men-jarak-kan kamu dan aku. kamu hanya akan menjadi kamu. tapi aku tidak akan bisa menjadi aku lagi. kamu telah membawa aku bersamamu.


maka siapakah aku yang melihatmu menciptakan jarak?

tak bisakah kamu dan aku menjadi hanya kamuaku? tanpa dan, tanpa spasi?
tak bisakah kamu dan aku melebur lagi saja menjadi kita?


Salam untuk waktu,
Falra,
Tujuh Juli DuaRibuDuaBelas.
Read More

28 Juni 2012

Memori Khira

Kay, kau ingat, saat kau ngambek sore-sore di beranda sambil memandangi layang-layang api yang berkejaran di udara. kau diam. lamaaa sekali. dan ketika para layang-layang api itu lelah, kau bilang, "maaf atas air mukaku. aku jutek ya?" aku hanya menggeleng sambil tersenyum. hampir saja aku meleleh dari beranda. kau tahu, saat itu aku sadar, Kay, aku menyukai pipimu yang cembung, suaramu yang ranum. aku menyukaimu.
Masih kukenang jawabanmu saat aku mencoba menyatakan kesadaran hatiku. "Sebaiknya jangan, Khira. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Aku telah tertambat di hati yang lain." Aku sudah menduga, hingga setelahnya tak ada gunung yang runtuh atau gemuruh petir dengan angin badai. aku tak pernah ragu pada kebenaran pepatah sepatah cinta dan kepemilikannya, Kayla. aku tahu keniscayaan rasa sakit yang salah mengartikan kau sebagai bahasa kalbu. perih.
Kayla, kau tahu lagi, semenjak masa itu, secara idiopatik, aku makin menyukaimu. maka maafkan lah aku yang akan selalu menghantuimu...
Read More

24 Juni 2012

Terik


Hari ini matahari sedang datang bulan
Ia lalu adalah kau yang menjelma
Menjadi terlalu sensitif pada keadaan
Selalu terlalu pagi untuk panas kegerahan
Ceracaumu juga pedas yang tertahan
Sementara tak ada senyum yang mengawan
Atau sayang yang menghujan.
Read More

12 Juni 2012

sketsa

aku ingin mengenalmu seperti gurat, segaris segaris
yang biasa kau kenalkan pada kertas
memindai biografismu bergores-gores
ke dalam otakku yang paling dalam. hippokampus
terus. tanpa putus

aku ingin menemuimu di dalam sketsa
seperti gores-goresnya yang saling menemukan.
membentuk. mewujud.
tak perlu lama, namun penuh wacana, makna.
lalu biarkan naluri yang mencukupkannya

aku ingin mendekatimu bersama arsir
yang seperti aku hasratkan dekat dengan realisme
seperti karbon pensil yang kau dekatkan dengan kapas
tidak ragu, tanpa penghapus
merajakan abu-abu yang serius
dan biarkan tawa yang menjadikannya berwarna.



Pict from here
Read More

08 Juni 2012

rimanolog

Bagaimana
jika waktu itu kita bersitatap lebih lama
Lebih lama.
Lalu kujabat aroma sore. Mega.
Ah, pandangan pertama...

katakan
kapan kau mau membawakan temu
Memungut satu-satu huruf namamu
Membingkiskan sekotak huruf namaku
Membiarkan kenal merambati kita malu-malu

hai, kamu.
Seperti yang biasa kau inisialkan.
Pada pagi, pada langit, pada asin, pada ikan.
Pada mata yang sewarna intan
Kilau.
Pada bagimana senyum yang menyimpul pelan

Bagaimana jika di suatu waktu lain di ujung siang
Atau di tengah-tengah petang yang matang
Kita mengatur waktu untuk menghilang. Berlanglang
Kemudian menjenguk rinduku nan meradang
Setelah itu kau kuantar pulang

Yah, mau bagaimana lagi,
Imajiku tak habis mem-bagaimana-kan angan
Sejak angan berubah menjadi sepasang mata mungil
Yang padanya aku menandai sore menjadi lebih lama
Lebih lama
Bagai nama.
Read More

31 Mei 2012

DIA

Akhirnya hari itu kudapati Dia sedang bercengkrerama dengan senyum tipisnya sendiri dan matanya yang mungil-mungil. Menertawai senja yang belum juga mampir untuk menitip rona. Tak ada renda, tak ada motif, tak juga warni, hanya seragam biru yang menyeru. Lalu bulir peluh. Mengkilat dijilat surya.

Akhirnya hari itu kulihat Dia. tersenyum lagi. Aku membalas. Senyum kami mengait. satu detik, dua detik, Ah aku kalah. Senyumnya makin lebar, merayakana kemenangan. Aku menyebut nama, "Rara?" Dia mengangguk sekali. Kemudian, bayangannya mengajak pulang, memburu waktu, mengejar malam.

Hari itu Dia menjatuhkan senyumnya...
Read More

07 Mei 2012

Perhentian Imaji

Di halte ini lagi, sekali waktu aku duduk di sudut. Mencari makna yang lalai digadaikan kalender tentang betapa kita telah jauh tenggelam dalam dunia yang terpisah nan sarat. Kita mencoba tersesat dengan mengambil rute yang berbeda dan melupakan tujuan kita menggulirkan roda-roda pelangi. Kita hanya membawa satu bekal. Kau dengan kenangmu, aku bersama imajiku. Entah untuk berapa lama, aku akan menyantapnya sambil rela menadah jalan kosong mengalasi antara. Kau juga mungkin akan lupa bertanya kapan kita akan menemukan kursi bersisian di bus yang sama. Perhentian pertama...
Read More

13 April 2012

Sejumput Kerinduan yang Dimakan Waktu


Pict. from here
Sudah sepuluh kemarau sejak kau tak lagi terlihat di tebing Padangkawi, memandangi lautan yang selalu bungkam setelah mencuri kekasihmu. Sambil berdiri, kau dulu selalu bertanya pada angin laut tentang kabar kekasihmu itu setiap Minggu sore, mengacuhkan para camar yang menertawaimu. Saat lelah berdiri, kau mulai mencari ranting pohon lalu duduk sambil mengukir nama kekasihmu itu di tanah. Kau tak tahu, aku hampir selalu mendapati airmatamu merembes di tebing pipimu yang halus sebelum meloncat ke sela  huruf-huruf yang kau tulis.
Pertama kali aku melihatmu di sana, kau begitu ceria dengan baju putih dan rok bercorak bunga Alamanda. Masih bisa kuintip sesimpul senyum yang kau gantungkan. Kala itu kau tengah melambai pada kapal kayu yang melintasi garis cakrawala. Hingga senja tertidur kau masih disana, dengan senyum yang tak mengendur.
Read More

31 Januari 2012

siklus penugguan

Sekali setahun, dibulan Januari, aku akan duduk di kaki lembayung. menyaksikan alang-alang yang tegar menantang alam bertanya untuk kesempatan bertegur sapa lagi dengan jemari mungilmu. mereka rindu pada gadis yang dulu berkejaran bersama angin menangkap kelopak bunga atau kupu-kupu nakal. kubilang pada mereka, kau sedang menyulam malam agar padang berhenti kedinginan jika gelap menguap. tapi kubilang pada aku, aku rindu saat kau kelelahan mengitari alang-alang lalu menghampiriku, terduduk menatap lembayung sambil mengulum senyum.

sekali setahun, dibulan Maret, aku akan berusaha tak lelah menanti ucapanmu yang tak pernah datang. mengingat-ingat lagi kata-kata lembutmu sesaat setelah malam menggulirkan hari. jika harus jujur, tahun lalu menjadi kalimat indah terakhirmu untukku. lalu kau mengambil waktu untuk berkelana bersama bulan itu.

sekali setahun dibulan Juni, ada sebuah hari dimana aku harus mengakui bahwa akan ada jarak dalam setiap kedekatan, selalu ada akhir dari semua hari yang kita sebut mula, dan pasti ada jalan untuk perpisahan dalam segala jenis perjumpaan. kau tak mengucap sekata. aku tak mengucap sekata. sebuah perpisahan yang tak pantas disebut perpisahan, karena yang kita lakukan berada dalam jaring-jaring pengabaian selama bulan-bulan berikutnya. bulan Juni, kau berubah. mengambil jarak selangkah setiap harinya, hingga tak mampu kuhitung depa demi depa.

sekali setahun dibulan November, pertengahan musim dingin, aku memikirkanmu. mencari kata yang tepat untuk menghilangkan kecanggungan. mungkin, ketika badai mulai reda, kita bisa menghabiskan waktu saling menghangatkan jemari kita, setelah sekian lama. tapi aku urung. kenapa? karena "mungkin" adalah tentang ketidakpastian yang selalu terbenam dalam dua sisi yang berlawanan. bagai pisau bermata dua. jadi kubiarkan saja jalan jalan sepi dengan lamunannya.

Pict from here


Setiap tahun dibulan Desember, aku akan hilang akal.
Read More

13 Januari 2012

Kenangan

Kay, kau ingat, saat kau ngambek sore-sore di beranda sambil memandangi layang-layang api yang berkejaran di udara. kau diam. lamaaa sekali. dan ketika para layang-layang api itu lelah, kau bilang, "maaf atas air mukaku. aku jutek ya?" aku hanya menggeleng sambil tersenyum. hampir saja aku meleleh dari beranda. kau tahu, saat itu aku sadar, Kay, aku menyukai pipimu yang cembung, suaramu yang ranum. aku menyukaimu.


masih kukenang jawabanmu saat aku mencoba menyatakan kesadaran hatiku. "Sebaiknya jangan, Khira. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Aku telah tertambat di hati yang lain." Aku sudah menduga, hingga setelahnya tak ada gunung yang runtuh atau gemuruh petir dengan angin badai. aku tak pernah ragu pada kebenaaran pepatah sepatah cinta dan kepemilikannya, Kayla. aku tahu keniscayaan rasa sakit yang salah mengartikan kau sebagai bahasa kalbu. kasih.



Kay, kau tahu lagi, semenjak masa itu, secara idiopatik*, aku makin menyukaimu. maka maafkanlah aku yang akan selalu menghantuimu...

*unknown
Read More

22 Desember 2011

waiting for reply

malam pun terasa menjadi bisu, benar-benar bisu
seolah malas menemaniku menunggui balasan kebodohanku darimu
kebosanannya menguapkan lelap menjadi esok hari yang biasa
amat lebih biasa

tidak kutemukan media yang identik pengganti hangat jawabmu
atau sekedar untuk mengisi waktu tungguku
juga tak ada lagi gitar yang bisa kudekap
memetik satu-satu lagu kesukaan kita

sayup-sayup angin resah menghela begitu kering
angin tenggara
aku masih duduk diujung jendela menatap venus
yang hilang ditempatnya menggantung
menikmati malam yang menjadi kelabu

masihkah kau mau berujar
"kusuka suara puisimu"
sambil meletakkan lamat-lamat
pipimu dibahuku

mungkin aku akan lelah duduk dalam diam
menebak kesibukanmu sambil memeluk lutut

kau begitu lugu menyadari isyaratku
tapi kita jelas mengerti arti kata menunggu

maka katakan,
apa yang harus kulakukan?
Read More

05 Desember 2011

bincang-bincang di penghujung malam

pict. from here
"hei, kau menangis, Khira?"

"eh? tidak, hanya kemasukan debu. duduk di batang pohon membuat mataku kelilipan. bintang-bintangmu saja yang membuat air mataku sekilau tangis."

"kau selalu mengelak saat kupergoki jempolmu yang mengusap, menyembunyikan air mata. aku yang sebuta jam dua belas ini pun bisa mengintip diantara jempolmu itu. Aku tahu malam, Khira, aku tahu tak akan ada terlalu banyak debu saat tak ada ngengat yang melintas. dan ditempatmu tak ada satupun."

"haha... aku tak pernah bermaksud mengelabui malam yang jompo. ini bukan air mata. ini hanya bulir ampas dari produksi kenyataan. sisa. bekas."

"hmmm, khukhukhu. jika ketidakmengakuanmu juga adalah canda, maka candaanmu selalu hambar. kau tahu, bercanda denganmu tak pernah membuatku terbahak."

"ha!! tapi kau cekikikan. itu adalah bentuk kemajuan untuk usiaku yang imortal."

"lalu apakah guna cekikikanku untuk menemani usiamu?"

"entahlah, mugkin itu akan memudarkan makna pathetic yang memakan realtas pada diriku dalam memoriku yang juga pendek. atau meredam gemuruh geram garang yang menjadi malang pada rekanmu, pada dunia. itu bisa sedikit membantuku."

"jadi kau terbangun sebuta ini untuk menggelitik rahangku agar bisa menempa kunci kandang kelegaanmu?"

"hmmm, kurasa begitu. tapi kau lupa satu hal. aku terlalu rendah untuk menjangkaumu, Langit. aku hanya ingin terjaga memandangi venus-mu di kejauhan fajar."

"intersting. silakan menikmati venus-ku yang fana. aku tidur dulu kalau begitu. akan kubiarkan selimut awanku tetap dilantai jika kau kedinginan. selamat malam."
Read More

23 November 2011

IF (ONLY) YOU WERE MINE*

pict. from here
jika kau menjadi milikku, Nayla,
maka pagi akan begitu cemburu,
pada semburatnya yang aku selingkuhi,
pada senyummu yang malu-malu.

jika kau menjadi milikku, Nayla,
maka meski mentari menjadi murka,
dan panasnya seolah haus akan luka,
bagiku siang hanya sebuah rona.

jika saja kau menjadi milikku, Nayla,
pasti senja menjadi enggan untuk pulang,
dan malam tak sabar menyambut petang,
berebut waktu yang aku pagut,
di bahumu, di bibirmu, juga disudut matamu.

lagi, jika kau menjadi milikku, Nayla,
maka tak akan lagi ada aku,
tak ada lagi kau,
hanya ada kita,
dan kita tak akan pernah menjadi (sen)diri.

If you were mine, Nayla,
If only...



*BLOGGER CONTEST "IF YOU WERE MINE" a novel by Clara Canceriana
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.