Tampilkan postingan dengan label curhatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhatan. Tampilkan semua postingan

31 Desember 2013

Surat Akhir Tahun

Biarkan seberapa panjang hidupmu menjadi rahasia tuhan. Yang perlu kamu cari tahu, seberapa cukupkah kamu memaknainya. ~ Falra.


Dear Falra, sahabatku.

Seperti yang kamu lihat disekitarmu sekarang, tahun masehi 2013 akan berakhir beberapa jam lagi. Orang-orang tengah sibuk mengepak masa lalu masing-masing dan memindahkannya di tahun yang baru. Mereka sedang khidmat menghitung atau menganalisa harapan yang mereka capai atau tidak dicapai sampai akhir tahun ini, juga mendesain harapan-harapan yang  baru untuk ditempelkan di dinding kamar mereka sepanjang dua belas bulan ke depan. Walaupun tak sungguh-sungguh, kamu juga melakukannya. Ya, kamu tak pernah sungguh-sungguh membuat atau merefleksikan harapan-harapanmu setiap akhir tahun. Que sera sera, begitu selalu katamu.

Harapan, fal, tidak ditentukan oleh banyak atau baiknya ia dituliskan, tapi oleh usaha dan konsistensimu untuk mewujudkannya. Lalu usaha dan konsistensi itu akan terjaga hanya ketika kamu benar-benar menginginkan harapan itu terwujud. Maka, ketika kamu tidak sungguh-sungguh membuatnya, kamu pun akan lebih banyak menemui kegagalan yang membuatmu menjadi tidak sungguh-sungguh membahasnya ketika waktu setahun itu usai. Maksudku, buatlah sesuatu yang betul-betul kamu inginkan. Dan lakukan dengan penuh perenungan. Masuklah ke dalam hatimu dan temukan sesuatu yang sesungguhnya ingin kamu wujudkan.

Kamu tahu, harapan atau keinginan atau mimpi atau apapun namanya, bukan itu dan pewujudannya yang esensial. Lebih dari sekedar mewujudkan impian, kehidupan itu tentang seberapa cukup kamu memaknainya. Dengan impian-impian yang ingin kamu wujudkan, kamu akan tahu seberapa berartinya hidupmu, setidaknya bagi dirimu sendiri. Agar pada akhirnya nanti, kamu tidak mati dengan kesia-siaan. Maka dari itu kamu perlu membuat sebuah impian yang betul-betul kau inginkan, fal. Kamu juga harus berhenti membuatnya secara situasional. Itu akan membuatmu tidak konsisten. Kamu tak akan tahu, apa kamu betul-betul masih menginginkannya disuatu saat yang nanti.


Fal,

Akhir tahun memang bukan satu-satunya waktu untuk menentukan resolusi. Ia hanyalah penanda waktu mulai dan deadline bagi harapan-harapanmu itu. kamu bisa memulainya dari mana saja sepanjang kamu menentukan batas waktunya. Tetapi sekali lagi, bukan itu yang utama. A matter of fact, itu hanyalah cara agar kamu bisa berubah menjadi lebih baik. Dengan membuat sesuatu yang kamu impikan dan mewujudkannya, kamu seharusnya menjadi seseorang yang tak lagi sama dengan dirimu di awal tahun.

Tepat ketika kamu menjadi seseorang yang lebih baik karena tercapainya impian, kamu seharusnya menjadi lebih dekat dengan tujuan hidupmu. Bahkan, kamu seharusny bisa lebih dekat dengan Tuhan-mu.

Bahkan jika apa-apa yang kamu impikan tidak menjadi nyata, kamu seharusnya bisa belajar dari seberapa keras kamu berusaha mewujudkannya.

Tidak, fal. Saya tidak sedang menyuruhmu untuk mulai mencatat perihal harapan-harapan yang ingin kau wjujudkan tahun depan. Lebih dari itu, sebenarnya saya hanya ingin kamu, kita, maksudku, kamu dan aku, bisa belajar untuk menjadi lebih baik dari diri kita yang sekarang. belajar melihat dunia lebih luas. Seperti menaiki tangga yang tinggi lalu melihat seberapa mengagumkannya perjalanan yang kita tempuh. Belajar menyisipkan esensi dari setiap impian-impian kita, agar pada akhirnya nanti, ketika tiba saatnya kita mengevaluasi, kita tidak hanya membubuhkan tanda check pada setiap impian itu lalu beralih pada impian-impian baru, tetapi  juga menjadi semakin dekat dengan sebentuk kedamaian yang dicari setiap orang: kesempurnaan.


Salam sayang dari sisi dirimu yang lain.


Falra.
Read More

23 Maret 2013

perihal kematian, penyesalan dan kenangan

pict. from here
beberapa hari yang lalu saya terpaksa harus melihat kematian lagi. saya mulai sadar tak bisa lagi menghitung jumlah kematian yang saya lihat sejak menjadi mahasiswa klinik fakultas kedokteran. melihat sesuatu yang awalnya terasa begitu mengerikan berulang kali akan membuatmu terbiasa. begitu juga dengan kematian, (jujur itu bukan suatu hal yang patut untuk dibanggakan). tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah. selalu ada kesedihan yang memilukan. salah satu yang paling memilukan. seberapa pun seringnya melihat kematian, bagi orang yang masih memiliki nurani - bahkan jika kamu buka keluarganya -, selalu ada kepedihan didalam urangan itu yang ikut menangis dan memeluk para sanak yang ditinggalkan satu persatu.

siapa yang bisa menolak kematian? siapa yang siap menerima kematian? pertanyaan itu yang sering kali terbesit di benak saya setiap kali harus dengan terpaksa mengatakan perihal kematian pasien pada keluarganya. pertanyaan yang sebenarnya saya tanyakan pada diri saya sendiri. bagaimana jika suatu saat saya yang ada di tepi tempat tidur pasien, mencoba membacakan syahadat sambil sesekali terisak. siapkah saya? siapkah kita? karena suatu saat, siap ataupun tidak "ia" akan datang.

saya tidak sedang mencoba menakut-nakuti, atau sok menggurui. toh, kita memang sudah tahu perihal tentang kematian. saya hanya berpikir, saat waktu itu datang pada orang yang paling kita sayangi justru kita baru menemukan kenyataan bahwa itu adalah saat terakhir kita melihatnya, dan detik berikutnya beberapa dari kita akan menyadari betapa sedikitnya waktu yang kita luangkan untuk orang-orang yang tidak bisa kita lihat lagi senyumnya.

*

merasa terpisah itu sakit. bahkan meski hanya sebentar. keterpisahan yang lama justru awalnya akan membuatmu lupa. lalu lupa akan membuatmu abai. maka beruntunglah mereka yang tetap setia menjaga kenangan. karena bagi mereka yang telahdipisahkan oleh jarak dan waktu, bahkan dimensi, akan selalu hidup dalam kenangan.

ada banyak hal yang kita lupakan dari orang-orang kesanyangan kita yang telah meninggal. lucunya, kita baru mengingat-ingatnya setelah mereka pergi. saya juga begitu. saya selalu menyesal punya memori yang buruk. ketika saya berumur empat tahun, tante saya meninggal dan saya menyesal tidak punya cukup kenangan  tentang dirinya. saya bahkan sudah lupa wajahnya. yang paling saya ingat justru pada momen menjelang pemakamannya. saya masih ingat bagaimana nenek saya disela-sela tangisnya meminta saya untuk memijit-mijit kaki tante saya. katanya, tante saya sedang lelah. tak bisa berjalan. tiga tahun lalu, om saya juga meninggal. saya selalu lupa minta diajarkan karate. saya ingat rasa sakit saat ia memelintir tangan saya - tentunya hanya main-main - tapi saya selalu lupa cara ia melakukannya.

setahun kemudian kakek saya meninggal. dan saya bersyukur punya banyak kenangan tentang beliau. bagaimana tawanya, bagaimana kikuknya, bagaimana ia menuntun sepedanya ke masjid setiap kali adzan berkumandang, atau bagaimana ia selalu tersenyum. selalu. bahkan saat marah. mungkin saya masih mengingatnya karena ia pergi belum lama. yang saya sesalkan adalah saya sebagai mahluk yang agaknya mengerti kesehatan tidak peka untuk menyadari penyakitnya. dan itu adalah ironi paling menyakitkan dalam hidup saya. maka yang kemudian tertinggal di ingatan saya adalah tentang telpon bahwa kakek muntah darah. sepanjang hidup berikutnya saya berharap tidak melakukan kesalahan yang sama pada siapa pun.

terus mengenang itu tidak mudah. kita harus terus memutarnya berulang kali. seperti film. tapi kita tidak butuh VCD atau file video. yang kita butuhkan hanya benda kenangan. saya seringkali membayangkan bagaimana saya akan bercerita pada anak-anak saya tentang sosok buyut yang tidak pernah mereka kenal melalui sepedanya. saya membayangkan mereka akan bertanya "pa, kakek buyut itu seperti apa?" lalu saya akan mulai bercerita. pada saat yang bersamaan, saya bisa tetap menjaga kenangan saya tentang kakek saya.

*

siapa bilang "jangan menengok ke masa lalu" itu selalu benar? butuh keberanian dan ketegaran untuk mengingat masa lalu supaya tetap sadar darimana kita berasal dan kemana kita akan melangkah serta sudah sejauh mana perjalanan hidup kita. mengenang bukan suatu pekerjaan yang sia-sia. ada pelajaran di balik kenangan. lalu, dari kenangan seseorang bisa hidup lebih lama daripada umurnya. tapi lebih dari itu, karena kenangan, kita tetap bisa menjadi manusia. mahluk yang memiliki akal dan pikiran.

jadi seberapa banyak kenanganmu dengan ayahmu? dengan ibumu? dengan anakmu? dengan kekasihmu? karena saat mereka pergi tak ada lagi yang bisa menemanimu selain kenangan mereka. seberapa sering kamu menatap wajah mereka? karena suatu saat nanti ada masa dimana kamu akan lupa pada wajah mereka, pada senyum mereka, pada tawa mereka, kecuali kamu masih memiliki kenangan.

saya percaya, mereka yang mau mengenang adalah orang-orang yang menghargai masa lalu sebagai sesuatu yang masih layak untuk dipeluk.
~Falra
Read More

01 Juni 2012

(K/S)esal

ada penyesalan yang tergores tepat di awal tengah tahun ini. rasanya lebih sakit daripada diputusin cewek. lebih perih. saya di Tuming (turun minggu; adalah hukuman yang diberikan dengan menambah 1 minggu stase pada satu subdivisi medis di rumah sakit.) oleh seorang supervisor di tempat saya bertugas sebagai Coass (dokter muda; red) karena alasan peraturan yang dibuatnya sendiri. peraturan yang katanya sudah menjadi turun-temurun di bagian ini. sebuah aturan yang menurut saya tidak masuk akal. menghafal seluruh pasiennya dengan lengkap dan terperinci, lalu ketika ia berkunjung, ia akan menanyai kami para coass semua tentang pasiennya. sebuah hal yang bahkan ia sendiri tidak sanggup melakukannya.

lalu, hari ini ia membentak. bertanya siapa yang tidak bisa menghafal? aku kalah. tidak yakin pada hafalanku sendiri. lalu disanalah penyesalan itu mulai membumbung. mengisi seluruh dadaku hingga sesak.

namun penyesalan yang timbul itu bukan karena saya tidak sanggup menghafalnya, karena sudah hampir satu minggu di stase ini kerjaan saya dan beberapa teman-teman yang lain hanya menghafal sesuatu yang sebenarnya tidak layak untuk dijadikan prioritas bagi seorang Coass. yang saya sesalkan adalah, bahwa itu hanya Tes Mental. Ia tidak benar-benar bertanya. aargh... betapa kesalnya saya...

aargh... Damn.

satu minggu yang sia-sia. minggu depan akan menjadi deja-vu yang paling mnejengkelkan...
Read More

07 Mei 2012

Perhentian Imaji

Di halte ini lagi, sekali waktu aku duduk di sudut. Mencari makna yang lalai digadaikan kalender tentang betapa kita telah jauh tenggelam dalam dunia yang terpisah nan sarat. Kita mencoba tersesat dengan mengambil rute yang berbeda dan melupakan tujuan kita menggulirkan roda-roda pelangi. Kita hanya membawa satu bekal. Kau dengan kenangmu, aku bersama imajiku. Entah untuk berapa lama, aku akan menyantapnya sambil rela menadah jalan kosong mengalasi antara. Kau juga mungkin akan lupa bertanya kapan kita akan menemukan kursi bersisian di bus yang sama. Perhentian pertama...
Read More

31 Desember 2011

Homework again.


Sebelumnya sy minta maaf sama neng Mevi, karena seperti entri terbaru anda Writer's block, sy juga sempat kehilangan semangat menulis karena kesibukan yang menggunung sampai PR yang eneng berikan harus terjeda sebulan lamanya.*Gomennasai...

OK, kita mulai saja PRnya. Silakan bertanya. 


Mev: Tokoh panutan dalam hidupmu siapa? Sebutkan alasannya yang dapat menggugah air mata!
Saya: ada banyak sih yang tokoh yang sy jadikan panutan, salah satunya tokoh buku#Lha? hehe. ngga ding. Tokoh yang paling sy panuti ya tentu saja, Nabi saya. Muhammad SAW. dan saya kira alasannya jelas... 

Mev: Paling males kalo disuruh ngerjain apa? Kenapa?
Saya: Paling males kalo disuruh ngerjain sesuatu yang sebenarnya bisa dikerjakan sendiri sama si pesuruh. gimana g malas coba? seharusnya bisa dikerjakan sendiri tapi dia malah......*2 jam kemudian*....harusnya tidak begitu. hah..hah...fiuh!.
 
Mev: Pernah marah ga? Kalo pernah karena apa?
Saya: bohong kalo seseorang ditanya seperti itu dan dijawab belum meski sebetulnya saya orang yang jarang marah (bohong!). karena dimarahin sama orang yang suka marah-marah, padahal sebenarnyan ngasi tahunya ngga perlu pake marah. bingung kan?
Mev: Sebutkan alasan kenapa?
Saya: kamu tanya Kenapa? kenapa adalah buah dengan pohon yang tinggi dan airnya enak diminum dan dijadikan es kenapa muda... :) 

Mev: Kalo bisa nambahin cabang olahraga untuk ditambahkan di kompetisi Sea Games kemarin, apa yang paling cocok? Harus mewakili apresiasi bangsa dan negara ya!
Saya: ada. cabang Atletik bagus ditambahin olahraga mengejar koruptor...  

Mev: Sebutkan hal yang belum pernah kamu bisa dapetin sampai sekarang!
Saya: pacar, ujung  perjalanan backpacking saya dan gelar insinyur arsitek. yang pertama kalo ada yg mau daftar silakan. (hehee, cengar-cengir). yang kedua, boro-boro, mulai aja belum. yang ketiga, ya iyalah. gue mahasiswa kedokteran.#ngakak.


Mev: Makanan apa yang menurutmu paling aneh didunia dan pengen kamu cobain? Makanannya harus beneran ada dan bisa di cari di mbah google ya kalo ada yang mau tau bentuknya :D
Saya: Sate belalang... kalo belalangya dibakar, apanya yang mau dimakan? sy jadi berpikir tu sate dulunya yang makan orang cadel. maksudnya berarang....



Mev: Sebutkan 7 keajaiban dunia menurut versimu. 
Saya: 1. Manarola (Italia). 2. 83-42  (Greenland). 3. Raja Ampat (Indonesia). 4. Great Barrier Reef (Australia). 5. Mount Roraima (Venezuela). 6. Socotra (Rep. of Yemen). 7. Manusia.

Mev: Sebutkan mimpi teraneh yang pernah kamu alami.
Saya: Sebenarnya mimpi yang aneh itu banyak, hanya saja sbagian besar mimpi ditakdirkan untuk dilupakan sasaat setelah bangun. sy pernah mimpi sekolah di Hogwarts bareng Harry Potter dkk trus ditengah tahun ajaran sy terlibat intrik bersama Hobbit Frodo Baggins sambil menunggangi Saphira, Naganya Eragon... akibat kebanyakan baca tu novel kyknya.
 
Mev: Kalo ada kesempatan untuk main film Hollywood, kamu mau main film  bareng siapa?
Saya: Sama Abigail Breslin. anak yg cute...


Mev: Andai kamu presiden Amerika, apa yang akan kamu lakukan untuk menjaga hubungan baik terhadap semua Negara-negara di dunia, terutama dengan predikat Negara adi kuasa. Jawaban harus serius dan berbobot.
Saya: wah, dari td prtanyaannya berat-berat. sy belum makan Mev, g da tenaga... hyung...
Gini, kalo jadi presiden amerika, ya jalin sj hub. bilateral yang mutualisme. yang jelas tidak dengan cara invasi dengan presumsi dan asumsi yang tidak jelas setidak jelas jawaban ini... hehe...



nah, itu jawaban dari saya. sekali lagi, maaf telat kumpul PRnya.... but, for sure, thanks 4 choosing me.
Read More

18 Oktober 2011

Jangan menyerah pada ilalang yang tertidur bersama asa hingga petang berakhir


Jangan berhenti mencariku di tengah ilalang.
ketika bunga-bunganya
menemukanku dalam tiada
dan semerbak merasuk merengkuh makna.

karena jika kau tahu, tak satu bintang jatuh pun
yang kita pandangi di padang itu memberi harapan kosong.
Tak hanya kekesalan yang digenangkan hujan
untuk meredam hari di sore aku memetakan wajahmu
bersama lembar usangnya perkamen kuning.

Jangan berhenti mencumbuku dalam tidurmu.
saat pagi tak mungkin kembali dan malam tak pasti menjelang
hingga kita terjebak dalam tidur siang yang menjemukan.

sebab seandainya kau mengerti
aku akan menunggumu mengarungi palung mimpi
di atas sampan tua berselimut kehangatan lelap.
menyaksikan peri gigi mengendap-endap
menyusup di bawah bantal anak-anak kita.

Jangan lelah mengejarku dalam asamu.
bilamana mentari yang perlahan membakar awan
larut bersamaku pada samudera.

Agar kau pahami bahwa hidupmu lebih manis
daripada butir gula yang larut dalam secangkir teh hangat
yang kita teguk bergantian untuk petang itu.

lagi-lagi petang itu. satu petang sebelum aku merindu.
percaya lah, aku tersenyum untukmu
ketika kau telah mendapatiku,
saat kau tengah mengecupku,
bilamana kau sudah menangkapku.

Demi kau, aku percaya kau percaya padaku.
Ya, kau adalah aku.
Read More

01 Oktober 2011

nyanyian angin

Telah kusaksikan tumpuk-tumpuk angin, berkejaran brsama pemburu mungil angin.

Petang pun menyambut angin, kala malam tak jadi malam tanpa angin.

Tak pelak ibu-ibu angin tersenyum, sementara anak-anak angin tersadar dari permainan gundu.

Aku pun merasakan percik-percik angin membanjiri keningku, merasakan titik-titik angin membasahi acak rambutku.

Tak jarang angin-angin gila meracau.
Membenturkan jidat dan dagu angin di stiap sudut rumah.

Namun takkan mudah menangkap kupu-kupu angin yang akan hinggap di bunga-bunga angin.

Karena angin adalah nyata yang tak bertebak. Ia hanya lah angin. Hanya menghembus.
Read More

04 September 2011

pernahkah kau benar-benar bertanya?

aku masih bertanya-tanya, pernahkah kau mencoba untuk bertanya akan diriku yang tak jua menanyaimu saat kita punya waktu menghabiskan bahkan dua cangkir kopi setiap sabtu malam dalam keremangan lilin yang manja menari liar diantara belaian sepoi dinginnya angin yang bertemankan kabut yang membuatmu sedikit meringis sembari mengelus-elus sisi lenganmu? Yah, aku menunggumu dalam debar saat setiap kata yang kau lontarkan akan berakhir dengan nada tanya dengan lirik yang sangat ingin aku dengar. Mungkin memang agak terburu-buru hingga kau belum menangkap tiap ocehanku yang harusnya bisa bersatu di kepalamu untuk membentuk satu saja pertanyaan yang bisa kau bingkiskan padaku. Atau mungkin aku perlu mengingatkanmu saat kita
Read More

kekecewaan malam pada manusia

Parodi-parodi malam kini telah bisa membuat secangkir kopi kehilangan rasanya. Kabut pun mencibir melihat pemandangan itu, meyadari dirinya tak berarti lagi disekeliling kotak temaram yang biasa mereka tumpangi. segala keindahan kegelapan pun menjadi terabaikan oleh ke"bego"an manusia. Untung saja tak ada tangisan perih hujan, mungkin ia sedang tak disini. mungkin ia terlalu sibuk meratapi kepergiannya dari kota untuk pindah ke kota lain. aku pun tak memungkiri betapa seringnya kau diperdaya keelokan tubuh dan kilau parasnya. indah.....

betapa mudahnya mereka, bukan.bukan... kami, melupakan waktu. Padahal sempat girus-girus otakku mencekik, berbisik kalau waktu itu adalah Tuhanku. Ia abadi, bahkan dalam waktu yang terhenti, akan tetap ada waktu yang berjalan, waktu disaat waktu itu berhenti. Tidak mengintimidasi, namun memberi pilihan ke detik yang mana kita akan melangkah.

Aku sedih pada species-ku sendiri yang berusaha mengaduk kopi yang kehilangan rasanya setelah manis sesaat dan mencari ambang batas tawar dengan pH yang benar-benar netral. Bulir-bulir bijihnya kelihatan memainkan orkestra perkusi memelas dan mengikis hitamnya dunia, menggelitik gelapnya cahaya hingga akhirnya benar-benar menghilang dan larut dalam adukan sendok penjelajah waktu. kami mulai gamang, berpacu bersama semu dan celoteh anak-anak kami. entah ini memang takdir dair sang Waktu, atau memang kesia-siaan yang menggerogoti penghujung rindu akan kasih-Nya.

sluuurpp....nikmatnya kopi tanpa rasa ditambah sedikit roti keangkuhan....
Read More

Pandangan Pertama (sebuah epic)

Kala itu aku masih sepolos tembok samping rumahku. Semuanya terjadi begitu kilas, tanpa sempat aku menduganya. Berawal saat kukendarai sepeda motorku menuju tempat les. Tanpa helm rasanya ringan. Angin membelai kasar rambutku yang memang tak kalah pajang dengan sapu ijuk yang biasa kupakai menyapu teras.

Di situ lah aku bertemu dia. Ia berdiri di sudut jalan saat aku berhenti untuk memohon pada sesosok tiang agar mau menyalakan lampu hijaunya. Tak cukup beberapa detik untuk menyadari bahwa ia sedang menatapku. Aku bergetar membalas tatapannya. Jantungku berdenyut tak beraturan, dapat kurasakan denyut takikardi yang aritmia dibalik kaos oblongku. “ASTAGA” pikirku dalam hati. Rambutnya pendek, kulitnya hitam manis, walau tak semanis sawo matang. Tepat saat itu juga seluruh tubuhku mati rasa, tak bisa digerakkan, atau lebih tepatnya tak tahu harus berbuat apa.

Otakku berputar, hatiku jatuh, segala macam abnormalitas terjadi pada setiap senti bagian tubuhku. Namun bagai menekan sebuah tombol off pada remote TV atau saklar lampu, semuanya kembali, aku sudah telat. Aku tersadar dari keterpakuanku hanya karena menatapnya, sungguh menakjubkan. Kini ia mendekat. Kusadari kini setiap pasang mata dalam jarak 100 m darinya, baik lelaki ataupun wanita tertuju padanya. Ia sudah berdiri di hadapan kendaraan roda duaku sebelum aku sempat menancap gas motorku untuk segera melupakannya. “Si…si….siang”, sapaku dengan gugup sambil mencari nada yang pas, takuk kalau-kalau ia tidak suka dengan suaraku. Ia terdiam, kemudian sedikit tersenyum. Hatiku jatuh lagi. Ia menjawab perlahan “siang, bisa saya lihat SIM dan STNK-nya dek’???” sambil hormat. Aku nyengir g jelas, “ he… g bawa pak…” jadi lah aku ditilang, dan tak jadi lah aku les…. Apeeeesss…..
Read More

langit siang yang tanpa angin

Entah kenapa aku selalu teringat dengannya. Setiap kali kuhadapkan wajahku ke jendela ia selalu ada melambaikan tangannya melalui dahan-dahan yang rapuh meyapa sosok dengan kepedihan dalam hati yang sedang menulis. Seakan berkata lewat sayupnya untuk selalu mengingat dia. Aku pun bertanya pada biru, karna hanya dia yang mampu melihat yang tak mampu ku lihat, apa yang dia lakukan di di seberang sana. Tidakkah tampak bayanganku dimatanya meski sesaat? Atau kalau bisa, terbangkan aku kesana. Dimana semua hamparan bunga pengantar tidur selalu membawaku. Dimana semua bayangan tentang angin dan segala kesakralan yang dia miliki selalu bermain dengan riangnya..
Tapi aku tak mau.. sepertinya dia yang sepoi tak kunjung sudi meneriakkan salam. Tidak dengan hatinya. Tidak dengan matanya. Hanya lewat jari. Jari-jari yang hanya sekali ku sentuh dengan tanganku selama ini. Siapa yang tau dia sedang berhembus kemana. Tapi, angin yang ini selalu menemaniku, selalu, setiap saat, setiap detik, setiap kulantunkan nada sumbang yang tak pernah dipedulikan orang.

Aku telah memutuskan untuk mengambil sang biru sebagai sahabatku, bukan angin. Tapi tidak sekarang. Nanti. Kata yang tak ku tau kepastiannya untuk datang, atau mungkin tak akan pernah datang atau datang disaat aku tak lagi mampu merasakan belaian angin yang selalu mengacak tiap helai rambutku.

Sekali lagi dia menyapaku dari balik jendela dan hilang dalam keheningan siang.
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.