22 November 2011

tentang kehilangan

pict. from here

suatu hari kau bertanya tentang makna kehilangan.
tentang bagaimana wajah berubah pudar atau tentang suara yang semakin membisik
sampai semuanya hanya meninggalkan ketiadaan sebagai suatu kepastian.

kehilangan,
adalah menjadi kembali pada awal yang berbeda,
seperti selusur-selusur pagi yang menyusup diantara celah dedaunan,
rasanya tak akan pernah sama.

kehilangan, sahabatku,
adalah sebuah luka dalam memori
yang ketika dikenangkan maka perihnya semakin melebar
rasanya sakit.

lalu kehilangan,
adalah malam yang tak pernah mewujud
adalah cercah lampu jalan bercoreng jelaga
adalah rembulan yang dimakan hujan
adalah saripati tiada dengan mata sembilu
yang karenanya kau akan mati dalam puisi dan rasa pilu
atau menjadi bahasa untuk senyum-senyum yang baru.
Read More

15 November 2011

Yang Masih Bisa Kuingat Tentang November

1 November 2011

Suatu ketika, aku menanyai diriku, apa hal yang masih bisa kuingat tentang November? Dan jawabannya tidak singkat.

***

pict. from here


Aku tak pernah lupa pada awal bulan-bulan yang sama, November,  di tahun-tahun sebelumnya, dimana mega pagi akan selalu ditemani rona amarilis-amarilis jingga yang bermekaran dan embun fajar yang membeku. Lalu aku akan berhenti menemani bayang-bayangku tentang dirimu untuk menghidupi kenyataan. Dan pagi awal November  menjadi benang merah yang mempertemukanku dengan diriku, mempertemukan aku dengan kau, mempertemukan kita dengan tawa.

Aku tak bisa lupa tentang siangnya yang tak pernah menyimpan terik. siang hanya selalu menjadi awal kita melapas canda. Lalu hujan renyai berjatuhan mencercah bumi, menghamburkan manusia, dan seketika kita menjadi pemilik dunia di jalan yang selalu sama, selalu basah, selalu berdua. kita selalu menari dibawah hujan. Maka selalu ada udara yang menjadi basah dalam hembusan nafasmu. Selalu ada senyum yang menghangat disela gigi kita yang bergemeretak dingin. Selalu ada jemari bekumu yang mengikat erat tanganku. Ah, bagaimana aku bisa lupa pada sesuatu yang telah menjadi “selalu”?

Aku tak mungkin lupa akan kegetiran yang dibawa sang sandiakala dibalik keagungannya. Ada rasa bahagia telah bisa melewati satu hari lagi di sela jarimu yang segera disusul kesedih-pahitan dan ketakut-perihan kehilangan. Seperti menikmati brownies berisi pare. Seperti penerjun payung yang pada akhirnya menyadari parasutnya tak mau terbuka. Seperti luka yang kehilangan anastesinya.

***

Kau tahu, bulan November tahun ini masih ada pagi yang teja. Masih ada amarilis jingga yang juga masih mau merekah di halaman rumahku. Masih ada hujan yang siang-siang dan dunia masih berhamburan karenanya. lalu sandiakala, yang tak pernah alpa bahkan jika itu bukan November. Lalu menurutmu, apa yang bisa membuatku lupa? Ah, barangkali kau mencuri kata “lupa”-ku sebelum pergi.

Tahun ini masih punya November, sayang. Entah tahun-tahun berikutnya jika kau mengembalikan “lupa”-ku. Sampai saat itu tiba, pada akhirnya yang bisa kutanyakan adalah, hal apa yang bisa kulupakan tentang November, tentang dirimu?
Read More

09 November 2011

kunang-kunang

aku hanya kunang-kunang yang terasing
terbang lunglai di atas telaga meredam bising
bukan untuk menuai hening,
tidak pula sekedar bertukar tangkap menjaring kuning

aku hanya kunang-kunang yang menjadi takut
pada cahaya redup, nyaris padam, penghalau kabut
pada mimpi-mimpi dan harapan menjelma semut
menggetarkan sayap-sayapku berubah kalut
hati merajut kusut
merindu maut.

aku hanya kunang-kunang pengembara
menghangatkan malam menjanjikan tiada
mencoba merajut kasih selalu dalam tanda tanya
kau hanya menjawab, tidak lebih, dan aku kecewa
karena bertanya tak membuat dosa
dan aku hanya kunang-kunang yang mendamba

teruntuk morse "kunang-kunang"ku
mungkin aku kalah..


pict. from here
Read More

02 November 2011

Aku mengenangmu. Kamu?

original pict. from here
30 Maret 2010
aku tak bisa berhenti untuk tidak terjaga, hingga kuputuskan untuk memburu bayangmu berpacu bersama penaku.

Diza,
masih kah kau menerima tulisan-tulisanku? masih kah kau membacanya? karena di ketiga balasan terakhir yang kaukirimkan padaku tak ada tanda kecupmu atau sekedar bubuhan parafmu yang kau akhiri dengan bentuk hati. ada kah kau mengenang setiap bait puisi-puisi amatir yang dulu selallu membuatmu tersipu, menikmati guyuran gerimis sepulang sekolah. atau mungkin semuanya hanya berlalu sepintas dalam memori jangka pendekmu yang bahkan no.polisi impuls terakhir pun kau tak mengingatnya. semoga itu hanya karena gincumu yang habis, dan pulpenmu yang macet. hihihi...

pernah sekali aku berhasrat ingin menemuimu, menapikan malam yang muram. Tapi aku ragu Diza, aku ragu kau akan masih mengenaliku dibalik cekungan dibawah mataku. aku takut kau malah tak akan pernah membalas surat-suratku lagi. Jadi kuputuskan untuk hanya tetap memandangi potret kenanganmu yang tersenyum setengah terkekeh saat kuberikan lipstik untuk hari jadimu. aku pun memerah saat itu.

Dizaku,
masih kah kau mengenangku dengan lebih dari sekedar kenangan??
karena jika harus jujur, mantiq tak mampu lagi memenjarakan kegilaanku yang liar....

Untukmu selalu,
Pengenangmu...
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.