10 Mei 2016

DORO LONDA

Fathulrachman


Fatimah Intan Karimah, 4 th


Sebelah alis La Hami terangkat. Ini kali ke dua ia melewati pohon asam yang sama sejak mula memutuskan untuk turun dari bukit itu. Padahal La Hami hanya berjalan lurus ke bawah. La Hami ingat betul pohon asam yang persis seperti di hadapannya sudah ia lalui beberapa puluh meter di bagian bukit yang lebih tinggi.
La Hami menghentikan langkahnya lalu meletakkan seikat besar kayu bakar yang dipanggulnya ke tanah. Cepat-cepat kepalanya ia tolehkan ke belakang seperti meminta kepastian pada jejak-jejak kakinya sendiri. Tanah masih basah akibat hujan sepanjang pagi. Sungguh tidak mungkin ia melewati dua pohon asam yang sama persis tanpa meninggalkan jejak kaki yang sama pula. Dalam pikirannya yang bergumul dengan logika, terlintas dalam benak La Hami, mungkin memang ada yang aneh dengan bukit ini.
Sejak mengenal dunia, La Hami dan orang-orang di desanya sebenarnya sudah diwanti-wanti untuk tidak pernah mendaki ke bukit keramat itu, apa pun alasannya. Katanya, bukit itu iso. Ompu Tua selalu menegaskan larangannya, “jangan sekali-sekali mendaki Doro Londa! Jangan cari perkara dengan doro itu! Siapa saja yang naik ke sana tak akan pernah kembali kecuali dengan membawa petaka.”
Doro Londa telah menjadi simbol hal-hal gaib bagi masyarakat di desa Panda, tempat La Hami tinggal, dan desa-desa lain yang membentang di kaki bukit tersebut. Menurut orang-orang desa, bukit itu sudah dikeramatkan sejak masyarakat masih menganut kepercayaan makakamba-makakimbi, sebelum Sang Bima datang. Dari bibir setiap sudut desa, La Hami sudah banyak mendengar cerita-cerita mistis yang dilahirkan oleh rahim Doro Londa dan entah berapa banyak lagi yang masih dikandungnya.
Doro Londa dan mitosnya selalu terselip di setiap pembicaraan warga desa. La Hami sering kali mendengar Ompu Tua bercerita tentang banyaknya jin yang menunggui bukit itu, serta kesialan yang akan menimpa siapa saja yang mendekati Doro Londa. Melalui ibu-ibu yang berkumpul saat membeli sayur keliling, La Hami juga tidak sengaja mendengar tentang mitos ular raksasa yang berkeliaran di bukit. Dari para remaja yang diam-diam pernah mendaki Doro Londa, La Hami mendengar lebih banyak variasi cerita. Mulai dari istana jin beserta pasukannya, kucing atau burung raksasa, sampai mahluk jadi-jadian. Setiap mereka khatam mendeskripsikan suatu mahluk, anak-anak remaja lain yang mendengarkan selalu ada yang mengelus-elus bulu tengkuknya atau sekedar menggigil kengerian.
La Hami tak punya pilihan selain mencari kayu bakar di Doro Londa. Melihat ibunya menjadi buruh di ladang orang lain untuk mengisi perut mereka berdua membuat hati La Hami perih. Selain menjadi buruh ladang, Kadang-kadang jika sedang sangat butuh uang, ibu La Hami mengetuk pintu rumah tetangga sekitar, menanyakan apakah ada pakaian yang mau dicucikan olehnya.
Ibunyalah satu-satunya orang yang tahu tentang pendakian doro londa yang dilakukan La Hami. Berkali-kali ia naik turun tanpa sepengetahuan orang desa kecuali ibunya. Berkali-kali pula ibunya membujuk La Hami mengurungkan niatnya untuk kembali menjajaki Doro Londa. Awalnya dia tak cuirga dengan kegiatan baru La Hami membantu keuangan keluarga dengan mencari kayu bakar. Betapa kaget bukan kepalanglah dia ketika La Hami mengaku mengambilnya di kedalaman Doro Londa. Meski begitu tentu saja ibunya tak akan melapor ke Ompu Tua. Semua yang diketahui pernah mendekati Doro Londa akan dijauhi warga desa. Bagi Ibu La Hami, itu artinya tak ada lagi yang akan memberinya pekerjaan.
Rasa iba pada ibunya telah membuat La Hami menjadi lelaki yang tidak takut pada mitos Doro Londa betapapun besar petakanya. Petaka terbesar La Hami adalah melihat ibunya tak makan seharian karena tak ada lagi ladang yang perlu digarap atau baju yang perlu dicucikan. Bahkan walau La Hami percaya, tak ada jalan lain yang bisa dilakukan untuk menjaga tungku di dapurnya tetap menyala. Ia bisa saja mengikut pada sampan-sampan nelayan untuk melaut. Namun pada musim penghujan seperti ini, penghasilan melaut menjadi sulit. Tak banyak ikan yang bisa ditangkap para nelayan, apalagi untuk La Hami yang hanya menumpang sampan. Pada musim hujan, justru kayu bakar menjadi mahal jika dijual di pasar. Itu selama orang-orang tak tahu, kayu tersebut berasal dari Doro Londa.
Kini, setelah mendapat seikat besar kayu bakar, La Hami harus segera turun dari bukit. Langit mulai sendu. Hujan pun bisa turun kapan saja. La Hami harus segera pulang sebelum gelap atau hujan memeluk Tanah Bima. Kayu-kayu itu tak boleh basah agar bisa cepat dijual. Malam ini cahaya purnama juga tak bisa menembus kerumunan awan. Akan sulit untuk menapak dengan aman. Diangkatnya kembali seikat kayunya lalu mulai berjalan menuruni bukit. Ia memutuskan untuk melupakan perihal pohon asam itu. Mungkin kesamaan itu hanya perasaanya saja. Mungkin pula kedua pohon tersebut memang mirip, La Hami saja yang tak terlalu serius menanggapinya. Dengan asumsi-asumsi yang demikian ia menyegerakan langkahnya lurus ke kaki bukit. Ia dan kayu-kayunya harus segera tiba di rumah.
Sesungguhnya, La Hami tak perlu menjadi pencari kayu bakar di Doro Londa jika saja ayahnya tidak pergi mengadu nasib di tanah Sulawesi. Ketika saudagar Makassar yang mendakwahkan islam di tanah Bima pulang ke tempat asalnya, Ayah La Hami ikut menumpang Pinisi dan mencoba peruntungan di sana. Tetapi kabar tiba atau peruntungannya tak pernah kembali ke telinga La Hami dan ibunya. Selama lima kali Muharram, La Hami dan ibunya hidup dengan kerinduan yang disusupi sebentuk pengkhianatan.  Selama tak ada kabar yang jelas tentang nasib ayahnya, La Hami dan ibunya akan selalu tidur dengan dua pertanyaan: apakah ayahnya sudah meninggal, atau sebaliknya, menjadi sukses dan melupakan dia dan ibunya.
Setelah berjalan beberapa puluh meter, kayu-kayu yang dipanggul La Hami ia turunkan lagi. Kali ini La Hami dicegat oleh perasaan was-was. Jakunnya beberapa kali naik turun menelan ludah. Sekarang La Hami tak mungkin salah, pohon asam yang sudah dua kali dilewatinya lagi-lagi ada dihadapannya. Tak perlu diamati terlalu lama, itu pohon asam yang sama. Tidak ada tiga pohon yang persis sama arah tumbuh dan lekuk batangnya. Yang mengherankan, tak ada jejak kaki yang menapak disekitar situ seolah ini pertama kalinya La Hami lewat.
Gelegar guntur di rerimbunan awan menjadi lonceng dimulainya lagi pertarungan pikiran La Hami. Ia sudah beberapa kali membuktikan keberaniannya di Doro Londa dan itu dilakukannya dengan rute yang sama. Cila mboko yang tersampir di pinggang La Hami menjadi saksi kegagahannya membabat belukar sehingga menjadi sebentuk jalan setapak. Lalu pohon asam itu juga telah menjadi penanda jalan yang harus ditempuhnya untuk kembali ke desa. Setelah melewati pohon asam, La Hami hanya perlu berjalan lurus menuruni bukit. Itu rutenya. Selama berkelana di Doro Londa, belum pernah ia melewati dua atau bahkan tiga pohon asam yang persis serupa. Tapi betapa pun anehnya pemandangan itu, air wajah La Hami tetap keras seolah menolak mengakuinya sebagai petaka. Dahinya yang hitam mengernyit. Tak mungkin aku tersesat, pikirnya.
Di dalam dada La Hami, pohon asam itu seperti penyakit yang pelan-pelan menyerang keteguhannya. Ia tidak ingin menerima keanehan yang sedang dialaminya sebagai peristiwa yang mistis. Namun La Hami tak bisa menjelaskan dengan logis bagaimana pohon asam yang persis sama itu bisa tiga kali ada di hadapannya sedangkan tak ada bekas kakinya yang menjejak. Lagi pula tidak mungkin La Hami tiba di tempat yang sama selama ia hanya berjalan lurus ke kaki bukit.
Berapa lama pun berpikir, La Hami tetap tidak bisa mengerti. Dengan menghitung waktu lamanya berjalan semestinya ia sudah berada di kaki bukit menyusuri jalanan desa lalu tiba di rumah. Sementara desanya belum juga nampak, pertanyaan-pertanyaan aneh terus berloncatan dari kepala La Hami seperti jangkrik yang lepas dari kandangnya. Sesekali, pertanyaannya itu terbentur dengan segala cerita mistis tentang Doro Londa yang sudah lama mendiami ingatannya.
Dahi La Hami mengernyit lebih keras. Tak mau berlama-lama berputar dalam pikirannya sendiri, La Hami memutuskan mengangkat kayu-kayunya sekali lagi. Tak ada yang bisa diketahui dari perdebatan dengan diri sendiri, gumamnya. Toh satu-satunya jalan adalah ke bawah. Sudah terlalu lama ia membiarkan ibunya sendirian di rumah.
Guntur masih bergemuruh seumpama perut La Hami yang kelaparan. Petang sedari tadi telah meremang. Saat-saat seperti itu, dengan mengenakan rimpu di kepalanya, ibu La Hami berangkat ke pasar sore. Ibu La Hami akan mencari keladi dan kelapa untuk menu makan malam. Keladi itu akan direbus dan kelapanya diparut kemudian diasinkan. La Hami sangat suka menu itu. Atau jika beruntung, ibu La Hami bisa mendapat ikan-ikan yang tidak laku dijual dengan harga murah. Ikan-ikan itu akan direbus kunyit asam. Ketika La Hami pulang ibunya selalu telah selesai mengisi kolong tudung saji untuk makan malam.
La Hami terus berjalan membelah Doro Londa sambil masih membayangkan masakan ibunya. Kayu-kayu bakar yang dipanggulnya terayun kokoh seolah tak lagi berat jika menyaksikan kehangatan keladi dan lauk pauk yang terhidang di ingatannya. Kekhawatirannya lenyap sepanjang kenangannya pada suasana rumah dan ibunya. Langkahnya lambat laun menjadi gegas. La Hami yakin, dengan berjalan terus ke bawah kaki bukit, dia akan tiba di jalan desa, lalu masuk ke rumah untuk bersantap malam bersama ibunya, tentu saja jika ia tidak bertemu dengan pohon asam yang sama untuk keempat kalinya.
Bima, 2015
***
Doro: Bukit
Iso: Keramat
Ompu Tua: Tetua adat/Orang yang dituakan dalam sebuah desa
Makakamba-Makakimbi : kepercayaan Animisme dan Dinamisme yang dianut masyarakat Bima pada Zaman Naka (Prasejarah) sampai sekitar abad ke-8 Masehi.
Cila mboko: Parang yang ujungnya bengkok, biasa digunakan untuk berladang.
‘Dohoe: wahai sekalian.

Rimpu: Sejenis sarung yang biasa digunakan wanita suku Bima sebagai jilbab sejak Islam masuk pada abad ke-16 Masehi.


Dimuat dalam Laman Literasi Lombok Post, 8 Mei 2016
Read More

12 April 2015

Bagaimana Seekor Katak Menemukan Keberanian dan Keluar dari Tempurungnya

“No man ever steps the same river twice, for it’s not the same river and he’s not the same man.” ~ Heraclitus, Filsuf.

Jalan Panjang Menuju Puncak Kelimutu

Dunia itu luas, meski orang-orang asing yang ditakdirkan bertemu lebih dari sekali sering mengatakan sebaliknya. Ada begitu banyak perihal yang tidak kita ketahui meski orang-orang picik tidak berpikir demikian.

Dengan dua kalimat itu, saya kemudian memutuskan untuk bertualang dan menuliskan kisah lain dalam hidup saya untuk diri saya sendiri yang di masa depan. Saya ingin mengingatkan diri saya yang nanti tentang perihal-perihal baik yang mungkin terjadi dalam perjalanan ini, agar setiap kali menerima kesedihan ia akan percaya selalu ada lebih banyak kebahagiaan dalam dunia ini. Saya tak perlu terlalu kuatir tentang kesedihan yang ada dalam tualang itu atau bagaimana perjalanan itu akan berlangsung. Saya hanya perlu tahu bahwa ujung jalan itu akan mengubah diri saya menjadi seseorang yang lain (dan semoga lebih baik).

Saya sendiri bersama beberapa teman, pada suatu pertemuan akhirnya sepakat berpetualang dengan cara backpacking. Menenteng keril lalu menantang alam, menapak jejak sembari menepuk dompet, mengecup tempat-tempat baru dan mengecap pengalaman baru. Melakukan perjalanan dengan cara backpacking adalah kegiatan yang tidak asing lagi di zaman sekarang. Orang-orang bisa melakukan tualang ke mana pun dan kapan pun mereka inginkan –dengan batasan-batasan tertentu– tanpa perlu mengeluarkan banyak uang. Setiap orang-orang itu tentu saja mempunyai alasan yang dan pandangan yang berbeda mengenai langkah-langkah menuju ‘kehidupan lain’ yang mereka lakukan. Ada yang melakukannya karena kesenangan semata, refreshing, lari dari ‘kenyataan’, ilmu pengetahuan, perjalanan religi, gaya hidup, hobby, atau juga gabungan dari perihal tersebut.

Mungkin tidak jauh berbeda dengan mereka yang telah menempuh kembara sebelumnya. Hanya saja, dalam perjalanan kami ada sesuatu yang mungkin tak setiap perjalanan memilikinya. Jika pada umumnya orang mengunjungi malaysia atau singapura atau luar negeri lebih jauh yang menggiurkan mata untuk backpacking, kami lebih memilih Nusa Tenggara sebagai tujuan. Selain karena kami punya beberapa kenalan di beberapa bagian tempat,  ada sejumlah alasan filosofis mengapa kami memilih NusaTenggara.

Pertama, sebagai orang Indonesia yang meskipun hidup di bagian tengah – saya dari Makassar – tetapi saya bersama teman-teman perlu melihat sendiri bagaimana kehidupan saudara setanah air kita di bagian timur. Kami ingin membuktikan bagaimana tindakan pemerintah kita terhadap kesenjangan pembangunan negara. Terdengar seperti pejabat yang blusukan? Tidak. Saya sama sekali tak tertarik tentang politik. Yang ingin saya bersama teman-teman munculkan pada diri kami sendiri adalah rasa peka dan kepedulian sosial yang diperlukan sebagai dokter sehingga perjalanan ini bukan jalan-jalan biasa. Maka hanya dengan cara backpacking-lah saya bersama teman-teman bisa berkomunikasi lebih dekat dengan masyarakat.

Kedua, dalam penjelajahan Nusa Tenggara ini kami ingin melintasi perbatasan Timor Leste setelah melihat bagaimana orang-orang  di sana mempertahankan jiwa nasionalisme mereka. Kata teman seperjalanan saya, “Nasionalisme itu tidak hanya dipelajari di bangku-bangku sekolah, tetapi perlu dengan pengalaman nyata.”

Tinggal di perbatasan mungkin bisa dianalogikan dengan kebimbangan hidup seseorang terhadap agama – meski tidak sakral tentunya. Namun kemampuan seseorang untuk mempertahankan hidup yang layak tentu bisa mempengaruhi jiwa nasionalisme. Inilah hal yang sebenarnya perlu diperhatikan pemerintah terhadap saudara-saudara kita yang tinggal di wilayah perbatasan.

Lalu ketika menjadi wisatawan asing di Timor Leste (yay! akhirnya ke luar negeri juga) kami ingin mencoba melihat bagaimana negara kecil ini membangun dirinya setelah kemerdekaan. Bagaimana sejarah dituturkan dari mulut-mulut orang lokal. Karena ingin jalan-jalan, tentu kami mempertanyakan bagaimana tempat wisatanya.

Ketiga, kami percaya bahwa eksotisme Nusa Tenggara tak kalah indah dibanding tempat wisata di daerah lain atau di negara lain. Indonesia punya banyak tempat yang perlu dijelajahi dan dikuak keindahannya untuk diperkenalkan dengan lebih layak ke wajah dunia, terutama di Nusa tenggara ini.
Keempat, latar kami yang bergelut di dunia kesehatan sebagai dokter semakin membuat perjalanan ini bukan ekspedisi biasa. Di perbatasan, seorang dokter TNI yang satu almamater dengan kami mengajak untuk melakukan bakti sosial berupa pengobatan dan sunatan massal. Maka lengkap sudah tualang kami. Ada manfaat timbal balik yang kami dan masyarakat sekitar dapatkan. Setidaknya perjalanan ini buka langkah yang sia-sia.

Agama di wilayah Nusa Tenggara Timur mayoritas kristiani (katolik). Kami datang kebetulan bertepatan dengan hari-hari paskah. Saya melihat orang-orang di tempat ini begitu religiuis beribadah ke gereja dan pada sebagian besar wilayah, amat sulit mendapatkan masjid. Tanpa saya sadari tantangan terbesar saya dalam perjalanan ini sebagai umat muslim, adalah bagimana menjaga keistiqomahan saya beribadah dengan tak adanya masjid dan air serta godaan pikiran sendiri. Ini tanpa secara kebetulan menjadi alasan kelima mengapa perjalanan ini menjadi menarik. Di tempat yang jauh dari rumahNya, saya merasa sangat menikmati perjuangan sebagai hamba yang (berusaha) taat. :’)

Seperti katak dalam tempurung yang baru menemukan keberaniannya dan melompat keluar untuk melihat dunia, sudah beberapa kali saya bersama teman-teman merencanakan perjalanan, namun baru kali ini kami menemukan kesempatan dan keberanian untuk keluar dari  balik meja kerja. Kami tahu perjalanan ini tak bisa selalu baik-baik saja, dan kami harus menyiapkan keberanian untuk itu. Pada akhirnya apa yang kita lakukan akan membentuk diri kita sendiri di masa depan, dan saya melakukan perjalanan ini dengan harapan dapat memperbaiki cara pandang saya tentang cara kerja dunia dan menambah sudut pandang saya tentang kehidupan.

Orang bijak selalu berkata, “bukan tujuan yang penting, tetapi perjalanannya.” Dan saya sepenuhnya sepakat, walaupun bagi saya, tujuan yang sesungguhnya dari petualangan adalah perjalanan itu sendiri. ~ Falra

PS: Detik dan detil petualangan akan saya bagikan di postongan berikutnya.
Read More

21 Maret 2015

Kecupan, Rumah dan Buku-buku (Puisi)

Curhat Sepotong Kecupan

Selagi tubuhku belum melayang, mendarat dan menghilang dengan sempurna
Aku ingin dibesarkan bersama kehidupan dan kenangan yang tak pernah padam.
Bila tiba saatnya aku menghempas, letakkanlah keikhlasan di setiap jejak bibirmu.
Agar kelak bertunaslah harapan, dan bertumbuhlah angan-angan
serta agar kebahagiaan memulai paginya dari sana.

Sematkanlah kerinduan pada setiap selamat tinggal dan selamat datang
Di kening dan jemari orang-orang yang telah atau akan ditinggalkan
Ucapkanlah doa-doa tentang kepulangan masa lalu setelah menjauh,
tentang keselamatan masa depan sebelum kembali,
juga tentang masa-masa kepergian yang acap kali misteri.

Aku ingin tinggal di kening istri-istri yang menjaga dirinya,
di pipi kekasih yang memeluk kerinduannya,
di punggung tangan orang tua yang merelakan anaknya berangkat sekolah,
juga di mata jendela yang menunggu cahaya pagi.

aku ingin mati dari bibir orang-orang penyayang,
dari ingatan-ingatan yang tak sudi kehilangan,
dari nafas-nafas pecinta yang saling melupakan.

 Biarkan maut menemukanku di tempat yang lebih bermakna.



Rumah dan Sajak-sajak tertidur

Aku sungguh-sungguh sedang menantikan malam datang bertandang
Di tengah padang gelap aku merasa bisa merakit rumah  dengan ketenangan
Saat itu, orang-orang terlalu sibuk membangun mimpi dan enggan mengotori jalan
Angin akan mengantuk dan dedaunan adalah tangan-tangan yang berdoa.
Waktu juga kegelisahan bernafas tanpa nyanyian mesin-mesin panas.

Aku ingin tinggal di atap yang lengang dari kesedihan
Setiap malam, kita akan membacakan sajak atau menanam kenangan
di kening anak-anak kita sebelum mereka tertidur.
Sambil terus berharap ketika esok tiba,masa lalu berubah menjadi tawa,
Begitu kebahagiaan mendekap wajah mereka dan mendekam di sana.

Rumah kita tak butuh neon atau mesin pendingin udara
Kata-kata dan irama adalah kesejukan yang alami
Bila malam tiba aku akan menyalakan ruang tamu dengan puisi,
Agar kesenduan bisa melihat wajahnya sendiri

Di kamar, Aku selalu berharap bisa tidur di atas sajak,
Jangan pernah takut kedinginan,
Pelukan tak pernah gagal menjadi selimut terhangat
Lengan-lengan kita terus merambat erat mengikat
Mereka tumbuh sebagai sesuatu yang tak bisa ditebang
Juga api yang tak sejahat nyala puntung rokok.



Buku tertawa

setelah wanita itu pergi ke sebuah pulau yang tidak pernah dikenalnya, kau sering membunuh kesendirian dan menghidupkan kesepian di perpustakaan.
Kau hendak tinggal bersama buku-buku yang kerap berharap bertahan pandai selamanya.
kau menghamparkan mereka di atas meja layaknya semesta kata-kata atau peti yang mengandung rahasia.
Kemudian kesedihan yang tak bersudah membuat semua buku itu membuka sangat lebar. Bahasa, kata, dan aksara keluar dari lembar halamannya masing-masing. Tiba-tiba saja setiap huruf dan angka menguap, berkembang dan mengambang menjadi suara tawa.

Buku-buku itu membuka-katupkan dirinya seperti bibir yang sedang terbahak.
Kau merasa sedang berada di dalam pertunjukan lawak dengan penonton yang sakit perut karena banyak tergelak.
Buku-buku renta yang berbaris di raknya juga tertawa sangat keras dan lepas.
Suara tawa buku-buku itu membanjiri perpustakaan yang pengunjungnya hanya dan selalu sedikit. Kau lalu membayangkan buku-buku itu basah dan mengapung bagai perahu di atas suara tawanya sendiri. Kau dan pengunjung lain hanya penumpang yang ikut berlayar.

Kini segenap buku di dalam perpustakaan sempurna tertawa. Tak ada lelah atau jeda yang sudi menghentikan suara tawanya.
Semua buku itu terus saja tertawa, mengabaikan peringatan dilarang berisik yang digantung di dinding perpustakaan.
Kaulah satu-satunya yang tidak berhasil menerka guyonan itu. petaka, celaka dan semua duka kepergian lelaki itu membuat kau lupa cara menikmati lelucon.

Buku dan perpustakaan adalah dua hal yang kau sukai, sedangkan tawa dan kepergian seorang lelaki di hari yang sama adalah dua hal yang tidak bisa kau mengerti. Kau tak tahu buku-buku itu rupanya sedang menertawakan diri mereka sendiri. Hidup lebih sebagai pajangan membuat kalimat dan gambarnya melepaskan diri ke udara. Entah sebagai tawa atau air mata. Begitulah buku-buku membaca dirimu dan mengajarkan bahwa tawa adalah cara yang tepat untuk menikmati kesedihan. 
Read More

14 Maret 2015

Mengapa Tuhan Tidak Menciptakan Mesin Waktu

Pict. from here

Pada tengah malam yang buta, saya tiba-tiba terbangun dan tak hendak terpejam lah untuk beberapa lama. Waktu-waktu yang enggan dilalui mata saya dengan bermimpi diluangkan untuk iseng membuka lini kala di twitter dan akhirnya terjerembab di salah satu postingan blog seorang teman yang malam itu ia cuitkan. Anehnya, teman ini membuat saya bisa menulis lagi di blog ini setelah sekian lama. (terima kasih, kak. :) )

Saya tak begitu mengerti apa yang dituliskannya - terbangun tengah malam tentu membuat kepala sulit diajak fokus, apalagi dipaksa - tetapi saya bisa menangkap keresahan-keresahan yang dibentuk oleh sekumpulan kalimatnya: penyesalan.

Ada banyak alasan yang membuat orang merasakan sesal, tetapi hanya perlu satu komponen untuk membuat orang-orang itu menyadari penyesalannya. Kita menyebut komponen itu sebagai waktu. Pepatah "penyesalan selalu datang belakangan" sudah ada sejak entah dan manusia tak pernah bisa menyadari artinya sampai mereka merasakannya sendiri.

Berangkat dari penyesalan, kita kemudian mulai belajar mereka-reka masa lalu yang secara harfiah hanyalah setumpuk ingatan getir. Kita (atau sebut saja mereka, jika kau keberatan dan pikiranmu mulai mengoceh, "kita? loe aja kali.") mulai berandai-andai terhadap berbagai kemungkinan yang seharusnya dilakukan ketimbang apa yang sebenarnya telah terjadi. Mengubah masa lalu adalah alasan paling mudah dan mungkin satu-satunya yang bisa dipikirkan para ilmuwan untuk menciptakan mesin waktu.

Sampai saat ini, dengan berandai-andai, kepalamu adalah mesin waktu paling ekonomis sekaligus realistis yang tidak pernah diciptakan manusia. Masa lalu - dalam kepalamu, hanya dalam kepalamu - dapat berubah sesuai keinginanmu. (Ah! saya pernah menulis cerpen tentang ini.)

Saya tak tahu tentangmu, tetapi agama saya (ya, agama) tidak terlalu bersahabat dengan istilah berandai-andai. kebanyakan berandai-andai membuat kita lupa bersyukur pada apa adanya kita kini. Penyesalan membuat kita menjadi lebih teliti pada kesalahan-kesalahan lampau dan mengubahnya menjadi rayap yang memakan keteguhan hidup kita sendiri. Kita menjadi rapuh dan mudah diserang rasa bersalah. Padahal, bahkan jika kita berhasil mengubah satu momen penyesalan menjadi seperti yang kita inginkan tak pernah ada jaminan kekinian kita akan berakhir lebih baik. Masa depan selalu menyediakan ketidakpastian.

Tak sepenuhnya buruk, berandai-andai tentang masa lalu diperbolehkan untuk diambil sebagai pelajaran, bukan penyesalan. Bahkan tanpa perlu dikhayalkan, penyesalan sesungguhnya membuat kita memahami arti kesalahan sebagai sesuatu yang pantas diterima. Itu artinya kita telah sampai pada fase memaafkan diri sendiri dan belajar darinya. Adapun kata-kata atau sikap orang lain terhadap kesalahan kita semestinya tak menjadi alasan kita ikut membenci diri sendiri. Bukankah kesalahan yang menjadikan kita manusiawi?



Dengan semua kesalahan yang terjadi, bisakah kita tidak menyesal? Tentu saja bisa. Tidak segala kesalahan membutuhkan kekecewaan. Saya gagal melanjutkan hubungan dengan seseorang, dan saya tak menyesali waktu-waktu saya yang terbuang bersamanya. kesedihan dan kekecewaan adalah dua hal yang bertalian meski tak selalu harus hadir bersamaan. Bukan hidup namanya jika jalan kita hanya berpapasan dengan yang baik-baik saja atau yang indah-indah saja.

"Sebanyak-banyaknya penyesalan, saya berpikir, kita punya lebih banyak perihal yang patut disyukuri" ~ falra.


Jika kamu masih belum mengerti, kamu perlu menonton film di atas, atau jika sudah, tontonlah lagi. saya mengingat film itu sesering saya menyesali sesuatu. Ada banyak film tentang mesin waktu, dan pesannya relatif sama. Namun saya lebih suka film "The Time Machine" (2002) ini.

PS: Tolong jangan menganggap saya orang bijak karena tulisan ini (nanti saya Ge-er). Saya hanya orang yang menganggap masa lalu layaknya keindahan alam. Tak perlu diusik, biar saja seperti adanya. Jika kau tak percaya, baca saja judul blog ini.



Read More

10 September 2014

Merelakan Kehilangan





Seringkali orang-orang mengalah pada perasaannya dan mengabaikan kemampuannya untuk merelakan. ~ falra




Saya pernah mencintai seseorang begitu dalam. Sangat dalam sampai-sampai ketika dia pergi sebelum sempat mengetahui apa yang saya rasakan, saya menjadi orang yang sulit menerima. Saya berpikir, betapa tidak adilnya kehidupan ketika kita diberikan perasaan cinta yang pada akhirnya tidak pernah kita miliki. Saat itu saya belum belajar, bahwa apa-apa yang tidak sempat kita miliki bukanlah sesuatu yang perlu ditangisi terlalu lama.

Tak ada gunanya mempertahankan ego dan berdebat dengan diri sendiri tentang ketidakmampuan kamu mendapatkan sesuatu. Toh, seberapa besar pun kamu bertahan pada keinginanmu, tak ada yang bisa kamu lakukan untuk memaksa hati orang lain untuk kembali, karena menyayangi tidak pernah bersifat memaksa. Ada beberapa kehilangan yang seberapa pun kuatnya kita mencari, tetap tidak bisa kita temukan kembali. Pada akhirnya, segala hal yang telah hilang dan tak ditemukan -- cepat atau lambat -- hanya bisa direlakan.

Begitulah hidup. Pada segala sesuatu yang bermula, Selalu akan ada akhir. Pada setiap penemuan akan selalu ada kesempatan untuk kehilangan. Kita terkadang terlalu  takut menanggapi datangnya kesempatan itu. Hal itu kemudian membuat kita menjaga terlalu ketat, menggenggap terlampau erat. Padahal tanpa kita sadari, hal itulah yang membuat kita kehilangan. Tidak adilkah? Tentu tidak jika sesuatu yang kita jaga itu serupa harta atau benda berharga. Namun menjaga seseorang dari kehilangan tidak begitu. Menyayangi sepenuhnya dan percaya seutuhnya, begitulah cara menjaga yang baik menurut saya.

Saya berpikir, jika pada akhirnya dengan penjagaan yang sebaik itu saya tetap kehilangan, mungkin saya patut bersyukur. Tuhan tidak membuat saya menyia-nyiakan waktu lebih banyak dengan orang yang salah.

Sudah baca atau nonton film The Fault in Our Stars? film yang belum lama tayang di bioskop tentang seorang remaja perempuan bernama Hazel Grace yang menderita kanker kelenjar tiroid yang saling jatuh cinta dengan Augustus Waters yang mengidap kanker tulang.

Ada momen di sepertiga akhir film ketika Hazel Grace menceritakan saat-saat ia masuk ke ruang Gawat Darurat Rumah Sakit. Waktu itu Hazel Grace sedang merasakan sakit yang sangat hebat di dadanya. Perawat biasanya akan bertanya skala nyerinya dari nol hingga sepuluh agar bisa menentukan obat apa yang akan diberikan. Ketika ditanya, Hazel Grace mengangkat sembilan jari. Setelah diberi obat dan nyerinya berkurang, perawat itu datang lagi dan bilang kalau Hazel Grace adalah gadis yang kuat, karena perawat itu tahu, nyeri seperti yang dirasakan Hazel Grace seharusnya bernilai sepuluh.

Bagi Hazel Grace itu tidak sepenuhnya benar, karena sebenarnya ia telah menyimpan skala rasa sakitnya yang paling dalam saat kehilangan Augustus. Berlebihan? Tidak, koq. Kehilangan memang menyakitkan. seolah-olah setiap tarikan nafas kita mengandung racun yang kemudian menetap di bagian dada yang paling dalam, dan tak ada cara tercepat untuk melegakannya, tidak juga dengan hembusan nafas panjang. Namun memaksakan kehendak tidak akan membuat segalanya menjadi lebih baik. Saya tidak ingin membiarkan diri saya lebih luka dengan mempertahankan apa-apa yang tidak seharusnya saya miliki.

Merelakan bukan tanda kelemahan, tetapi sebagian orang berpikir begitu. Sebaliknya, melepaskan sesuatu yang telah menjadi bagian dari ingatan kita itu butuh kekuatan yang besar. Lalu, hidup dengan ingatan tentang seseorang yang tak lagi ada itu butuh kekuatan yang lebih besar. Ada banyak orang yang tidak cukup kuat untuk bertahan hidup setelah kehilangan. Kenapa? mungkin karena kita belajar ikhlas dari keimanan, dan keimanan seharusnya lebih tinggi tempatnya dibanding kecintaan. Orang-orang yang meletakkan cintanya lebih tinggi akan sulit melepaskan, dan begitulah mereka sulit menjadi lebih kuat setelah kehilangan.

Merelakan kehilangan berarti membuat kesepakatan dengan diri sendiri untuk membuang beban dari setiap kenangan yang tinggal. Dengan begitu kita tidak akan melukai siapa pun, bahkan diri kita sendiri.


***


Falra. :))



Read More

29 Januari 2014

Tiga Permintaan Terakhirku Sebelum (Kau) Mati


sebelum kau mati, aku ingin tidur di pangkuanmu.
sehingga kehangatan akan bertunas di kepalaku
seperti setiap kali kau menyisirnya dengan jemari
lalu kerinduan akan berdiam di hari esok
dan aku akan tetap percaya kau masih hidup di sana.


sebelum kau mati dan ragamu menjadi basi, aku ingin tidur bersamamu.
sehingga setiap pelukan akan membelenggumu lebih erat
dan ruhmu mengenal rumah tempat ia bisa selalu pulang.


sebelum kau mati, kekasih, aku ingin kau membunuhku
sehingga kematian menggenapkan dirinya
dan menidurkan kita di dalam keabadian.
Read More

31 Desember 2013

Surat Akhir Tahun

Biarkan seberapa panjang hidupmu menjadi rahasia tuhan. Yang perlu kamu cari tahu, seberapa cukupkah kamu memaknainya. ~ Falra.


Dear Falra, sahabatku.

Seperti yang kamu lihat disekitarmu sekarang, tahun masehi 2013 akan berakhir beberapa jam lagi. Orang-orang tengah sibuk mengepak masa lalu masing-masing dan memindahkannya di tahun yang baru. Mereka sedang khidmat menghitung atau menganalisa harapan yang mereka capai atau tidak dicapai sampai akhir tahun ini, juga mendesain harapan-harapan yang  baru untuk ditempelkan di dinding kamar mereka sepanjang dua belas bulan ke depan. Walaupun tak sungguh-sungguh, kamu juga melakukannya. Ya, kamu tak pernah sungguh-sungguh membuat atau merefleksikan harapan-harapanmu setiap akhir tahun. Que sera sera, begitu selalu katamu.

Harapan, fal, tidak ditentukan oleh banyak atau baiknya ia dituliskan, tapi oleh usaha dan konsistensimu untuk mewujudkannya. Lalu usaha dan konsistensi itu akan terjaga hanya ketika kamu benar-benar menginginkan harapan itu terwujud. Maka, ketika kamu tidak sungguh-sungguh membuatnya, kamu pun akan lebih banyak menemui kegagalan yang membuatmu menjadi tidak sungguh-sungguh membahasnya ketika waktu setahun itu usai. Maksudku, buatlah sesuatu yang betul-betul kamu inginkan. Dan lakukan dengan penuh perenungan. Masuklah ke dalam hatimu dan temukan sesuatu yang sesungguhnya ingin kamu wujudkan.

Kamu tahu, harapan atau keinginan atau mimpi atau apapun namanya, bukan itu dan pewujudannya yang esensial. Lebih dari sekedar mewujudkan impian, kehidupan itu tentang seberapa cukup kamu memaknainya. Dengan impian-impian yang ingin kamu wujudkan, kamu akan tahu seberapa berartinya hidupmu, setidaknya bagi dirimu sendiri. Agar pada akhirnya nanti, kamu tidak mati dengan kesia-siaan. Maka dari itu kamu perlu membuat sebuah impian yang betul-betul kau inginkan, fal. Kamu juga harus berhenti membuatnya secara situasional. Itu akan membuatmu tidak konsisten. Kamu tak akan tahu, apa kamu betul-betul masih menginginkannya disuatu saat yang nanti.


Fal,

Akhir tahun memang bukan satu-satunya waktu untuk menentukan resolusi. Ia hanyalah penanda waktu mulai dan deadline bagi harapan-harapanmu itu. kamu bisa memulainya dari mana saja sepanjang kamu menentukan batas waktunya. Tetapi sekali lagi, bukan itu yang utama. A matter of fact, itu hanyalah cara agar kamu bisa berubah menjadi lebih baik. Dengan membuat sesuatu yang kamu impikan dan mewujudkannya, kamu seharusnya menjadi seseorang yang tak lagi sama dengan dirimu di awal tahun.

Tepat ketika kamu menjadi seseorang yang lebih baik karena tercapainya impian, kamu seharusnya menjadi lebih dekat dengan tujuan hidupmu. Bahkan, kamu seharusny bisa lebih dekat dengan Tuhan-mu.

Bahkan jika apa-apa yang kamu impikan tidak menjadi nyata, kamu seharusnya bisa belajar dari seberapa keras kamu berusaha mewujudkannya.

Tidak, fal. Saya tidak sedang menyuruhmu untuk mulai mencatat perihal harapan-harapan yang ingin kau wjujudkan tahun depan. Lebih dari itu, sebenarnya saya hanya ingin kamu, kita, maksudku, kamu dan aku, bisa belajar untuk menjadi lebih baik dari diri kita yang sekarang. belajar melihat dunia lebih luas. Seperti menaiki tangga yang tinggi lalu melihat seberapa mengagumkannya perjalanan yang kita tempuh. Belajar menyisipkan esensi dari setiap impian-impian kita, agar pada akhirnya nanti, ketika tiba saatnya kita mengevaluasi, kita tidak hanya membubuhkan tanda check pada setiap impian itu lalu beralih pada impian-impian baru, tetapi  juga menjadi semakin dekat dengan sebentuk kedamaian yang dicari setiap orang: kesempurnaan.


Salam sayang dari sisi dirimu yang lain.


Falra.
Read More

07 Juli 2013

beberapa alasan kenapa aku tak mau memimpikanmu

aku tak mau pulang bertemu mimpi
satu-satunya yang nyata di sana hanyalah ketidakpastian
di dunia itu, kaki-kaki kita tak pernah benar-benar berpijak
di negeri itu, kamu tak sungguh-sunggu menyimpan cinta.


aku tak mau kembali memeluk mimpi
di balik bantal takdir dan rahasia merahasiakan dirinya sendiri
lalu dibiarkannya langit menghujankan pertanyaan kepada pagi
aku kemudian menemui kenyataan dan kamu yang tidak sama lagi
kita menjadi ikatan yang tanpa arti


katamu, langit menggantungkan rahasia-rahasia.
kenapa ia disebut rahasia jika semua orang dapat melihatnya 
hanya dengan cahaya dan sedikit tengadah?
bukankah langit begitu lapang?
seperti penerimaan rasa seorang kekasih yang tengah patah hati
aku ingin tetap hidup jauh di luar sana,
 di antara mimpi yang digantungkan langit.

aku tak mau hidup dalam mimpi
di sana hanya ada cinta yang tak pernah sakit
pelukan yang tak mampu diiris luka
karena setiap kali terbangun,
aku akan mengenal sakit dan luka
lebih nyata daripada sebelumnya.


#7sketsalog
Read More

08 Juni 2013

Suatu Sore di Hari Minggu

1
Suatu sore di hari minggu aku menemukan permulaan
Ia sedang duduk di atas rumput dengan matahari memeluk punggungnya
Matahari mengecup pipiku
Matanya menemukan mataku
Mataku menemukan senyumnya
Lalu matahari memeluk aku dan permulaan
Suatu sore di hari minggu aku menemukan kita.

2
Sore di hari minggu selalu menceritakan dirimu
yang tak bisa lepas dari dekapan kertas dan genggaman pena
kau duduk di atas rumput sambil menuliskan sajak yang tak mampu dibahasakan tinta.
Wajahmu dalam kepalaku sepakat menyebutmu sebagai rahasia
lalu rahasia dalam ingatanku menetap sampai senja luput dimakan usia
kau, rahasia dan ingatan dalam kepalaku pelan-pelan
menjelma menjadi cita-cita yang tenggelam dalam sebuah cerita

3
Suatu hari minggu, sore tidak jadi datang
Katanya, Ia terhalang oleh siang yang tak mau pulang
aku memeluk lututku sendiri sambil membaca sajak yang tak bisa didengarkan semesta
tentang sore-sore yang menghijau bersama jumput rerumputan.
tentang kamu yang selalu datang bersama permulaan
dan mata-mata yang kecil dan senyum-senyum yang mungil.
Kau tidak perlu datang. Hari ini aku sudah duduk bersama dirimu yang seminggu lalu.

you know a cat always have a secret even you don't look into it's eyes
4
Suatu siang di hari minggu, aku menunggu permulaan.

Malam menunggu lembayung. Lalu kenangan menunggu untuk dirindukan.

#7sketsalog
Read More

25 Maret 2013

tentang rumah, kata-kata dan kesalahan.

katakan pada tanaman, bagaimana ia memakan pagar / sementara akar-akarnya hanya mengais tanah / tanyakan pada awan bagaimana angin membawanya menghalau bulan / sementara malam yang leluasa menggelapkan bumi. jelaskan pada masa, bagaimana ia menyatakan kebenaran / sementara kebenaran dirajut dari benang-benang kesalahan...


pict from here


dear farah,

kamu pasti tahu kekaguman itu sederhana. kita tidak perlu bertanya terlalu lama pada isi kepala hanya untuk mengagumi sesuatu. toh, kekaguman tidak butuh dimengerti. bahkan pada kenyataannya kekaguman hanya butuk dikagumi. dipesonakan. begitu saja.

maka harus aku katakan, aku terpesona dengan rumahmu. ada banyak kata di berandanya yang tergantung berjejer dengan pita-pita orange. kata-kata itu kemudian berdentang merdu setiap kali ada angin yang berhembus. lalu anak-anak kecil di dalam rumahmu akan mulai berlari ke beranda, kemudian menari, lalu menirukan bunyi kata-kata yang saling membentur di langit-langit berandamu. kamu sepertinya suka anak-anak. aku bisa melihat itu. akhir-akhir ini ada seorang gadis kecil di sana, di berandamu. menatap keluar dengan pandangan yang lucu. ah, anak-anak. mereka selalu lebih menggemaskan saat berdekatan dengan bunga. ah! ya, ada bunga tulip merah di sana, di halaman rumahmu. merambat sepanjang halaman sampai ke pagar. baru kali itu aku melihat tulip yang merambat. benar. harus kuakui, aku suka melintas di sana, di depan rumahmu.

bagaimana aku bisa tahu rumahmu? aku juga lupa tepatnya. aku sudah lupa kapan dan bagaimana awalnya aku bisa melintas di sana, di depan rumahmu. aku punya masalah kecil dengan waktu dan tempat. aku sedikit lebih bisa mengingat peristiwa. bukankah manusia memang begitu. selalu lebih sulit mengingat waktu daripada peristiwa. mungkin karena kita memang lebih memilih peristiwa sebagai hal yang lebih layak untuk diingat daripada waktu kejadiannya. jadi saya hanya mengingat waktu itu ada beberapa kata yang tercecer di jalanan seperti remah-remah roti yang minta untuk diikuti. maka aku mengikutinya, sampai ke sana, rumahmu.

jadilah ketika itu sebagai perjalanan awalku ke rumahmu. aku ingat hari itu hujan, tapi aku masih bisa melihatmu berjinjit di atas kursi. menggantungkan kata-kata yang baru di langit-langit berandamu. aku tak pernah berhenti heran, mengapa langit-langit itu tak pernah kehabisan tempat untuk kata-katamu. atau kenapa rumahmu tak pernah kehabisan kata-kata. hari itu hujan, tapi aku bisa merasakan kehangatan menguap di dalam sana. kamu tahu, perjalanan sederhana itu esok harinya berubah menjadi petualangan yang mendebarkan. lalu petualangan itu, fa, adalah petualangan yang rela untuk saya ulang kembali.

fa,
kita mungkin sama-sama tahu kata-kata bisa menjadi begitu candu. aku tak pernah kecanduan sesuatu yang lebih nikmat dari kata-kata, meski terkadang ia bisa menjadi begitu masam, bahkan getir. jadi kemudian hari aku kembali melintasi rumahmu saat pagi. pelan-pelan aku mengikutimu. berharap kata-kata yang kamu bawa bisa terbaca lebih jelas daripada dipandangi dari luar pagar saat kamu menggantungnya. tapi melihat tak pernah sejelas merasakan. maka pada lintasanku berikutnya aku membawa pena dan dan secarik kertas. aku mencoba menuliskan senyum dan beberapa huruf sapaan lalu ku genggam menjadi bola-bola kertas yang belakangan kusebut sebagai bola-bola senyum. begitulah bola-bola senyum itu sampai ke halaman rumahmu.

tapi berteman dengan tekstuk kata-kata orang lain mungkin memang tidak pernah semudah itu. mungkin bola kertas terlalu sering mengambang di halamanmu sehingga bola senyumku terlihat seperti sampah-sampah yang tak berbeda dengan yang lain.  lalu kamu mungkin mulai berpikir "ah, ini pasti kerjaan pejalan kaki didepan rumah."

fa,
hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, aku melintas rumahmu lagi. ada seorang gadis kecil di sana berdiri sambil memegang kepalanya. matanya menatap keluar pagar entah melihat apa. mungkin menatap jalanan. tapi tidak kutemukan jalanan di sana. kamu telah membuat pagar agar aku tidak bisa berhenti sejenak untuk melihat kata-katamu lagi. ah, sekarang kutemukan sesuatu yang bisa lebih getir daripada kata-kata. penolakan.

tidak, fa. bukan karena penolakanmu yang membuatku menulis surat ini. penolakan hanyalah semacam kekalahan-taruhan terhadap kekagumanku pada kata-katamu. semacam petualangan yang selesai dengan biasa-biasa saja. tak ada yang perlu dituntut. tak ada yang perlu disesali. ini tentang kesalahanku.

lebih dari separuh hari  setelah penolakan itu aku memikirkan kesalahanku. mencari salinan kata-kataku padamu yang mengandung duri atau belati. pikiranku melayang diantara dua pertanyaan "apa salahku?" dan "bagaimana aku meminta maaf?" yang tak kutemukan jawabannya. hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa satu-satunya kesalahanku adalah mengganggumu dengan mengikutimu. mungkin begitu menurutmu.

bukan (lagi). aku bukan mencari kesalahanku untuk menuntut kekalahan terhadap apa yang sudah aku pertaruhkan. aku hanya ingin tahu fa. supaya apa yang salah kulakukan padamu tidak akan kulakukan pada kekagumanku yang lain. supaya aku tidak melakukan kesalahan yang sama di depan rumah orang lain.

"How do i know who I am, if I don't know who I was?" ~ Jack Frost~


kupikir, senyum itu seperti virus. selalu menular sampai seseorang berhenti tersenyum. maka ketika dulu aku menuliskan senyuman padamu, kupikir kamu juga akan menggantungkan senyuman di langit-langit berandamu.

fa,
surat ini bukan untuk meminta kamu mengembalikan jalanan di depan rumahmu. sudah kutanyakan pada diriku apa tentang apa yang aku inginkan. aku mungkin telah menemuka kesalahanku, maka, jika saja kamu membaca surat ini, aku hamya ingin kamu tahu kalau aku meminta maaf, maka pertanyaan keduaku telah terjawab. ya, ini hanya ungkapan maaf tanpa penyesalan. karena saya percaya, kesalahan bukan untuk disesali, tapi untuk tidak dilakukan lagi.


meski pada kenyataannya tidak semua hal bisa disembuhkan dengan maaf, mendapatkan maaf itu melegakan. bahkan jika tak ada hal yang perlu dimaafkan. karena kau tahu, merasa bersalah itu menggelisahkan. --- falra


dengan segala senyum dan maaf.
regards


falra.


PS: :)
PPS: semoga kamu membacanya. dan semuga kamu mengerti.
PPPS: kalau nggak ngerti juga nggak papa.
PPPPS: kalau dibaca mohon tinggalkan kom
Read More

23 Maret 2013

perihal kematian, penyesalan dan kenangan

pict. from here
beberapa hari yang lalu saya terpaksa harus melihat kematian lagi. saya mulai sadar tak bisa lagi menghitung jumlah kematian yang saya lihat sejak menjadi mahasiswa klinik fakultas kedokteran. melihat sesuatu yang awalnya terasa begitu mengerikan berulang kali akan membuatmu terbiasa. begitu juga dengan kematian, (jujur itu bukan suatu hal yang patut untuk dibanggakan). tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah. selalu ada kesedihan yang memilukan. salah satu yang paling memilukan. seberapa pun seringnya melihat kematian, bagi orang yang masih memiliki nurani - bahkan jika kamu buka keluarganya -, selalu ada kepedihan didalam urangan itu yang ikut menangis dan memeluk para sanak yang ditinggalkan satu persatu.

siapa yang bisa menolak kematian? siapa yang siap menerima kematian? pertanyaan itu yang sering kali terbesit di benak saya setiap kali harus dengan terpaksa mengatakan perihal kematian pasien pada keluarganya. pertanyaan yang sebenarnya saya tanyakan pada diri saya sendiri. bagaimana jika suatu saat saya yang ada di tepi tempat tidur pasien, mencoba membacakan syahadat sambil sesekali terisak. siapkah saya? siapkah kita? karena suatu saat, siap ataupun tidak "ia" akan datang.

saya tidak sedang mencoba menakut-nakuti, atau sok menggurui. toh, kita memang sudah tahu perihal tentang kematian. saya hanya berpikir, saat waktu itu datang pada orang yang paling kita sayangi justru kita baru menemukan kenyataan bahwa itu adalah saat terakhir kita melihatnya, dan detik berikutnya beberapa dari kita akan menyadari betapa sedikitnya waktu yang kita luangkan untuk orang-orang yang tidak bisa kita lihat lagi senyumnya.

*

merasa terpisah itu sakit. bahkan meski hanya sebentar. keterpisahan yang lama justru awalnya akan membuatmu lupa. lalu lupa akan membuatmu abai. maka beruntunglah mereka yang tetap setia menjaga kenangan. karena bagi mereka yang telahdipisahkan oleh jarak dan waktu, bahkan dimensi, akan selalu hidup dalam kenangan.

ada banyak hal yang kita lupakan dari orang-orang kesanyangan kita yang telah meninggal. lucunya, kita baru mengingat-ingatnya setelah mereka pergi. saya juga begitu. saya selalu menyesal punya memori yang buruk. ketika saya berumur empat tahun, tante saya meninggal dan saya menyesal tidak punya cukup kenangan  tentang dirinya. saya bahkan sudah lupa wajahnya. yang paling saya ingat justru pada momen menjelang pemakamannya. saya masih ingat bagaimana nenek saya disela-sela tangisnya meminta saya untuk memijit-mijit kaki tante saya. katanya, tante saya sedang lelah. tak bisa berjalan. tiga tahun lalu, om saya juga meninggal. saya selalu lupa minta diajarkan karate. saya ingat rasa sakit saat ia memelintir tangan saya - tentunya hanya main-main - tapi saya selalu lupa cara ia melakukannya.

setahun kemudian kakek saya meninggal. dan saya bersyukur punya banyak kenangan tentang beliau. bagaimana tawanya, bagaimana kikuknya, bagaimana ia menuntun sepedanya ke masjid setiap kali adzan berkumandang, atau bagaimana ia selalu tersenyum. selalu. bahkan saat marah. mungkin saya masih mengingatnya karena ia pergi belum lama. yang saya sesalkan adalah saya sebagai mahluk yang agaknya mengerti kesehatan tidak peka untuk menyadari penyakitnya. dan itu adalah ironi paling menyakitkan dalam hidup saya. maka yang kemudian tertinggal di ingatan saya adalah tentang telpon bahwa kakek muntah darah. sepanjang hidup berikutnya saya berharap tidak melakukan kesalahan yang sama pada siapa pun.

terus mengenang itu tidak mudah. kita harus terus memutarnya berulang kali. seperti film. tapi kita tidak butuh VCD atau file video. yang kita butuhkan hanya benda kenangan. saya seringkali membayangkan bagaimana saya akan bercerita pada anak-anak saya tentang sosok buyut yang tidak pernah mereka kenal melalui sepedanya. saya membayangkan mereka akan bertanya "pa, kakek buyut itu seperti apa?" lalu saya akan mulai bercerita. pada saat yang bersamaan, saya bisa tetap menjaga kenangan saya tentang kakek saya.

*

siapa bilang "jangan menengok ke masa lalu" itu selalu benar? butuh keberanian dan ketegaran untuk mengingat masa lalu supaya tetap sadar darimana kita berasal dan kemana kita akan melangkah serta sudah sejauh mana perjalanan hidup kita. mengenang bukan suatu pekerjaan yang sia-sia. ada pelajaran di balik kenangan. lalu, dari kenangan seseorang bisa hidup lebih lama daripada umurnya. tapi lebih dari itu, karena kenangan, kita tetap bisa menjadi manusia. mahluk yang memiliki akal dan pikiran.

jadi seberapa banyak kenanganmu dengan ayahmu? dengan ibumu? dengan anakmu? dengan kekasihmu? karena saat mereka pergi tak ada lagi yang bisa menemanimu selain kenangan mereka. seberapa sering kamu menatap wajah mereka? karena suatu saat nanti ada masa dimana kamu akan lupa pada wajah mereka, pada senyum mereka, pada tawa mereka, kecuali kamu masih memiliki kenangan.

saya percaya, mereka yang mau mengenang adalah orang-orang yang menghargai masa lalu sebagai sesuatu yang masih layak untuk dipeluk.
~Falra
Read More

03 Februari 2013

its a blog(lett)er

err,
hai.

sudah hampir dua trimeser saya alpa dari blog ini. dan untuk itu saya harus minta maaf pada blog saya. (maaf ya, buddy!). segala urusan koas itu seperti plester yang membungkam jemari saya untuk menulis lagi. lebih dari itu, untuk pikiran saya. indera penulisan saya jadi tumpul. membaca cerita-cerita pun jarang, jadi nggak ada "trigger" untuk menulis lagi. ya, sebagian pemicu tulisan saya ada pada bacaan-bacaan saya, dari blog-blog, anda para pembaca. dari cerita-cerita anda, cerpen-cerpen anda, sajak, serta puisi anda.

jadi saat ini - sebelum tulisan ini tambah ngelantur, dan berhubung malam ini saya nggak bisa ngopi - untuk menjaga blog dan imajinasi saya tetap hidup, saya akan kembali menulis. seperti orang sakit yang harus tetap makan meskipun rasanya nggak enak. bahkan jika saya akan terlambat untuk dinas esok pagi, saya harus menuliskan curhat singkat ini.

regards,

falra.


Read More

29 Oktober 2012

dialektika rasa


mungkin kita sudah dilelahkan waktu untuk saling merindukan. ya, waktu. entah bagaimana, tapi kita bagai domba-domba yang digiringnya mendahului masa depan dan mendulukan kenangan. hingga pada masanya nanti jika kita bertemu aku dan kamu hanyalah sebatas situasi deja vu yang biasa. kamu hanya akan berkata "hai" dan aku hanya akan membalas "hei" lalu mata kita akan bertaut sepanjang aksara h dan i yang sama pada hai-hei yang sejenak.

Pict. from here

suatu ketika saat Richard Clayderman memainkan simfoni Mariage D'amour di dalam kamarku, nada-nadanya menemukan dirimu di sudut kepalaku yang paling dulu lalu menangis lewat telingaku. maka setelahnya kita adalah sepasang kekasih yang disatukan oleh kesedihan. sungguh pahit. kepahitan yang lebih terkecap dibanding saat kita memutuskan untuk memilih kebersamaan yang bukan antara kamu dan aku. suatu kebersamaan yang membuat kata "kita" menjadi sesuatu yang maknanya tidak spesial lagi. kita-kita yang lain.

***


sepertinya kamu juga sudah menemukan dirimu yang dulu secepat kamu kehilangan bebanmu. entah bagaimana menyebutnya. bagiku mungkin itu adalah kerelaan yang miris. atau ironi yang progresif persisten. aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama terhadapku. kamu mengironikan kecupan malam yang tidak jadi kamu miliki dan memiriskan pelukan yang lupa meninggalkan kepastian. maaf.

ternyata rasanya begini, memiliki hati yang setengah terisi. setengah sisanya hanya kata-kata yang menguap bersama ketika yang lalu. aku jadi pelit membagi cerita. merasa terlalu naif untuk meninggalkan. aku menjadi raga yang dilepaskan masa. elektron yang dilepasakan dari revolusinya. Beast yang dilepaskan dari The Beauty dan sepaket dongengnya.

jadi disini lah kita. di ujung jalan masing masing. menunggu - atau lebih tepatnya berharap pada - suatu ketika yang nanti kita tiba di simpang yang sama untuk kemudian melanjutkan kekitaan yang sebelumnya dilelahkan waktu.

***
 
suatu masa yang dulu,
ketika wajah dunia masih karib dengan waktu,

kita adalah ilusi dalam kebimbangan yang sunyi,
mengeja rindu,
menguji cinta

suatu kini yang baru,
saat waktu dan dunia memisahkan wajah,
kamu dan aku masih menembangkan sepi,
mengejar rindu,
mengajar gulana.
Read More

31 Agustus 2012

surat rindu pertama

Pict from here
1 September 2012

lagi
lagu dari radio telah membawa kamu
beserta aroma rambutmu
melayang melewati lembayung
hingga menenggelamkan aku bersama sesuatu yang dulu
kita ciptakan

kita menyebutnya kenangan

dear Kila,

entah bagaimana aku memulainya. apa kabar menjadi terlalu klise bahkan canggung untuk kita yang telah bersama selama duapuluh kemarau. tapi tetap saja aku hampir mati untuk mengetahui kabarmu. apa kabar, sayang?
seperti yang kau tahu, ini surat pertama yang aku tulis -- dan pastinya surat pertama yang kau terima jika kau sudah membacanya -- semenjak jarak benar-benar menjauhkan aku darimu, semenjak waktu menjadi terlalu naif pada saat-saat kerinduanku, mungkin juga kerinduanmu. ya, aku merindukanmu, Kila. lebih dari aku merindukan hujan yang katanya tak pernah lagi mengunjungi ladang kita. lebih dari aku merindukan atap beranda rumah kita yang bocor lalu saat hujan turun kau akan menadah ember seraya menggerutu padaku untuk segera memperbaikinya. ah, kau nampak selalu manis, bahkan saat menggerutu. tapi aku lebih merindukan dirimu daripada kenangan tentangmu.
Kila, apa kau merindukanku juga?


aku telah membungkus kota
kutitipkan bersama kata
yang kutuliskan dengan tinta kita

kau dan aku menyebutnya rindu

Kila,
apa kabarnya rumah kita? apa masih seperti dirimu? karena senyata apapun rumah kita, tetap saja tempat pulang yang aku rindukan itu adalah dirimu. rumah di sini penuh kesedihan. aromanya malang saat siang dan rona-ronanya kelam saat malam. ada begitu banyak keegoan yang  mengambang keluar dari jendela-jendelanya. kau jangan datang ke sini, ya! rumah di sini menjadi tempat yang terlalu sempit. cinta kita tidak akan muat di dalamnya. sementara, biarkan saja cinta itu terikat pada benang merah yang masing-masing ujungnya menyimpul di jari kelingking kita. tak habis pikir aku membayangkan panjangnya untaian cinta kita, melewati pekarangan kita, melewati hutan, melewati bahari, hingga ke kotaku.

eh? apa kabarnya pohon Kenanga yang kau tanam di pekarangan kita? aku rindu juga padanya. kau biasanya akan menyiraminya dengan kenangan. maka ia tumbuh menjadi masa lalu yang selalu bisa kau dan aku pandangi sambil menikmati semangkuk es serut. mesranya. di kota ini tak ada pekarangan, Kila. wajahmu akan langsung menatap keriuhan, kekeruhan, atau bahkan kerusuhan yang menggembel di tengah jalan. tak ada kehangatan mentari yang rela mengunjungi pagi di kota ini, maka pagi hanya akan menjadi subuh-subuh yang tertunda dimana pria akan lupa mengecup kekasihnya demi pekerjaan. dirumah yang aku tempati ini hanya ada sebuah pot tembikar dengan tanah kering yang cuma bisa kutanami fotomu. berharap-kalau-kalau ia bisa tumbuh menjadi sekuncup senyummu yang bisa ku kecup setiap hari.

lalu, apa kabarnya senyummu? masihkah ia menyimpul simetris seperti ketika aku menjadi alasannya? senyumanku adalah satu-satunya yang bisa kusisakan untukmu, Kila. kota ini telah mengambil semuanya. bahkan sekecup perpisahanmu di pipiku juga sepeluk perpisahan yang ku celengkan di laci lemari. ah, aku rindu mempertemukan senyum kita.

Makila Aristiana,
ah, betapa nikmatnya mengeja namamu. hal paling nikmat yang bisa kulakukan saat dahaga dijejalkan dalam pekerjaanku. sabar ya. aku pasti akan pulang. tapi mungkin tidak dalam waktu dekat.
semoga bintang-bintang selalu menjagamu.

salam sayang,
kekasihmu,

Wikara

PS: balaslah segera.
PPS: dengan ini kutitipkan sebuah lagu dalam kaset yang dinyanyikan band kesukaanku. judulnya "bertahan disana". bertahanlah, Kila.
PPPS: kirimkan aku lagi fotomu...
Read More

24 Agustus 2012

Dongeng Permohonan dari Alam Mimpi

  • Pict from here

    Kepada Gula.
    kudengar dirimu sedang sakit. sebuah hal yang biasa terjadi pada kita, manusia. namun dibalik hal yang biasa, aku tahu kau punya kebiasaan yang tidak biasa. kebiasaan itu, yang percaya atau tidak sepertinya membuatmu tidak enak badan. Bila malam bahkan telah menjadi terlalu buta, kau masih belum mau memejamkan mata. Maka setenang apapun diriku, aku tak bisa memendam kekhawatiran akan kebiasaanmu. Jangan lakukan itu, manis. Kau sedang sakit. orang sakit butuh istirahat, butuh tidur. akitvitas bukanlah pilihan yang bijak untuk siapa pun yang sedang terkulai sepertimu.

    Gula, tahukah kau apa yang terjadi pada mereka yang keras kepala dan menjadi lupa pada kewajiban mereka saat malam menggantung? lupa tidur.
    Akan kuceritakan – kudongengkan tepatnya – padamu.

    Ini adalah cerita sahabatku yang baik hati. Namanya Tuan Pengelana Mimpi. Penjaga Alam Mimpi yang diciptakan oleh Oneiroi, dewa-dewa Alam Mimpi. wujudnya seperti anak lima belas tahun dengan baju berwarna hijau bermotif Cypress yang selalu tersenyum pada manusia yang melompat ke portal Alam Mimpi. seperti sosok di film yang dulu pernah kau tonton, Peter-pan mungkin, hanya sedikit lebih besar. Ia ditugaskan untuk menemani kita, para pemimpi selama berada di Taman Bunga Matahari Cebol, sebuah taman bunga matahari setinggi lutut orang dewasa yang terhampar luas. Serupa langganan, entah bagaimana, ia akan mengingat kita satu-satu. lalu, ia akan mereka-reka kapan biasanya kita akan melompat ke portal. Dan setelah mendengar Induk Pagi berkokok ia akan menebar Serbuk Vanisha di kepala kita. supaya kita menjadi lupa dan tidak bosan untuk datang ke taman dan bermain bersamanya. itulah mengapa kita tidak ingat apa yang kita mimpikan saat malam dan menggantinya dengan proyeksi memori-memori masa lalu kita.

    Selain baik hati dan murah senyum, Tuan Pengelana Mimpi sebenarnya sedikit egois. Ada hal lain yang tak pernah lepas dari ingatan Tuan Pengelana Mimpi ketika ia menemukan orang-orang yang masih terjaga hingga jarang menemuinya dalam Taman Bunga Matahari Cebol. Kau misalnya. Kau tahu, ia seolah mencari-cari cara agar kau mau menikmati alam mimpi bersama lebih lama dari biasanya. Maka ia membuatmu lemah, agar kau tak pernah jauh-jauh dari portal penghubung antara kau dan dia. Di dunia kita biasa menyebut kelemahan itu sebagai Sakit, dan portal itu disebut Tidur. Setiap kali Tuan Pengelana Mimpi tak mendapatimu di portal itu lebih awal, ia akan kecewa. Kekecewaan yang menumpuk membuatnya menjemputmu melewati portal, membawa Serbuk Sari Bunga Kaktus Mimpi dan menyebarkannya di atas kepalamu agar darah dikepalamu berdenyut deras dan kau merasakan kehangatan yang berlebih. Sekarang kau tahu kan kenapa kau merasa demam? Serbuk Sari Bunga Kaktus Mimpi itu nantinya akan tumbuh menjadi bitik-bintik merah di tubuhmu hingga kau akan terlihat seperti kaktus yang dicabuti duri-durinya. setelahnya ia akan menumpahkan air Ingazu yang kental yang diambilnya dari telaga di alam mimpi ke dalam hidungmu. kau juga tahu kan apa yang kau lakukan saat hidungmu penuh dengan cairan itu? kau akan butuh tissue yang sangat banyak. Ya, begitulah cara Tuan Pengelana Mimpi membawamu kembali padanya. Dan itu akan sangat lama sebagai ganti waktumu bersamanya yang kau alpakan.

    Kau mungkin tahu aku tak bisa menyembunyikan kekhawatiranku pada apa yang terjadi. Ya, itu terlalu tak terlihat sebagai sesuatu yang wajar. Maka aku menunggu alasan-alasan untuk mendatangimu, alasan yang semoga tak membuat seseorang sepertimu merasa risih. Kadang aku berpikir bahwa aku memang seorang yang bodoh yang mengharap pada khayal-khayal yang diceritakan Tuan Pengelana Mimpi, tapi menjadi bodoh bukan salah satu alasan untuk berhenti melihat senyum dari balik selimutmu. Sebenarnya, ia banyak bercerita padaku. Setiap ia mengunjungi portalku, ia selalu menyempatkan diri menenggak sedikit teh yang kuseduh. Setelah mengecap sisa teh di lidahnya, ia mulai mengeluh tentang kau yang melupakannya. Betapa ia selalu menantikanmu dan kau baru terpejam ketika terpaksa ia menyewa Dewi-Dewi Kantuk untuk duduk di pelupuk matamu – akan kuceritakan tentang dewi-dewi itu lain kali jika kau penasaran. Tapi kini , kepercayaan Oneiroi padanya mulai menipis sehingga ia dilarang menjemput manusia melewati portal. Maka untuk membawamu ke portal, ia harus diam-diam melanggar Undang-Undang Ketertiban Tidur tentang Batas Wilayah Alam Mimpi. Kau pasti begitu menawan hingga seorang Pengelana Mimpi rela berbuat begitu. Ya, sepertinya kau memang.

    Begitulah kisahnya. sstt! jangan cerita pada orang lain ya, nanti alam mimpi menjadi tidak menarik lagi.

    Yang ingin kukatakan adalah, tolong! Jangan memaksa dirimu berlebihan. Jangan membuat seorang Pengelana Mimpi melakukan cara lain untuk membuatmu menemuinya. Kau tak menganggap dirimu begitu? Dari mana aku tahu? Oh ya. Tentu saja Pengelana itu yang memberi tahuku. Kau ingat kan, setelah mengecap sisa teh dilidahnya, ia mulai mengeluh tentang kau yang melupakannya. Katanya kau terlalu sibuk. Kau begitu giat di dunia yang kita hidupi. Yang kuminta, tolong, jangan membuatku khawatir lagi, kumohon.


    Begitukah menurutmu? Aku terlalu Khawatir?


    OK, baiklah. Kekhawatiranku adalah salahku, aku menyadarinya. Sesaat kemudian aku berpikit aku tak peduli jika kau tak menghawtirkan kekhawatiranku, tapi dunia ini penuh dengan orang yang peduli padamu dan sepatutnya kau peduli pada kekhawatiran mereka. Ikutilah kemana Tuan Pengelana Mimpi mengajakmu berkelana di dalam Padang Bunga Matahari Cebol. Jika kau sudah bertemu dengannya, sampaikan salam dan terima kasihku padanya.


    Semoga cepat sembuh, Gula.
Read More

11 Agustus 2012

Borea


16 Juni 2011

mulai malam ini aku akan pura-pura pernah khilaf terjerembab dalam melankoli/menemani kesadaranmu yang berkabut tentang sudut bibir yang menyimpul melewati piguranya/ hingga aku benar-benar menjadi lupa pada potongan-potongan hari dimana keindahan dirimu tersimpan/lalu kita akan menua bersama keterasingan/ke-masing-masing-an/dalam sisa-sisa sajak yang akhirnya aus oleh angin dingin utara/angin borea.

dear Diza,
sejak sedepa demi sedepa jarak antara kita melebar, sejak telah ada masa jeda yang terlalu lama dalam momen pertemuan, aku telah mulai kehilangan harapan pada akhir kebersamaan jejak kita, atau jika aku tidak ingin merasa tersakiti, aku akan merasa sengaja memendam harap. lalu di waktu-waktu berikutnya aku akan sudi berkawan dengan dengan lupa, dengan kecewa, dan dengan semua negatifisme yang kuyakini. namun sekuat apapun aku mencoba, aku akan selalu mengenang. karena untuk menjadi lupa pada sesuatu kita harus mengenangnya, mengingat bahwa sesuatu itu harus dilupakan. "aku harus melupakan dirimu," pikirku. maka secara spontan aku akan mencari-cari riak dirimu di kenanganku yang paling keruh sekali pun untuk kulupakan. jadi, menurutku, tak ada orang yang secara sadar akan mampu menjadi lupa pada kenangannya. yang ia lakukan hanyalan menimpa atau menutupi kenangan itu dengan kenangan yang baru. maka jika aku belum mampu mencari "gambar lain" untuk mengaburkanmu, kau akan selalu ada dengan bekas-bekas harapan yang seumpama bekas luka. dan itu sangat menyiksa. sungguh.

apa yang kau yakini tentang sebuah harapan?
saat yang telah lama dulu, pernah kudengar seseorang ditanyai tentang bagaimana ia mengartikan sebuah harapan. katanya, "harapan adalah masa depan." namun, saat masa depan telah mengambil kekasihnya, maka masa depannya menjadi masa depan yang paling tidak ia harapkan. masa depan yang paling mengecewakan. katanya kemudian, "harapan adalah keinginan untuk melanjutkan masa depan."

harapan selalu tentang keinginan. ya. keinginan-keinginan yang begitu membuncah akan menjelma menjadi harapan, Za. apa yang kau harapkan tergantung pada apa yang akan kau lakukan dengan harapan itu. itulah sebabnya ia selalu ditempatkan pada masa depan. agar kau bisa mempersiapkan dirimu menggapai apa yang kau harapkan. untuk apa? untuk menemukan kebahagiaan. jika seseorang berharap menjadi kaya maka ia harus mulai berusaha sejak sekarang.

tapi apa selalu begitu? apa selalu keberadaan harapan yang menentukan besar usaha? "Harapanlah satu-satunya santapan bagi mereka yang sedang ditimpa kemalangan," kata Thomas Jefferson. ia mungkin benar, mungkin juga tidak. seseorang dengan penyakit yang ganas mengandalkan harapan untuk mendorongnya berobat dan sembuh agar ia bisa menggapai masa tuanya. ia akan berusaha. lalu ketika keletihan menjadi batas antara diri dan usahanya, secara perlahan mungkin ia akan kehilangan harapan. ia akan menjadi orang yang paling menyedihkan menurutnya. mungkin juga tidak. kau mungkin tak tahu, ada orang-orang yang pantang menyerah meski ia tahu tak ada harapan yang tersisa untuknya.

Diza,
Tidak peduli betapa berbahagiannya seorang wanita yang sudah menikah, dia selalu senang mengetahui bahwa ada seorang pria yang baik yang berharap dia belum menikah. tapi sang pria tak melakukan apa pun. ia hanya berharap. seperti halnya orang-orang lain yang meyakini ke-tidak-berkuasa-an mereka hingga pada akhirnya mereka hanya bisa berkata, "kami hanya mengharapkan yang terbaik untukmu." harapan yang terdengar begitu lirih. harapan yang lebih pantas disebut sebagai angan. pada akhirnya, harapan juga tak lepas dari percabangan baik dan buruk.

Harapan dapat menjadi sebuah kekuatan supaya kita terus berpegang pada sesuatu yang seharusnya sudah kita lepaskan, ketika intuisi kita juga mendukung supaya kita melepaskan hal itu. Harapan dapat menjadi penjara. Harapan dapat membuat kita percaya bahwa tidak ada satu halpun yang bisa kita lakukan sehingga kita harus duduk diam dan mengharapkan yang terbaik.

yang sebenarnya ingin kukatakan, Za, segala macam harapan itu tak pernah memiliki makna yang senada dengan sekedar keinginan biasa, yang sepintas terlontar dan lewat begitu saja dalam setiap percakapan kita. namun seperti kebahagiaan, ia memilik makna yang khas. yang tak perlu pengungkapan untuk menyatakannya. yang ia butuhkan hanya sebuah awal untuk memulai dan sebuah titik tuju di masa depan sana.

bagiku, sebuah harapan adalah sesimpul senyum yang kau untaikan untukku. titik tujuku ada pada dahaga rindu yang terhapus saat pertemuan kita. harapanku ada pada kenyataan dimana kau akan bahagia disampingku seperti aku bahagia disampingmu.

bagiku, harapan masa depanku hanya tertaut pada kebahagiaanmu. pada anganku. sejujurnya, bagiku, Diza, harapanku terletak pada betapa indahnya dirimu saat kau masih bertahan memandangi malam yang membosankan bersamaku, dulu. harapan terbesarku terletak pada masa lalu dimana suara paraumu mengucap "terimakasih." di momen-momen seperti itu, entah bagaimana, kurasa harapanku adalah kau.

Pict. from here
maka biarlah angin borea menerbangkan harap yang tergerus menjadi butir-butir angan/meletakkan kita pada setapak yang bercabang/sampai pada saat kita berhenti untuk saling memandang/ maka biarkan ia berhembus/ dan memecah kita menjadi hanya kau dan hanya aku...
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.